
Setelah menemui Gadis yang masih belum sadar karena pengaruh obat bius total, kini Yudi menemui kedua bayi kembarnya di ruang ICU, hanya orang tua bayi yang boleh masuk, yang lain diperbolehkan melihat di jendela khusus.
Yudi memakai atribusi yang diberikan suster baju steril.
Kini Yudi berada tepat di depan inkubator ke dua bayi kembarnya yang bersebelahan, kedua bayi itu terlihat sehat dan tenang, tidak ada yang menangis.
Seakan keduanya mengerti kondisi mamanya yang telah bertarung nyawa demi mereka, suster membuka inkubator si bayi tampan agar Yudi bisa mengazaninya, setelah itu bergantian dengan si bayi cantik.
Suara Yudi membuat keduanya bergerak merespon setiap alunan azhan yang di kumandangi Yudi, sepertinya mereka mengenal suara Yudi.
Saat meraka masih di dalam kandungan, Yudi selalu berusaha azhan dan mengaji walaupun lewat video chat.
"Tumbuhlah menjadi anak yang kuat cerdas dan mandiri anak-anakku, doaku dan mamaku, semoga kelak kalian menjadi anak shaleh dan shalehah" Yudi berbicara pada kedua anaknya.
Walaupun mereka belum bisa bicara tapi mereka punya telinga untuk mendengar doa papanya.
***
Di tempat lain Angel sangat marah mengetahui Gadis dan kedua anaknya masih baik dan sehat-sehat saja. Hampir seharian dia mengurung diri di dalam kamar demi mencari ide jahat yang lain lagi.
"Kamu kenapa sayang"
"Mama... bagaimana bisa masuk" Angel kaget dan kesal dengan kedatangan mamanya
"Kamu lupa...ini rumah mama, setiap pintu di rumah ini mama yang pegang kunci cadangannya" Mama Angel kesal dengan cara Angel mempertanyakan bagaimana mamanya bisa masuk kekamarnya
Angel yang menyadari kemarahan mamanya langsung minta maaf. Tapi dia tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi, dia berniat membohongi mamanya.
"Sudahlah...lupakan saja" mama Angel tidak ingin membahas kekesalannya " kamu kenapa..seharian mengurung diri? tanya mama Angel
" Irfan menghungin mama, katanya dia tidak bisa menghubungi kamu dari tadi" berita mama Angel lagi
"Ma...aku tidak mau tinggal di paris dengan Irfan"
"Kenapa.. tidak mau, ingat Angel dia akan jadi suami kamu, sudah sepatutnya kamu berada dimana suamimu berada"
"Iya aku tau...tapiii"
"tapi apa?"
"Aku bosan jika harus kembali menetap di sana"
"Sebaiknya kamu bicakan itu dengan Irfan sebelum kalian menikah"
Angel pura-pura mengangguk seolah dia sudah mengerti arahan mamanya.
__ADS_1
"Maaf ma...aku kembali membohongi kamu " Batin Angel " Tapi apapun yang terjadi aku harus bisa membuat Gadis untuk tidak bahagia" tersenyum sinis
***
Seminggu kemudian kabar yang tidak pernah diduga datang mematahkan setengah hati Gadis
"Tidak... itu tidak mungkin..bagaimana bisa anakku meninggal"
Gadis histeris mendengar berita kematian putri kecilnya yang diberi nama Azzahra Putri Yuga.
"Sus...suster tidak salah memberi info kan?" tanya Yudi sambil menenangkan istrinya Gadis
"Tidak Pak.. maaf saya permisi"
Anugrah kebahagian yang ada didalam keluarga Gadis dan Yudi seakan pincang karena kehilangan satu mentari kecilnya.
Kini Azhar Putra Yuga menjadi satu satunya cahaya yang terus berusaha untuk menyinari kehidupan Gadis dan Yudi.
Pada ini hari terakhir Gadis dirawat karena kondisinya mulai membaik, tapi sekarang kesehatan Gadis kembali drop. Yudi menghubungi Alby untuk mengabarkan berita kematian Putri kecilnya.
***
Gadis duduk di atas kursi roda tanah merah menutup permata yang kilaunya kini tak lagi dapat dilihat mata..hanya mata hati yang menjadi pengikat.
Yudi dengan tangan gemetar menutup liang lahat matahari kecilnya, lengan kokohnya layu terkuyu tak berdaya, seminggu waktu kebersamaan membuat Yudi memiliki kenangan, tabung inkubator tidak menghalang hubungan ayah dan anak untuk mengukir kenangan.
Yudi memilik penyesalan dan rasa bersalah pada istrinya Gadis yang belum mengizini bertemu Azzahra ketika masih di inkubator.
Di lihatnya Gadis yang duduk lemas dengan kepiluan yang tidak mampu diurai kata, namun mata sembab istrinya seakan berkata aku mengandungnya, aku melahirkannya dengan nyawa sebagai taruhan kenapa aku tidak kau biarkan melihat dia saat bergerak, kenapa bujur kaku yang engkau sajikan dihadapanku.
"Menarilah engkau di sana anakku..doaku bukti cintaku untukmu, genggam erat doa kerinduan aku ibumu" batin Gadis menangis pilu
***
Gadis tidak siap dengan kehilangan ini.. kondisi kesehatannya kembali drop, saat dalam perjalanan pulang dari pemakamam Gadis kembali pingsan. Yudi langsung membawanya kembali ke Rumah Sakit yang sama.
kali ini Gadis kekurangan cairan, dalam 6 jam Gadis telah 10 kali pemasangan cairan infus
"Sayang...abang minta maaf"
Yudi menggenggam jemari lentik istri, jemari yang belum sempat membelai pipi mungil yang telah tiada.
Gadis diam mendengar permohonan maaf suaminya.
Permohonan maaf yang membuat Gadis semakin pilu
__ADS_1
Dari dasar hati Gadis tidak pernah menyalahkan Yudi atas apa yang terjadi, hanya saja Gadis masih tidak menyangka kalo dia tidak sempat melihat langsung wajah putri kecilnya.
Satu-satunya kenangan melihat anaknya sesaat sebelum dikafani sudah tidak lagi bernyawa jika mengingat itu hatinya hancur sehancur hancurnya.
Perlahan Gadis melepaskan tangan dari genggaman Yudi.
"Abang.."
"Iya sayang abang" Yudi tersenyum Gadis memanggilnya
"Adek mau lihat Putra"
Yudi tidak mau lagi melarang Gadis untuk melihat anaknya, dia langsung meminta izin suster sekalian meminta dibawakan kursi roda.
Diangkatnya Gadis dari tempat tidur..suster membantu memegang botol infus yang masih tersambung pada selang yang menusuk urat nadi Gadis.
"Biar saya saja yang dorong" kata Yudi pada suster
Suster menggangguk tanda memahami yang Yudi katakan.
Menyusuri tiap lorong rumah sakit untuk melihat satu lagi cahaya hati yang masih berjuang untuk bertahan di dunia yang penuh ke fanaan ini, akankah Azhar Putra Yuga mampu memberi cahaya buat kedua orang tuanya yang juga sedang berjuang melepaskan mentari kecilnya dengan ikhlas.
"Sayang itu bukan Angel?" tanya Gadis pada Yudi
"Sepertinya iya..." Yudi melihat kembali dengan seksama "Iya..kamu benar sayang itu Angel"
"Sedang apa dia di depan ruang Nicu.., anak siapa di dalam gendongan suster yang berbicara dengan Angel" kata Gadis pada Yudi
"Entahlah Abang tidak tau"
Suster yang berbicara dengan Angel pergi meninggalkan Angel.
"Gadis..." Angel kanget saat melihat Gadis yang berjarak tiga atau empat meter darinya.
"Apa Gadis melihat saat aku berbicara dengan suster, aku harus memberi jawaban yang logis kalo dia bertanya" batin Angel
"Gadis..." Angel meyebut nama Gadis sambil melangkag cepat ke arah Gadis
Angel berdiri tepat di depan kursi roda Gadis, semasang wajah sedih berucap maaf dan turut bebelasungkawa atas kepergian Putri Gadis. Angel baru mendapat kabar sehingga tidak dapat menghadiri pemakaman.
"Tidak apa-apa.."jawab Gadis mencoba tersenyum "Kamu dari ruang nicu?" tanya Gadis pada Angel
"Tidak..aku mau menjenguk temanku"
"Aku pikir kamu dari ruang nicu.. aku melihat kamu berbicara dengan seorang suster yang menggedong bayi" ucap Gadis pada Angel
__ADS_1