
"Selamat pagi, Bu Anne. Apa sudah siap, jika sudah mari kita menuju ruang operasi," ucap suster Elin.
Anne tersenyum lemah ke arah suster Elin, tenggorokannya juga terasa sangat kering, puasa dari semalam sampai pagi ini, membuatnya benar-benar lemas.
"Sudah, Sus," lirih Anne.
"Baiklah, kalau begitu saya bantu duduk di kursi roda, setelah itu kita ke ruangan operasi," kata suster Elin.
Anne mengangguk, tapi belum juga suster Elin membantu Anne, namun Asloka terlebih dulu menggendong istrinya dan membantunya duduk di atas kursi roda.
"Biar saya saja yang mendorong, Sus," pinta Asloka.
"Baiklah, kalau maunya seperti itu. Tapi Bapak hanya bisa mengantar sampai pintu masuk, karena selebihnya Bapak tidak boleh masuk, ke ruang operasi," balas suster Elin sangat ramah.
Asloka mengangguk paham, setelah itu dia mendorong kursi roda istrinya bersama keluarganya. Anne yang tadinya takut menjadi tenang, apalagi tangannya selalu di genggam erat oleh Raynald.
Mertuanya juga selalu ada di samping Anne, namun sayangnya Aslan tidak bisa ikut, karena harus menangani proyek di luar kota, tapi sebelumnya Aslan sudah menghubungi Anne sebelum subuh tadi, untuk memberikan semangat.
"Sudah sampai, Pak. Biar saya yang mendorong kursi rodanya, Bapak dan keluarga hanya bisa mengantar sampai sini saja," ucap Suster Elin mengambil alih semua.
Dengan perasaan sangat berat, Asloka melepaskan kursi roda Anne dan membiarkan suster Elin yang mendorong. Asloka serta yang lainnya hanya bisa melambaikan tangan dari belakang, sambil berdoa agar semua berjalan dengan lancar.
"Laka, duduklah, semua pasti baik-baik saja," kata Ega terus membujuk Asloka agar tenang dan duduk menunggu operasi selesai.
"Aku sangat cemas, Ma." Asloka mulai terduduk lemas. Jika saja semua bisa dialihkan padanya, maka Asloka akan menggantikan rasa sakit Anne.
"Kita semua juga cemas, Laka. Bukan hanya dirimu saja, lebih baik kita berdoa, supaya operasi Anne berjalan dengan lancar." Kini Raynald yang bicara.
__ADS_1
Raynald tau bagaimana perasaan Asloka, tapi semua tidak akan beres jika Asloka terus panik, yang lebih utama untuk saat ini adalah berdoa. Untungnya, Asloka menurut dia terus berdoa selama operasi berlangsung.
Jantung nya semakin berdetak kencang ketika lampu operasi menyala, pertanda jika operasi sedang berlangsung. Suasana di sekitar menjadi kaku, sekuat apapun mereka menyembunyikan rasa khawatirnya, ternyata semua habis sia-sia.
Beberapa jam telah berlalu, lampu operasi juga mulai padam, Asloka yang mengetahui itu segera mendekati pintu ruang operasi. Tapi, sudah terhitung tiga puluh menit, tak ada seseorang pun yang keluar dari dalam.
"Ma, kenapa mereka lama sekali? Lampunya saja sudah padam dari beberapa menit lalu, masa mereka tidak ada yang keluar." Omel Asloka tak sabaran.
"Sabar, Laka. Mungkin mereka masih menunggu Anne sadar, Mama dulu melahirkan mu secara SC dan setelah selesai Mama di pindah ke ruangan lain, sambil menunggu bekas bius habis," kata Ega agar anaknya ini tenang.
"Kok bisa? Kenapa dibiarkan seperti itu, aku harus ada di samping Anne!" seru Asloka langsung masuk begitu saja tanpa memperdulikan panggilan mamanya.
Ega hanya bisa menepuk jidatnya, saat melihat kelakuan Asloka. "Dasar tidak sabaran, anak siapa sih dia!" seru Ega sangat kesal. Sedangkan, Raynald hanya terkekeh melihat Asloka, dia jadi ingat saat istrinya melahirkan juga seperti Asloka, tidak sabaran akhirnya menerobos masuk ke dalam.
***
Berkali-kali matanya menelisik setiap sudut ruangan, tapi yang dia cari tidak ada. 'Apa aku salah masuk ya, tapi tadi Anne di bawa ke sini kok,' batin Asloka.
"Bapak mau apa ya? Kenapa bisa masuk ke dalam, kan sudah ada stiker di luar kalau dilarang masuk kecuali memang mendesak," ucap salah satu suster.
"Emm ... itu, saya mencari istri saya," jawab Asloka canggung.
"Nama pasien siapa?" tanya suster.
"Anne Jeniffer."
"Oh bu Anne, beliau sudah di pindahkan ke rawat inap, silahkan bapak masuk lewat sini, terus nanti belok ke kanan, ruangannya pojok sendiri," balas suster.
__ADS_1
Asloka mengangguk dan langsung pergi dari ruangan itu, dengan jantung dag dig dug, Asloka terus berjalan sampai ke tempat Anne.
Saat langkah kakinya sudah sampai di tempat, Asloka tak mau membuang-buang waktu, dia segera membuka pintu kamar inap dan masuk begitu saja.
"Mama, Om Raynald, kok kalian ada di sini, bukannya ...."
"Kamu sih jadi orang tidak sabaran banget, kan Mama sudah cegah, tapi kamu ngeyelan. Padahal tanpa masuk ke dalam, pasti ada suster yang memberitahu dimana Anne sekarang," cetus Ega.
"Mama, tidak ada bilang seperti itu tadi." Kesal Asloka. Dia merasa dipermainkan mamanya sendiri, jika sudah tau seperti itu, kenapa tidak langsung bicara, kenapa harus berbelit-belit dan membuatnya tidak sabaran.
"Ada kok, tapi kamu tidak mendengarkan Mama. Benar kan pak besan?" Raynald pun mengangguk, sedangkan Asloka semakin cemberut.
"Sudah, jangan ngambekan jadi cowok. Lebih baik kamu temui istrimu, dia lagi kedinginan itu di bawah selimut, efek biusnya mulai memudar, jadi beberapa menit kedepannya Anne akan menggigil," kata Ega.
Asloka pun mendekati Anne, dia menatap istrinya penuh sayang. Ingin sekali dia memeluk erat istrinya ini, tapi Asloka takut menyenggol bekas operasinya. Yang bisa dilakukan dia hanya menggosok-gosok telapak tangan Anne, agar merasa hangat.
"Bertahanlah, Sayang. Semua ini akan berlalu, bertahanlah demi aku."
...****************...
Asloka : Emak, kapan istriku sembuh ðŸ˜ðŸ˜ aku tak tega melihatnya seperti ini, mending aku yang mati mak, asalkan dia bahagia.
Emak : Memang kalau kamu mati, terus Anne nikah sama orang lain rela? 😌
Asloka : Weehh ya nggak rela lah, ganti aja jangan mati sakit deh sakit, nego ini aku.
Emak : Nggak ah, mending ku matiin saja. Beres, ku tulis batu nisan mu dengan judul ASLOKA MATI KECEBUR KALI.
__ADS_1
Asloka : ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜«ðŸ˜«