Hasrat Tuan Asloka

Hasrat Tuan Asloka
63. Akhir Penantian


__ADS_3

Hari ini kandungan Anne menginjak usia tujuh bulan, perutnya kini juga semakin besar apalagi ada dua bayi yang semakin membuatnya sesak nafas. Belum lagi anaknya yang begitu aktif sampai beberapa kali dia meringis sakit, setia baby twins bergerak.


Ingin sekali Anne merebahkan badannya di atas ranjang, tapi prosesi acara tujuh bulan kandungannya belum juga selesai. Padahal dia sangat kelelahan, terlebih pinggang.


"Pa, ini masih lama kah?" tanya Anne terus memegang perutnya.


"Katanya sih belum, memang kenapa Ma? Kamu capek? Kalau iya, lebih baik kita istirahat saja," balas Asloka.


Anne mengangguk, dia akhirnya mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar. Pelan-pelan juga Asloka membantu istrinya mencopot semua pernak-pernik di kepala Anne, setelah selesai dia menuntun Anne ke kamar mandi.


"Awww!" pekik Anne terus memegang perutnya.


"Kenapa, Ma?" Asloka panik.


"Perutku kram, Pa. Mereka terlalu aktif hari ini, beberapa kali mereka menendang sampai pinggang ku sakit," jelas Anne terus mencengkram lengkap suaminya.


"Lebih baik kamu istirahat, Ma. Biar aku papah ke kamar," ucap Asloka menjadi gugup.


Dia tidak tahu istrinya kenapa, padahal sebelumnya Anne selalu baik-baik saja tidak pernah merasa sakit berlebih seperti saat ini. Dengan perlahan Asloka membawa istrinya keluar dan merebahkannya ke atas ranjang.


"Pa, tolong pijitin pinggangku. Rasanya sangat sakit," pinta Anne dengan mata berkaca-kaca.


Asloka mengangguk, dengan sayang dia memijat pinggang istrinya. Sesekali dia juga mengelus lembut perut Anne, sambil membisikkan sesuatu. "Jangan nakal ya, kasihan Mama."


Tapi, setelah bicara seperti itu bukannya menurut yang ada anaknya semakin aktif sehingga membuat Anne menjerit kesakitan. Asloka bingung, dia tak tahu harus berbuat apa saat istrinya menangis.


Takut salah langkah, Asloka lebih memilih memanggil Ega untuk mengecek keadaan Anne. Suasana kamar yang tadinya tenang kini menjadi tegang, tak kalah Anne semakin menangis. Ega yang merasa curiga memutuskan membuka selimut menantunya dan benar dugaannya, Anne mengalami pendarahan.


"Laka kita bawa istrimu ke rumah sakit sekarang!" seru Ega sangat lugas.


"Kenapa ke rumah sakit, apa terjadi sesuatu?" tanya Asloka.


"Istrimu pendarahan, dodol! Pakai tanya segala, kalau Mama bilang ke rumah sakit berarti darurat!" marah Ega membuat Anne takut.


"Huaaa, aku maunya sama Laka saja. Sini kamu, kamu harus tanggung jawab!" teriak Anne sambil mengulurkan tangannya.


Asloka yang mendapat panggilan memilih mendekati Anne, dia genggam tangan istrinya dan terus memberikan semangat. "Rileks Sayang, aku selalu di dekatmu," ucapnya.


"Laka perutku sangat sakit, bagaimana kalau aku mati? Pasti nanti kamu cari wanita lain, kan!" Oceh Anne semakin ngelantur.


"Hey, ucapan apa ini? Kamu akan baik-baik saja dan kita akan hidup bahagia selamanya," balas Asloka.

__ADS_1


Dia tak mau istrinya berkata seperti ini lagi, jadi dia berteriak agar menyiapkan mobil secepatnya. Saat di perjalanan ke rumah sakit, mulut Anne terus meracau tak karuan.


Ini semakin membuat Asloka takut, takut akan kehilangan Anne. Jika dia tau efek hamil seperti ini, maka dia tidak mau istrinya hamil lagi. Cukup kali ini saja, tidak ada kedua kalinya.


Sesampainya di rumah sakit Anne segera mendapatkan perawatan, dokter yang menangani Anne juga sedang cuti ke luar negeri jadi mau tak mau mereka harus memakai dokter lain.


"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Asloka.


"Kita harus melakukan operasi secepatnya, kalau tidak nyawa ketiganya akan hilang, tolong tandatangani surat persetujuan operasi," ucap dokter sangat tegas.


"Tapi kandungannya masih tujuh bulan, apa tidak berbahaya?" tanya Ega.


"Lebih berbahaya lagi jika terlambat mengeluarkan mereka, jadi jangan memperlambat proses segera tandatangani atau —"


"Aku akan tanda tangan, sekarang cepat proses istriku!" Potong Asloka. Setelah itu dia menuju tempat administrasi untuk menandatangani surat persetujuan melakukan tindakan pada pasien.


Operasi pun berjalan, semua orang di sana menunggu harap-harap cemas. Asloka ingin sekali masuk, tapi dilarang oleh dokter dan katanya memang prosedurnya seperti itu.


"Ma, lama sekali mereka," gerutu Asloka dengan wajah sangat kesal.


"Sabar, Laka. Lebih baik kamu berdoa, daripada mondar-mandir tidak jelas," omel Ega.


"Iya, kami semua keluarganya dan saya suaminya."


"Saya ucapkan selamat ya, Pak. Operasinya berjalan lancar, sekarang bu Anne mau di pindahkan ke kamar rawat inap, sedangkan kedua putra Bapak masih ada NICU," jelas suster membuatnya sangat lega.


Mereka semua pun sujud syukur, akhirnya penantian selama beberapa jam sudah mendapatkan hasil, istri dan anaknya selama itulah yang membuat Asloka sangat bahagia.


***


Anne menatap kedua putranya penuh haru, air matanya terus menetes saat tangan kecil mereka menggenggam erat jaringannya. Rasanya sampai tak bisa berkata-kata, hanya air mata bahagia yang bisa menjelaskan semua.


"Mereka sangat tampan sepertimu, Pa," lirih Anne.


"Siapa dulu papanya, jelas mereka tampan. Dua jagoan Papa, kelak akan menjadi lelaki hebat serta penyayang," balas Asloka.


Mereka kembali melanjutkan menatap bayi kembar mereka, tak lama setelah itu seorang suster menyuruh Anne menyusui mereka. Walaupun sedikit ragu, tapi Anne mengiyakan permintaan suster.


Dengan perlahan Anne menggendong salah satu dari mereka dan berusaha memberikan ASI. "Sus, sepertinya ASInya belum keluar, apa tidak apa-apa?" tanya Anne khawatir, takut jika anaknya kekurangan nutrisi.


"Tidak apa-apa, Bu. Namanya juga baru sehari, nanti kalau terus dilatih pasti keluar, yang penting bu Anne harus terus happy," jelas suster.

__ADS_1


Anne mengangguk, dia kembali menyusui anaknya. Untuk pertama kali, dia merasa kesulitan tapi dengan usaha kuat akhirnya dia bisa terbiasa. Sebenarnya Anne merasakan sakit, namun demi mereka apapun akan Anne tahan.


"Apakah sakit?" tanya Asloka.


"Iya, seperti di iris belati. Tapi aku tahan kok namanya juga bayi, lidahnya masih kasar," balas Anne.


Setelah si kembar selesai menyusu, Anne dan Asloka kembali ke kamar inap. Di sana semua orang telah berkumpul, bahkan dia juga terkejut saat melihat kamarnya dihias secantik ini. Padahal saat Anne menjenguk si kembar, kamarnya masih biasa tapi sekarang menjadi luar biasa.


"Selamat ya, Nak. Kamu sekarang sudah menjadi orang tua, Papa turut bahagia," ucap Reynald terus mengecup kening Anne.


"Terima kasih, Pa. Mama mana, kenapa tidak datang?" Anne mencari keberadaan istri Reynald.


"Mamamu ada di luar, biasa Elaska takut setengah mati kalau masuk rumah sakit, jadi dia nunggu di luar gantian sama Papa." Anne mengangguk paham, memang anak papanya itu sangat nakal dan tidak bisa di atur, jadi Anne tidak kaget akan hal ini.


"Oh ya, An. Apa kalian sudah memiliki nama untuk si kembar, niatnya Mama mau mengadakan pengajian di rumah dan setidaknya kita harus ada nama untuk mereka," kata Ega.


Anne dan Asloka pun saling tatap, serempak mereka mengangguk dan berkata, "sudah dong, kita memberi mereka nama Abrian Maheswari dan Abian Maheswari.


***


Sudah ya, jangan suruh emak kasih extra part maning 😅😅


Cukup sampai disini dan nantikan kisah anak mereka, tapi emak mau tanya ini.


Kalian mau kisah Abian atau Kanaya?


Jalan cerita, untuk Abian dia harus menikahi wanita yang di perkosa omnya sendiri si Elaska.


Sedangkan jalan cerita Kanaya dia tidak sengaja di nodai kakak sahabatnya, yang berakhir dia harus menjadi istri kedua?


Pilih sebelum aku buat, woke. Oh untuk cerita Menjadi Milk Mother, jangan khawatir tetap upload kok tapi ya harus sabar. Jadi tentukan pilihan kalian, kalau mau jawab sih 😅😅


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai jangan lupa mampir ke karya teman aku ya.


Judul : Again My Life


Napen : Thatya0316


__ADS_1


__ADS_2