
Angel mencoba menenangkan diri mendengar yang dikatakan Gadis.
"Aku hanya bertanya arah ke ruang inap VVIP, kebetulan temanku rawat inap disalah satu ruang VVIP" Angel berbohong
Gadis hanya tersenyum "Kalo begitu aku duluan" Pamit Gadis pada Angel
"Sayang kita liat Putra sekarang...tolong dorong adek lagi" Gadis mengajak Yudi sambil menyentuh tangan Yudi yang ada di pundak Gadis
"Oke cinta abang.." Yudi mengecup sayang ubun-ubun istrinya, lalu mendorong kursi roda melewati Angel
Meraka berlalu begitu saja.
Angel menahan kekerasalannya, melihat kemesraan Gadis dan Yudi, tatap kebenciannya pada Gadis semakin membesar.
***
"Sayang..ini Putra?" tanya Gadis, Yudi mengganggu "Dia setampan abangkan?" kini gilaran Yudi bertanya " Tentu saja " jawab Gadis memuji ketampanan suaminya.
Gadis berucap maaf pada bayi kecilnya.. karena gagal menjaga kandungan sampai 9 bulan, hati kecil juga menangis melihat bayinya sangat kecil hanya ada 1,8ons beratnya.
"Kuatlah engkau pelihat mama..kita lewat semua kepiluan ini bersama Papa dan Mama. Kamu harus lebih kuat dan hebat dari Papamu. Mama berjanji akan membuat kamu menjadi anak yang berguna bagi agama dan negara. Sekarang kamu boleh kecil, tapi mama yakin kamu kuat, kamu hebat, kamu cerdas, kamu pintar, kamu kebangaan Mama dan Papa. Mama janji mulai sekarang Mama aku kuat juga demi kamu, mama akan berikan kamu terbaik mulai sekarang" Gadis berbicara pada bayinya.
Genggaman Putra pada telunjuk Gadis membuat keyakinan dalam diri Gadis kembali hadir.
***
Dua bulan kemudian
" Abang mau di belakang sajalah bareng adek" kata Yudi
"Bebas... aku udah terbiasa jadi supir kalian" celetuk Alby
Gadis dan Yudi hanya senyum saja.
Hari yang ditunggu datang juga, sepelengkapan sudah disediakan, syukuran kepulanggan pun sedang disiapkan.
Sekarang mereka dalam perjalanan menjemput yang punya hajatan.
Alby memarkirkan mobilnya di parkiran, langkah kaki ketiganya sangat bersemangat menyelusuri tiap koridor rumah sakit.
__ADS_1
Senyum bahagia kembali hadir ditengah-tengah rumah tangga Gadis dan Yudi, Alby turut merasakan kebahagia, mereka saling melempar senyum ketiganya sangat antusias, kalo saja mereka tidak menghiraukan kalo sedang bereda di Rumah Sakit, pasti akan lomba lari untuk sampai ke ruang Nicu.
"Pagi menjelang siang sus.." Sapa Gadis pada suster jaga
"Pagi menjelang siang juga mama Putra.." balas suster pada Gadis yang udah saling mengenal
"Dokter anaknya udah kunjungan sus?" tanyak Gadis
"Udah bu...kata dokter Putra udah bisa pulang, hasil medis hari ini udah keluar dan sama dengan yang dua hari yang lalu bahkan semakin baik"
"Alhamdulillah sus.."
Gadis mengikuti suster ke ruang rawat bayi, suster menyerahkan Putra pada Gadis, pipi mungil Putra semakin bulet, kini berat badan Putra 3,2 kilo.
Usaha Gadis untuk memberi Asi selama dua bulan ini membuahkan hasil, setiap hari Gadis menjenguk bahkan sampai seharian.
Gadis sengaja mengambil cuti hamil 3 bulan, kini cuti masih ada sebulan lagi.
Di luar ruangan rawat bayi terdengan teriak
"Kembalikan anakku.... kembalikan anakku"
"itu anakku..itu itu kembalikan anakku" wanita itu menunjuk ke arah Putra bayi Gadis yang ada dalam gendongan.
Gadis jadi takut dengan apa yang dilontarkan wanita itu, bahkan Gadis semakin panik saat wanita melangkahkan kakinya ke arah Gadis, jarak kedua tidak terlalu jauh.
"Ini anak saya.. sus. tolong beri tau wanita itu"
Gadis memanggil Yudi saat melihat suaminya ikut masuk karena mendengar keributan, langkah kaki jenjang Yudi berhasilkan nendahului si wanita itu.
"Jangan halangi saya..." teriak wanita itu Pada Yudi
"Maaf bu ini anak saya..."Beri tau Yudi
"Kau pembohong.." wanita menunjuk tepat di depan mata Yudi, "Itu Putri saya...." kata wanita itu dengan mata melotot
Gadis setengah berteriak di belakang Yudi "Tapi anak saya ini seorang putra"
Putra menangis dalam gendongan Gadis
__ADS_1
Perlahan tangisan wanita itu menurun kekuatannya melemah namun matanya memancarkan kesedihan yang tak mampu diurai seperti kepiluan yang tidak terobati.
Dia tersungkur di lantai memukul dadanya bicaranya pun tidak karuan, dimana putri kenapa kau kuburu putri, mengapa kau bawa putri
"sudalah bu..mau bagaimana lagi tidak bisa membayar rumah sakit, sudah baik putri kita dikubur dengan baik sama suster, walaupun kita tidak tau makamnya tapi kita bisa mendoakannya, ikhlas ya bu" suami wanita itu mencoba menenangkan istrinya
Gadis mencoba untuk menghampirin wanita itu, rasa kehilangan yang sama pernah rasakan saat kehilangan Azzahra Putri Yuga. Memberi semangat hanya itu yang bisa Gadis lakukan.
Sekuriti datang meminta wanita dan suami wanita itu untuk keluar.
Selama dalam perjalanan pulang Gadis banyak diam, pikiran mengawang rasa sakit akan kerinduan kembali dia rasakan, namun dia bersyukur kini Putra akan menjadi tempat untuk menyalurkan kasih sayang.
"Nanti kita ketemu adik ketempat adik Putri ya sayang" Gadis berbicara pada Putra yang sedang tertidur pulas dalam pangkuannya.
"Papa gak diajak.." canda Yudi " diajaklah.." jawab Gadis tersenyum pada Yudi.
Yudi mencium kening istrinya, dengan harapan Gadis kembali ceria.
Kasih sayang, perhatian, Pengertian Yudi amat sangat Gadis butuhkan. Sebagai seorang suami Yudi selalu kuat secara mental dan fisik.
Sambutan kehadiran Putra di meriahkan oleh shalawatan dari salah satu pantinasuhan anak anak yatim piatu. Setelah rangkaian acara selesai dilakukan Gadis memenuhi janjinya pada Putra.
"Assalamualaikum adik Putri.. hari ini abang Putra nemuin Adik Putri, Abang Putra baru Pulang dari Rumah Sakit, sekarang Abang Putra udah sehat, Adik Putri baik-baik ya.. Insya Allah suatu hari nanti kita ketemu lagi tungguin Abang Putra di sana ya..."
Enam bulan kemudian
"Sayang...udah belum" Yudi kembali membuka pintu kamar untuk ketiga kalinya
"Udah Papa..." Jawab Gadis meniru suara bayi
"Anak Papa ganteng banget.. pake baju jas, mau ngalahin gantengnya Papa ini" Yudi mengambil Putra dari gendongan Gadis
"Biar abang yang gendong.. biar yang pada lihat jadi tau kalo Putra ganteng nurun dari Abang" hahaha Yudi tertawa bangga
Melihat suaminya narsis gadis hanya bisa geleng-geleng kepala.
Mereka akan menghadiri pesta pernikahan Angga dan Ayu, Gadis sengaja datang lebih awal untuk mendampingi Ayu sebelum ijab kabul terucap, moment ijab kabul itu sangat sakral, sampai-sampai mempelai wanita dibuat dag dig dug tidak karuan.
Waktu Gadis menikah dengan Yudi juga merasa hal yang sama seperti mempelai wanita kebanyakan, mengingat proses akad nikah, saat itu Gadis sengaja tidak menemani Yudi saat proses ijab kabul agar Yudi tidak terlalu tegang, mau latihan seperti apa pun ketegangan ijab kabul tidak akan bisa hilang sebelum para saksi berkata sah.
__ADS_1