
Anne duduk termenung di atas ranjang, perutnya terasa sangat sakit. Setelah selesai bercinta, dia memutuskan untuk membersihkan badannya. Tapi, saat kembali dari kamar mandi, mendadak perutnya melilit.
"Masih sakit, Sayang?" tanya Asloka sangat khawatir.
"Masih, bisa minta tolong ambilin teh hangat tidak? Maunya kamu yang buat, jangan orang lain," jawab Anne masih meringis merasakan sakit di daerah perut bawahnya.
"Bisa dong, tunggu sebentar ya, kamu jangan kemana-mana, lebih baik berbaring agar tidak terlalu sakit lagi," ucap Asloka sebelum pergi meninggalkan istrinya.
Setelah melihat Anne mengangguk, Asloka langsung keluar dari kamar pribadinya dan menuju Pantry. Sesampainya di sana, tak mau membuang-buang waktu dia segera menyalakan kompor untuk memanaskan air.
"Eh, Tuan. Kenapa ada disini?" tanya Betty sangat terkejut melihat bosnya ada di pantry.
"Mau buat teh hangat untuk istriku," balasnya sangat santai dan terus melanjutkan kegiatannya mengukur gula yang akan dimasukan ke dalam gelas.
"Kenapa buat sendiri, Tuan? Sini biar saya yang buatkan, lagian ngapain juga Tuan menghangatkan air di kompor. Kan ada dispenser, disini sudah ada air panasnya," kata Betty mengambil alih gelas dari tangan Asloka.
"Tunggu, biar aku saja yang buat. Tunjukkan saja caranya seperti apa, tapi tetap aku yang buat. Ini permintaan istriku, jadi mengertilah sedikit," protes Asloka mengambil balik gelas miliknya.
"Wah, sepertinya bu Anne sedang isi," canda Betty tapi berhasil membuat Asloka terbeliak.
"Isi bagaimana?" Asloka sangat penasaran.
"Isi bayi, Tuan. Biasanya sih, kalau wanita sedang mengandung akan merasakan hal berbeda. Seperti ingin di manja sama orang tertentu," balas Betty sambil menunjukkan cara memakai dispenser.
"Kita baru seminggu menikah, apa mungkin ...."
__ADS_1
"Ah, lupakan, terpenting sekarang mengurus istriku. Dia lagi sakit perut soalnya, dari tadi mengeluh seperti ada yang menggores perut bawahnya." Asloka tak mau banyak berharap terlebih dulu, baginya masalah anak itu sangat sensitif dan Asloka tak ingin istrinya menjadi salah paham, karena merasa dituntut segera hamil.
"Wah, kalau sakit perut mending di kompres air hangat Tuan. Tunggu sebentar, kebetulan saya baru saja beli alat kompres." Betty pun langsung keluar begitu saja meninggalkan Asloka.
Tapi, tak lama setelah itu dia kembali sambil membawa alat kompres yang dia maksud. Setelah mencucinya bersih, Betty segera memasukkan air panas dengan air dingin ke dalamnya agar tidak terlalu panas.
"Selesai, sekarang berikan ini pada bu Anne. Taruh di atas perutnya, saya jamin akan mengurangi rasa sakit, karena saya sering merasakan ini setiap bulannya," ujarnya sangat semangat.
Asloka mengangguk paham, dia ingin segera pergi tapi Asloka urungkan dan berbalik menatap Betty, "Terima kasih ya sebelumnya, kamu memang sekretarisku yang terbaik," katanya sebelum benar-benar hilang dari hadapan Betty.
Sedangkan di sisi lain, Geo memegang kepalanya sangat kuat. Sesekali dia juga menjambak rambutnya, sungguh kali ini dia bangkrut. Setelah sampai rumah, Geo harus dihadapkan oleh orang yang sempat bekerja sama dengannya, siapa lagi jika bukan Sean.
Lelaki itu menjelaskan jika CEO Mahes Group adalah Asloka dan dia sangat menyesali semua, karena terlalu percaya pada mereka. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, Geo tak bisa menolak, jalan satu-satunya hanya pergi dari rumah masa kecilnya dan membawa mamanya pergi.
"Ma ... jangan semakin mempersulit, kita harus pergi dari sini dan menempati apartemenku. Sementara waktu jangan memikirkan rumah, pikirkan saja papa, bagaimana caranya agar bebas dari penjara," kata Geo.
Geo benar-benar lelah, dia juga semua kejadian ini adalah karma nya. Dulu, karena takut pada papanya, dia mau menikah dengan Anne. Selama berhubungan juga dirinya tak sedikitpun membuka hati, akan tetapi setelah kepergian Anne, dia baru sadar, jika dirinya telah jatuh cinta pada mantan istrinya.
Awalnya Geo masih sok jual mahal dan tak percaya akan ucapan Anne waktu itu, Geo pikir tidak ada orang yang akan mendekati Anne, tapi ternyata dugaannya salah. Sekarang Anne bahagia dengan orang lain, sedangkan dirinya menderita bersama Julia.
"Semua ini juga salahmu, Geo. Kamu terlalu bodoh mengurus hal seperti ini, apa otakmu di taruh dengkul ha!" Riska semakin murka. Dia tak bisa hidup miskin, tidak bisa, intinya Riska mau semua kembali seperti semula.
"Mas, jika Mama tidak mau tinggal di apartemen, biarkan Mama menempati rumah pemberian papaku," sahut Julia tiba-tiba datang entah dari mana.
Meskipun tidak di anggap, Julia ingin mencoba dekat dengan keluarga suaminya. Walaupun mendapat penolakan berkali-kali, Julia tetap bertahan, karena Julia yakin jika suatu hari nanti mereka beruba.
__ADS_1
"Cih, apa rumahmu sebesar ini? Tidak kan, sama saja bohong! Lebih baik tinggal di apartemen daripada menempati rumah tak seberapa itu," cecar Riska segera pergi dari hadapan mereka.
Sedangkan Julia hanya bisa menghela nafas kasar, se-berusaha apapun dirinya mengambil hati mertuanya, semua akan sia-sia karena Riska selalu memandang semua dari harta.
"Mas β"
"Julia, kita lebih baik bercerai saja. Setelah kejadian ini aku baru sadar, jika diriku hanya terobsesi semata denganmu. Maaf, sudah merusak hidupmu, semoga setelah perceraian kita, kamu bisa hidup bahagia dengan orang lain."
...πΎπΎπΎπΎ...
Emak : Laka, mainnya jangan kenceng-kenceng! Lihat tu Anne kesakitan.
Asloka : Hil β
Geo : Mak, aku protes!
Emak : Apaan sih?
Geo : Kenapa hanya Asloka saja yang di tanya, memangnya nggak mau tanya-tanya sama aku. π’π’π’
Emak : Males aja sih ngomong sama elu, kau tuh dah bikin emak gedek, jadi sana jangan sok imut.
Geo : Emmaakkk ππ
Emak : Ora mempan ππ
__ADS_1