Hasrat Tuan Asloka

Hasrat Tuan Asloka
44. Negatif


__ADS_3

Anne menatap alat tes kehamilan dengan perasaan kecewa. Ini sudah percobaan yang ke dua puluh kali dan hasilnya tetap sama, Negatif. Hembusan nafas kecewa pun dia keluarkan dengan sangat malas, Anne membuang benda pipih itu ke dalam toilet.


"Enam bulan, masih saja negatif. Kenapa harus telat sih jika hasilnya seperti ini, lebih baik teratur setiap bulan agar aku tidak selalu kecewa setiap bulannya!" sarunya sambil membuang semua alat itu ke dalam tong sampah.


Anne sudah menyerah, dia tak mau menyimpan benda itu lagi. Lebih baik dia biarkan saja sampai periode nya datang, menurutnya itu lebih baik daripada terlalu berharap.


Enam bulan lamanya dia menikah dengan Asloka, tapi sedikitpun Anne tak pernah mengalami kehamilan. Padahal, setiap hari mereka selalu melakukannya, tapi apa? Hasilnya tetap kekecewaan.


"Sayang, kamu kok cemberut gitu sih. Pasti gara-gara hasil benda laknat itu kan? Sudah aku bilang, jangan terlalu dipikirkan. Semua butuh proses, Sayang," ucap Asloka sambil memeluk erat istrinya dari belakang.


Dia sempat kaget tidak melihat Anne di atas ranjang, tapi ternyata istrinya ini ada di kamar mandi untuk melihat hasil tes kehamilannya. Padahal masih jam dua dini hari.


"Sampai kapan, Laka? Ini sudah enam bulan loh, masih belum ada tanda-tanda kehamilan. Apa aku benar-benar tidak bisa memiliki anak ya," balas Anne sedikit terguncang dengan pernyataannya sendiri.


"Hey, jangan bicara seperti itu Sayang. Ingat ucapan adalah doa, kita hanya bisa berusaha, selebihnya hanya Tuhan yang menghendaki. Sudah jangan pikirkan ini lagi, aku yakin kamu sehat kok," bantah Asloka sedikit meninggikan ucapannya.


Bukan Asloka marah karena Anne belum juga hamil, tapi dia kesal, saat istrinya berbicara seperti itu. Asloka yakin jika Anne baik-baik saja, tidak ada masalah sedikitpun, baginya semua usaha butuh proses tidak langsung jadi.


Sedangkan Anne langsung memeluk suaminya, dia menangis sejadi-jadinya. Anne sangat takut, takut sekali sekarang. Katakanlah dia lemah, tapi siapapun pasti akan merasakan hal seperti Anne, jika pernah mengalami kegagalan dalam pernikahan.


Memang dia harus belajar menerima kenyataan, tapi semua butuh proses dan Anne mulai sadar jika ucapan suaminya benar. Sama halnya dengan dirinya, masih proses melupakan masa lalu kelamnya, begitu juga dengan proses kehamilannya. Anne mau berpikir positif, tidak mau berpikir aneh-aneh lagi.


"Aku mau priksa ke dokter nanti, kamu ikut ya," ucap Anne sesegukan.


"Iya, Sayang. Kalau perlu aku akan libur ke kantor demi menemanimu," balas Asloka sangat lembut.

__ADS_1


Setelah itu Asloka membaringkan tubuh Anne dan menyelimutinya. Niat awal Asloka akan mengirim email pada Betty juga Sean tentang ketidakhadirannya, tapi Asloka urungkan saat Anne memintanya tinggal.


"Jangan pergi, aku mau di peluk kamu," pinta Anne yang tak bisa ditolak Asloka.


Dengan perlahan dia merebahkan tubuhnya, setelah itu Asloka menawarkan tangannya untuk dijadikan batal. Tentu, inisiatif Asloka disambut senang oleh Anne. Istrinya langsung merebahkan kepalanya ke atas lengan sambil menelusup ke dada bidangnya.


"Tidurlah, aku selalu di sampingmu."


***


Tepat pukul tujuh, Anne bersiap-siap akan berangkat ke rumah sakit. Walaupun jadwal periksa jam sembilan, tapi Anne mau menunggu saja di sana, toh sekalian antri apalagi dirinya mendapat nomor 18. Pasti akan sangat lama menunggu, jadi daripada bolak-balik nantinya, Anne memutuskan untuk berangkat lebih awal saja.


"Kamu serius mau berangkat sekarang, Sayang? Ini masih jam tujuh loh, tidak salah kan?" tanya Asloka keheranan.


"Iya, nanti di sana juga antri kok. Jadi lebih baik kita nunggu saja di sana, belum lagi macetnya. Kita keluar dari rumah jam tujuh, paling sampai rumah sakit jam delapan pas," jawab Anne cepat.


Namun, saat Asloka memakai jaket, ponselnya tiba-tiba berdering pertanda ada pesan masuk. Karena penasaran Asloka memutuskan untuk membukanya terlebih dulu.


Luca : Tuan, kata Anne, dia mau pergi ke dokter kandungan langganannya? Jika iya, aku sarankan ganti dokter saja, bukan apa sih, aku sedikit curiga dengan dokter itu.


Asloka langsung mengerutkan keningnya. Dia merasa aneh pada Luca, kenapa sahabat istrinya ini curiga pada dokter yang menangani Anne sejak dua tahun lalu.


Asloka : Kenapa kau memiliki kecurigaan seperti itu? Dia seorang dokter, mana mungkin melakukan kesalahan dan lagi, kenapa kau tau dia mencurigakan!


Luca : Tuan lupa? Aku ini sahabat Anne dan sesekali pasti pernah mengantar Anne ke dokter kandungan, jadi aku yakin ada yang aneh, cuma dasarnya sahabat aku itu bodoh! Dia terlalu percaya dengan keluarga Geo, sampai matanya buta.

__ADS_1


Mendengar balasan Luca, entah mengapa hatinya juga jadi ragu. Asloka juga berpikir, 'apa salahnya mengikuti perkataan Luca. Barangkali memang benar dokter itu ada menyembunyikan sesuatu, dan Anne tak mengetahui semua.'


Asloka tak membalas pesan Luca, dia langsung menghubungi Angga agar membantunya mendaftarkan Anne ke dokter spesialis kandungan di rumah sakit tempat dia bertugas.


Setelah mendapatkan balasan oke, Asloka tersenyum lega. Dia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku dan langsung keluar menghampiri Anne.


"Ayo berangkatkan, nanti keburu macet," ajak Asloka. Dia sengaja tidak memberitahu Anne terlebih dulu, karena dia tau pasti istrinya ini tidak akan setuju pindah dokter. Jadi, daripada gagal sia-sia, berbohong adalah hal paling tepat.


Sedangkan disisi lain, Luca yang baru saja mengirim pesan pada Asloka pun merasa lega, dia mendongak ke atas dan menatap langit-langit rumahnya.


"Semoga kau selalu bahagia, An," gumamnya terus bersiap-siap ke kantor. Luca memakai sepatunya, setelah selesai dia langsung mengambil tas kerja dan bersiap-siap membuka pintu.


Tapi, saat dirinya berhasil membuka lebar-lebar pintunya, dia di kejutkan oleh seseorang yang sangat dia kenal. "Aron!" seru Luca.


"Selamat pagi, Luca," sapa Aron.


"Pagi juga, silakan masuk. Maaf rumahku berantakan." Luca mempersilahkan Aron masuk, dia sudah paham tujuan Aron datang ke rumahnya, pasti karena Betty. Jadi, Luca tak sebegitu kaget dengan kedatangannya.


"Duduklah, mau aku buatkan minum?" tawar Luca langsung mendapat penolakan dari Aron.


"Tidak perlu, aku hanya ingin bicara empat mata denganmu. Kalau di kantor pasti sangat sulit, apalagi ...."


"Betty selalu menempel denganku, kan?" sambung Luca. "Tidak perlu berbasa-basi, aku tau maksudmu datang ke sini. Tujuanmu adalah Betty, tapi jika kamu ingin aku melepaskan Betty maka tidak bisa. Semua keputusan aku serahkan padanya, jika memang dia mencintaimu maka akan ku lepaskan Betty, tapi jika sebaliknya —"


"Aku mohon, lepaskan Betty. Aku tau aku salah, seharusnya dari awal aku itu membalas perasaan Betty, tapi —"

__ADS_1


"Pulanglah, aku tidak bisa melakukan semua. Jika memang Betty ingin bersamamu, maka akan ku lepas dia. Jadi, pergunakan waktu tiga bulan ini untuk meyakinkan Betty, jika dalam tiga bulan dia tetap memilihku, maka kau harus rela Betty menikah denganku."


...ᥬ🤩᭄ ᥬ🤩᭄ ᥬ🤩᭄ ᥬ🤩᭄ ...


__ADS_2