
Lagi lagi ayah berusaha meminta maaf kepada ku dan juga nenek, ayah bahkan mencium kaki nenek, tapi nenek tetap tidak merespon nya...
" Ibu, aku tau apa yang sudah aku lakukan itu sangat salah, mohon maaf kan aku buk, nak... Ayah tau ayah salah nak,waktu itu ayah khilaf maaf kan ayah, ibu tolong maafkan aku " ucap ayah sambil bersujud di hadapan kami.
" Ayah bilang khilaf? tapi masih ingin menikahinya? apa ayah gila? ingat yah jangan harap aku akan datang apalagi menyetujui nya, sampai mati pun aku tidak akan menyetujuinya " ucap ku sekali lagi kepada ayah.
" Ayah berjani nak, ayah akan menebus segala kesalahan yang sudah ayah lakukan di masa lalu, tolong maaf kan ayah nak " ucap ayah.
Aku dan nenek hanya diam dan tidak ingin merespon pertanyaan dari ayah, sedangkan ayah terus menangis dan memohon kepada kami........
" Sudahlah emosi ku sudah tidak baik, lebih baik kau pergi dari sini " ucap nenek yang sudah sangat lelah dengan ayah.
" Tapi tolong maaf kan aku bu, maaf kan ayah nak tolong " ucap ayah lagi.
Dan aku benar benar tidak bisa memafkan ayah, ayah benar benar sangat kejam, tega mengkhianat ibu yang sudah sangat mencintai ayah, bahkan wanita gila itu juga tidak tahu diri.
Ibu yang selalu menyemangati nya ketika ia terpuruk karena ditinggal pacar nya meninggal tapi apa balasan nya? dia malah merebut suami teman nya sendiri.
Mereka berdua benar benar jahat dengan ibu ku dan aku tidak bisa memaafkan nya, aku sudah sakit hati dengan apa yang sudah ayah lakukan.
Bayangkan selama ini ibu menyimpan nya sendirian? bahkan aku juga merasa bahwa itu tidak sayang kepada ku karena sibuk bekerja! tetapi ternyata aku salah besar! aku benar benar menyesali nya.
Aku benar benar menyayangi ibu dan aku tidak ingin melihat ibu terluka lagi dan aku akan membuat perhitungan pada ayah dan juga wanita itu.
Aku mengajak nenek untuk beristirahat di kamar, dan aku menyuruh dengan paksa agar ayah kembali dan pergi meninggalkan rumah nenek.
.
.
.
Aku mencoba menelfon ibu, menanyakan apakah dia sibuk atau tidak. karena aku sangat merindukan ibu.
" Tuuuttt.... tuttttt... " aku mencoba menelfon ibu dan ibu langsung menjawab nya.
" Iya sayang, ada apa? " tanya ibu kepada ku.
" Ibu sibuk kah? kapan main kerumah nenek? " tanya ku pada ibu.
" Ibu baru pulang kerja dan memang rencana nya mau kerumah nenek, buat liat kamu dan liat nenek juga " ucap ibu yang membuat ku bahagia .
" Benarkah? ibu hati hati yah, aku akan menunggu ibu, hehe oke " ucap ku pada ibu.
" Iya sayang, ya sudah ibu siap siap dulu yah, tunggu ibu " ucap ibu membuat aku bersemangat.
Ibu kemudian menutup telfon ku, dan aku sedang menunggu kedatangan ibu, dan nenek sepertinya tertidur di kamar nya.
Perasaan nenek benar benar hancur melihat anak nya seperti itu, sedangkan aku juga sangat membenci ayah sama seperti nenek.
Sambil bermain handphone dan duduk di depan Tv, kemudian ibu datang aku langsung membuka kan pintu untuk nya.
" Assalamualaikum nak " ucap ibu dari balik pintu.
" Wa'alaikumussalam buk hehe " ucap ku sambil membuka pintu dan memeluk ibu.
" Kamu sudah makan nak? nenek gimana sudah makan? " tanya ibu dengan penuh perhatian.
" Iya buk sudah, nenek lagi tidur dikamar nya " ucap ku pada ibu.
__ADS_1
" Ibu liat nenek dulu yah nak " ucap ibu sambil berjalan ke arah kamar nenek.
Ibu ku sangat menyayangi nenek, ibu menganggap nenek seperti ibu nya sendiri bukan sebagai mertua nya, padahal ayah dan ibi sudah bercerai tapi ibu tetap menghormati nenek.
Begitu juga dengan nenek, nenek sangat menyayangi ibu, bahkan melebihi ayah ku, ditambah lagi ayah sudah membuat nya sangat kecewa.
" Buk, gimana kabar ibu? " tanya ibu pada nenek.
" Loh kamu dateng yah, ini ibu sesak nafas " ucap nenek sambil memegang dada nya.
" Kenapa bisa sesak nafas buk? ayo minum dulu " ucap ibu sambil menolong nenek agar bisa duduk dan memberikan segelas air putih.
Nenek pun meminum air yang ibu berikan pada nya, kemudian nenek langaung menceritakan apa yang terjadi sebelumnya yang membuat dia bisa sesak nafas seperti ini.
" Kamu tau, ayah diana tadi datang kesini dan mengatakan bahwa persiapan pernikahan nya sudah hampir siap " ucap nenek.
" Hari ini dia datang? dia bilang di depan diana buk? " tanya ibu pada nenek.
" Iya bahkan aku memberitahu dia apa yang aku tau di masa lalu, apa yang sudah dia lakukan pada mu dan juga diana ikut bicara tadi diana mengatakan bahwa dia sangat membenci ayah nya dan tidak akan merestui nya menikahi wanita itu, sampai kapan pun " ucap nenek sambil menangis.
" Ibu harus tenang, jangan menangis seperti itu " ucap ibu sambil memegang tangan nenek.
Dan aku hanya berdiri sambil menetes kan air mata, aku melihat ibu adalah wanita yang sangat hebat ia mampu menutupi kesedihan nya, dan berusaha menenangkan nenek.
" Kenapa anak ku bisa seperti itu, aki menyesal sudah melahirkan anak seperri itu, jika ayah nya melihat pasti dia juga akan hancur seperti ku, maafkan ibu yah nak atas perbuatan dia yang sangat jahat kepada mu " ucap nenek yang terus menangis sampai dada nya sangat sesak, nenek kesulitan untuk mengatur nafas nya karena sudah terlalu emosi.
" Sabar buk, ibu istighfar, yah jangan seperti itu " ucap ibu sambil memberikan air kepada nenek.
Aku juga langsung mendekati nenek dan menyuruh nenek untuk tetap tenang.
Tapi nyata nya tidak berhasil, nenek bahkan pingsan dan tubuh nya sangat dingin, ibu dan aku sangat panik, ibu menyuruh ku memanggil paman di sebalah rumah untuk membawa nenek kerumah sakit.
Setelah aku memangil paman dak bibi di sebelah, nenek pun bisa di bawa kerumah sakit, dan selama di perjalanan nenek masih belum sadarkan diri, aku dan ibu benar benar sangat panik.
" Terimakasih yah mbak " ucap ibu kepada bibi itu.
" Tidak perlu makasih, tolong jaga nenek yah, jika ada perlu apa apa hubungi saja kami " ucap paman itu sambil tersenyum.
Untung lah kami memiliki tetangga yang sangat baik seperti mereka.
Selagi menunggu dokter memeriksa nenek, kami duduk di luar ruangan kami berdoa untuk kesehatan nenek, ibu sambil memeluk tubuh ku.
.
.
.
Setelah 20 menit kami menunggu dokter pun keluar dan mengatakan bahwa serangan jantung nenek kumat dan untung dengan cepat membawa nya kerumah sakit, jika tidak nenek akan mengalami stroke.
Aku dan ibu langsung masuk ke ruangan untuk melihat ke adaan nenek.
Aku menangis melihat nenek seperti itu, ini semua salah ayah, dan aku makin membenci nya.
" Selamat siang ibu, ibu wali pasien yah? tolong untuk melakukan registrasi terlebih dahulu bu " ucap suster itu pada ibu.
" Iya suster, terimakasih yah, nak kamu jagain nenek yah ibu mau ke administrasi dulu " ucap ibu kepada ku.
" Iya bu " jawab ku sambil memegang tangan nenek.
__ADS_1
Aku terus berada di samping nya, nenek sudah sadar kan diri tetapi belum bisa bicara apa apa karena ada alat di mulut nya.
" Nenek diam saja jangan bicara apa apa, ada aku disini, dan ibu sedang mengurus administrasi " ucap ku sambil membisikkan nya ditelinga nenek.
Nenek hanya mengangguk dan memegang tangan ku dengan erat.
Sekitar 10 menit ibu datang dan sudah menyelesaikan proses administrasi.
" Ibu sudah sadar? ibu jangan memikirkan apa apa, cukup istirahat saja yah " ucap ibu sambil mengusap kepala nenek dengan sangat perhatian.
Kemudian nenek hanya mengangguk dan terus menatapi aku dan ibu.
Suster menyuruh aku dan ibu untuk menunggu di luar karena, waktu menjenguk sudah selesai dan waktu nya nenek untuk beristirahat.
" Ibu, adik, waktu menjenguk sudah selesai yah, dan waktu nya pasien untuk istirahat " ucap suster itu.
" Iya suster " ucap ibu dengan sangat manis.
" Nek kami tunggu di luar yah nanti kalau boleh masuk lagi kami bakal masuk " ucap ku pada nenek.
Dan nenek pun mengangguk.
Aku dan ibu menunggu di liar, kami duduk di kursi depan ruangan nenek, kemudian ada seorang paman dan bibi yang duduk juga disebelah kami.
Aku dan ibi mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
" Kasihan sekali dia, sampai sekarang juga belum sadarkan diri " ucap bibi itu kepada suami nya.
" Iya, sudah hampir 3 bulan dia koma, aku kasihan kepada orang tuanya " ucap paman itu.
Ibu ku sangat penasaran, akhirnya ibu menanyakan kepada paman dan bibi itu apa yang terjadi.
" Permisi mbak, ada apa kalau boleh tau? " tanya ibu dengan sopan.
" ini, diruangan ini ada keponakan kami yang sedang koma, ibu nya itu adalah adik suami ku, anaknya sudah koma hampir 3 bulan akibat kecelakaan " ucap bibi itu.
" Ya ampun, semoga lekas sembuh yah mbak keponakan nya dan untuk keluarga nya semoga di berikan kekuatan dan kesabaran " ucap ibu.
" Iya makasih yah dik, kalian menjenguk siapa disini? " tanya bibi itu.
" Ibu ku sakit, jantung nya kumat, baru hari ini ia masuk " jawab ibu.
" Oh begitu, ini anak mu yah? " tanya bibi itu sambil menunjuk ke arah ku.
" Iya mbak ini anak ku " ucap ibi sambil tersenyum.
Aku juga memberikan senyuman pada paman dan bibi itu.
Kemudian paman dan bibi itu masuk kedalam ruangan keponakan nya.
Dengan penasaran aku pun pengintip melalu kaca pintu itu yang sedikit terbuka.
" Bu, orang tua nya terus menangis, sepetinya dia laki laki bu " ucap ku pada ibu.
" Orang tua nya pasti sangat terluka melihat anak nya seperti itu, semoga tidak terjadi di keluarga kita yah " ucap ibu sambil memegang tangan ku.
" Iya bu, amit amit kah, semoga dia cepat sadar agar keluarga nya tidak sedih terus terusan seperti itu " ucap ku pada ibu.
" Iya nak, kita hanya bisa berdoa saja " ucap ibu.
__ADS_1
Kami masih menunggu nenek di luar dan ibu juga sudah menghubungi kantor nya, ibu meminta libur selama 3 hari di kantor dan sudah disetujui oleh bos nya. ibu ingin menemaniku menjaga nenek.
Dan kami belum menghubungi ayah masalah nenek masuk rumah sakit, kami harus minta persetujuan dulu dari nenek, takut nya ia tidak setuju dengan kehadiran ayah disini........