
Seminggu berlalu begitu cepat, walaupun tidak ada honeymoon, tapi Anne sangat menikmati waktunya bersama sang suami. Baginya, semua sama saja antara bulan madu atau tidak. Ujung-ujungnya dia harus ada di atas ranjang, melayani si mesumm Asloka.
Kini dia juga sudah mulai menempati rumah yang di beli Asloka, walaupun sempat ada insiden Ega tidak mengizinkannya hidup mandiri, tapi akhirnya mertuanya itu memberikan izin asal setiap hari sabtu sampai minggu mereka menginap di sana.
Sedangkan Asloka, mulai hari ini sudah aktif di kantor. Jadi, sebisa mungkin Anne akan melayani suaminya sampai dia berangkat kerja.
"An, bantu benerin dasi dong." Asloka merengek sambil membawa beberapa dasi ke hadapan Anne.
Sedangkan Anne yang masih sibuk membuat makanan pun menoleh ke arah suaminya. "Baiklah, kamu agak kesini dan mau pakai yang mana?" tanyanya terus menampilkan senyuman termanis.
"Menurutmu cocok yang mana? Apapun pilihanmu, pasti aku pakai," jawab Asloka sambil menarik pinggang istrinya agar mereka lebih dekat.
"Emm ... bagaimana kalau warna biru saja, sepertinya cocok," kata Anne langsung di angguki Asloka.
Dengan telaten Anne memasangkan dasi suaminya. Karena terlalu fokus, Anne tidak melihat tatapan mesumm Asloka. Tanpa diduga, lelaki itu meraih tengkuk Anne dan menciumnya sangat menuntut.
"Uummm ...." Anne seketika mundur beberapa langkah karena Asloka terus menuntutnya.
Bibir Asloka terus melumatt bibir Anne tanpa henti. Padahal bibirnya masih bengkak karena semalaman Asloka menerjangnya, tapi ternyata pagi ini Anne mendapat serangan lagi.
"Manis," lirihnya ketika panggutan mereka terlepas.
"Kamu kebiasaan, Laka. Sudah ah, dasinya sudah beres. Aku mau lanjut masak, keburu bik Asih dan anaknya pulang dari pasar," kata Anne dengan rona merah muda di pipinya.
Sungguh, Asloka sangat agresif. Selalu menyerangnya secara tiba-tiba dan membuat jantung Anne berdetak tak karuan. 'Bisa-bisa mati muda aku, kalau Laka selalu membuatku kage!' serunya dalam hati.
"Laka!" serunya sangat jengkel.
Bagaimana tidak jengkel, jika Asloka memeluknya terus dari belakang, tangan kekarnya melingkar sempurna di perut, sehingga membuat Anne kesulitan bergerak.
"Aku ingin seperti ini," jawab Asloka semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan dagunya Asloka senderkan ke bahu Anne.
__ADS_1
"Ishh! Terus kapan makanannya matang? Kamu sebentar lagi berangkat kerja loh, kalau seperti ini terus yang ada telat nanti!" seru Anne berusaha melepaskan pelukan Asloka, tapi sayangnya tidak bisa.
"Terserah deh!"
Anne tak mau menggubris suaminya lagi, dia lebih memilih fokus pada masakannya, kalau tidak segera diselesaikan, sampai pukul sepuluh pun tak akan matang.
Walaupun sedikit kesusahan, Anne tetap berusaha sabar. Hingga dia merasa kecuupan demi kecuupan di tengkuknya. Jangan tanya betapa risihnya Anne, namun harus bertahan agar tidak mengulur waktu.
"Aahhh!" Desahh Anne saat tangan nakal suaminya meremas salah satu gunung kembar.
"He he he, main yuk," ajak Asloka cengengesan.
Tak ada jawaban dari Anne, wanita itu hanya diam. Tapi, saat dirinya merasa Asloka akan kembali meremass sesuatu, dengan cepat Anne menginjak kaki lelaki itu sangat kencang.
"Aduh!" Asloka reflek melepaskan pelukannya.
"Sa β"
"Diam dan jangan menggangguku! Sekali lagi kamu merecoki kegiatanku, maka jangan pernah berharap bisa bercinta nanti malam!" Ancam Anne berhasil membuat Asloka diam seribu bahasa.
Bak seperti anak kecil, itulah Asloka saat ini. Dia menunggu sang istri sambil memegang sendok garpu di kedua tangan, jika bosan Asloka akan mengetuk-ngetuk meja dengan garpu.
"Sayang ...." Panggilannya tapi tak jadi karena mendapat tatapan tajam dari Anne.
'Ternyata Anne kalau marah mengerikan ya, lebih baik diam saja, menunggu dia sampai selesai. Bisa gawat kalau lele tidak masuk goa nanti malam,' batin Asloka.
***
Selesai sarapan, Anne membersihkan semua piring-piring kotor. Setelah selesai, Anne memutuskan untuk mandi, tapi baru saja melangkah, suaminya menghentikan langkah kakinya dan menyuruh dirinya duduk.
"Ada apa?" tanya Anne penasaran.
__ADS_1
"Hari ini kita ke kantor bersama, aku mau semua drama selesai hari ini. Bersiap-siaplah, perusahaan akan kamu pimpin bersama om Raynald," kata Asloka membuat Anne terkejut.
"Hari ini?" Asloka mengangguk cepat.
"Kenapa baru bilang, aku belum siap. Kamu tau sendiri kan, pendidikanku hanya sampai SMA," kata Anne menjadi gugup.
"Kan ada om Raynald, Sayang. Dia yang akan membantumu, masalah pendidikan aku juga sudah memikirkannya, bahkan sudah aku daftarin kuliah online," jawab Asloka tak pernah kehabisan kata-kata.
Anne hanya terdiam, haruskah dia mengikuti apa kata suaminya. Memang sempat terbesit ingin merebut semua miliknya lagi, tapi tidak secepat ini.
"An, percaya sama aku. Semua akan baik-baik saja, sekarang cepat ke kamar dan segera mandi. Aku tunggu, kalau sampai telat, aku hukum kamu!" serunya sedikit mengancam.
"Ihh, tukang ngancem!" Setelah itu Anne bergegas pergi dari hadapan suaminya. Walaupun tidak yakin, apa salahnya dicoba. Toh Asloka sudah berkata, dirinya akan di bantu papanya.
...πΎπΎπΎπΎ...
Asloka : Emaakk ....
Emak : Hemmm ....
Asloka : Minta Honeymoon dong.
Emak : Nggak ada! Mak nggak bisa buat adegan healing.
Asloka : Ih mak, sebentar saja. satu hari deh, please.
Emak : Dibilang engga ya engga, jangan maksa. Maksa aku goreng lelemu!
Asloka : Sadis! Dasar emak lucknut, nggak ada akhlak, nggak cantik, pokoknya nggak banget!
Gubrakk!!! (Emak lempar celurit!)
__ADS_1
Asloka : Njir, emak kerasukan munun πββοΈπββοΈπββοΈπββ