
Geo menatap bingung pada gerombolan orang-orang di depannya. Mereka terus mendekatinya, bahkan menatap benci pada Geo. Beberapa dari mereka juga membawa pentungan, sehingga membuat Geo mundur satu langkah.
"Mau apa kalian? Minggir aku mau pulang, jangan halangi jalanku!" seru Geo mulai jengkel.
Karena tak mendapat balasan dari mereka, Geo berniat menerobos tapi langkahnya dicegah dan mereka langsung melayangkan sebuah bogeman bertubi-tubi ke wajahnya.
Geo tak bisa berkutik, mereka main keroyok dan dia tak bisa melawan. Geo hanya pasrah, walaupun badannya mulai remuk semua. Darah segar juga mulai mengalir dari hidungnya, mungkin saja tulang hidung Geo patah sampai mengeluarkan darah begitu banyak.
"Siapa kalian, kenapa kalian mengeroyokku!" seru Geo ketika pukulan demi pukulan dari mereka sedikit mereda.
"Karena kamu pantas mendapatkannya, Geo!" seruan dari seorang lelaki dari balik orang-orang yang mengeroyok Geo.
Geo sedikit menyipitkan kedua matanya melihat siapa dalang dari semua ini. Tapi, saat matanya menangkap seorang lelaki yang sangat dia kenal, itu malah semakin membuatnya bingung.
"Pak Sean," lirih Geo. Dia berusaha duduk tapi sayang, tubuhnya terlalu lemah dan sangat sulit digerakkan. Geo merasa pergelangan tangannya sedikit terkilir, karena cengkraman dari orang suruhan Sean.
"Apa salah saya, Pak? Bukannya semua sudah saya serahkan, kenapa sekarang Bapak mengusik kehidupan saya lagi?" tanya Geo.
Sean tersenyum sinis, dia langsung berjongkok di hadapan Geo dan mencengkram kuat kedua pipi Geo dengan satu tangan. "Awalnya semua sudah beres, tapi ternyata keluargamu sangat kejam, jadi kau harus mendapatkan balasan setimpal!" seru Sean sambil melempar berkas-berkas ke wajah Geo.
"Cepat tandatangani surat pengalihan harta keluarga Sanjaya, setelah itu segera serahkan dirimu ke polisi sebelum aku berubah pikirkan dan lebih memilih membunuhmu saat ini juga!" Sean berkata sangat sarkas.
Sean kembali berdiri dan membiarkan Geo membaca semua isi berkas tersebut. Sedangkan Geo hanya bisa memunguti lembaran demi lembaran kertas dari Sean sampai terkumpul jadi satu, setelah itu dia segera membacanya.
"Kenapa aku harus menyerahkan semua, bukankah kakek sendiri yang memberikan harta ini pada papa?" tanya Geo sangat lemah.
"Keluargamu tidak pantas mendapatkan harta itu, kalian mendapatkan semua dengan cara licik. Bahkan, agar harta itu tidak Jatuh ke tangan anak nyonya Anne, kalian tega melakukan KB steril secara ilegal. Lihat saja, sebentar lagi kalian semua akan masuk penjara terutama dokter Mayang!" tegas Sean semakin membuat Geo tak paham.
"Kau bicara apa? Siapa yang melakukan tindakan KB steril secara ilegal, keluargaku tidak pernah melakukan itu semua pada Anne!" marah Geo. Dia terus bersusah payah untuk berdiri dan menghampiri Sean.
"Ck, jangan pura-pura bodoh! Kau tau kenapa nyonya histeris seperti tadi saat melihatmu, itu semua karena dia baru mengetahui kenyataan, jika nyonya pernah melakukan operasi steril dan itu dilakukan sebelum kalian menikah!" seru Sean tak kalah sangar.
Sean ingin menambah tonjokan di wajah Geo, tapi dia tahan agar Geo bisa segera menandatangani semua berkas darinya.
"Aku tidak pernah melakukan semua itu, kau jangan memfitnah keluargaku!" teriak Geo merasa tak terima.
"Aku tidak pernah memfitnahmu, Geo! Jika tidak percaya kau tanya sendiri pada keluargamu, atau nyonya Anne. Jika kau sudah tahu yang sebenarnya, segera tandatangani semua ini!"
__ADS_1
Tanpa menunggu balasan Geo, Sean langsung meninggalkan Geo sendiri. Sean tak mau berbelas kasih pada Geo, walaupun kenyataannya dia tidak tau menau tentang operasi spiral itu. Bagi Sean, orang seperti Geo tak pantas mendapatkan belas kasih.
Sedangkan Geo, dia masih terus terpaku di tempatnya. Dia bingung dengan keadaan kali ini, yang bisa dia lakukan hanya menemui Riska agar semua terjawab dengan jelas, bukan dari sebelah pihak saja.
Dengan perlahan, Geo menuju mobilnya dan segera meninggalkan kantor. Di perjalanan pikirannya melayang kemana-mana, disisi lain dia tidak percaya pada Sean, tapi melihat betapa kacaunya Anne membuat hati kecilnya percaya.
"Agghhrr! Sialan!"
Geo memukul stir pengemudinya dan mempercepat laju mobil. Geo ingin bertemu mamanya sekarang juga, agar Geo tau apa yang Riska lakukan pada Anne dua tahun lalu.
***
Geo memasuki Apartemen dengan amarah menggebu-gebu, pintu apartemen juga dia buka secara paksa sampai membuat dua manusia di dalam sana terkejut.
Bukan hanya mereka saja, tapi Geo juga terkejut melihat pemandangan memalukan di depan matanya saat ini. Bisa-bisanya, mamanya bercumbuu dengan seorang lelaki muda, entah siapa tapi yang jelas mereka berdua sangat intim.
"Apa-apaan ini, Ma! Dia siapa dan kenapa Mama berciumann dengan dia, astaga bahkan lelaki ini lebih mudah dariku!" marahnya terus menatap tajam kedua manusia di depannya.
"Geo, kamu salah paham! Ini tidak seperti yang kau pikirkan, kau harus percaya Mama, Nak." Riska langsung mendekati Geo, tapi sayangnya dia menghindar.
"Bukan seperti —"
"Tante, sepertinya aku pulang saja. Nanti kita bertemu lagi," potong lelaki itu dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Riska sendiri dengan Geo.
Riska merasa terpojok saat ini, dia bingung harus menjelaskan seperti apa pada anaknya. Yang Riska bisa lakukan hanya diam, sambil menundukkan kepalanya.
"Aku tidak mengira Mama seperti ini, aku kecewa sama Mama," lirih Geo terduduk lemas di atas lantai.
Geo merasa keluarganya sekarang hancur berkeping-keping, tidak seperti dulu dan semua terjadi semenjak dirinya melepaskan Anne. Sungguh, Geo sangat menyesal.
"Ma, hari ini aku bertemu Anne. Dia terlihat sangat kacau dan aku mendengar kabar jika dia mengetahui sebuah fakta, jika Anne pernah melakukan operasi steril. Apakah semua ini rencana Mama?" tanya Geo menatap lelah pada Riska.
Tubuhnya terlanjur remuk, hatinya juga sangat kacau. Rasanya Geo ingin mengakhiri hidupnya saja, daripada dia harus melihat kebahagiaan Anne bersama suaminya serta melihat kehancuran Anne karena dirinya.
"Mama tidak pernah melakukan apapun!" balas Riska sedikit gugup.
"Mama jangan berpura-pura lagi, semua sudah terbongkar dan aku tak menyangka Mama setega ini. Mungkin sebentar lagi akan ada polisi yang menangkap kita, juga dokter sewaan Mama. Geo harap dengan kejadian ini, kita bisa berubah menjadi lebih baik."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Geo mengeluarkan berkas-berkas dari Sean. Dia segera menandatangani surat pengalihan harta miliknya, serta menyerahkan diri ke polisi.
"Apa yang kamu lakukan Geo, apa yang kamu tandatangani itu!" teriak Riska ingin merebut berkas itu, tapi dihalangi oleh Sean.
Entah sejak kapan Sean datang, tapi yang jelas dia berdiri tegap di hadapan Riska sambil merampas berkas-berkas itu dari tangan Geo.
"Kau mengambil keputusan yang tepat, Geo. Aku harap kau bisa berubah setelah berada di penjara, jadikan semua pelajaran hidupmu kelak," ucap Sean dan di angguki oleh Geo.
"Dasar anak bodoh, apa yang kau lakukan? Anak tidak tau diuntung, inikah balasan jasa ku darimu, tanpa aku mungkin kamu terlunta-lunta dengan ibumu di jalan!" teriak Riska keceplosan.
Dia sangat murka sampai-sampai mengeluarkan kata-kata yang harus dirahasiakan dari Geo, bahkan setelah berbicara pun Riska menjadi menyesal, karena emosi dia membuat kesalahan fatal.
"Apa maksudmu!" teriak Geo dengan air mata terus mengalir.
"Bukan apa-apa, lupakan saja," ucap Riska tak mau menatap mata Geo. Tapi, karena Geo terus memaksa, Riska tak bisa menyembunyikan semuanya lagi.
Dengan menangis, Riska menjelaskan semuanya. Bahkan Geo sebenarnya bukan anak kandungnya, suaminya juga tidak mengetahui hal ini. Dulu, saat Riska pernah mengalami kecelakaan yang membuat rahimnya rusak dan keguguran.
Riska takut, sehingga selama lima bulan dia pura-pura hamil. Waktu itu Erick sedang perjalanan bisnis, jadi Erick tidak tau kebohongan Riska. Setelah waktunya melahirkan, Riska bingung harus melakukan apa.
Wanita yang dia adopsi anaknya juga kabur begitu saja, sehingga dia tak sengaja menemukan seorang wanita gila meraung-raung di kolong jembatan. Karena penasaran, Riska mendekati wanita itu dan membantunya melahirkan, setelah Geo lahir, Riska segera membawa Geo begitu saja meninggalkan wanita itu sendiri di kolong jembatan.
"Kamu tega! Tidak punya hati, aku membencimu, sangat membencimu. Sekarang ibuku dimana, bagaimana kondisinya, cepat katakan!" teriak Geo sangat histeris. Dia tak menyangka, Riska begitu kejam meninggalkan ibunya sendiri, tanpa menolongnya sedikitpun.
"Mama tidak tau, Geo. Kejadian itu sudah lama dan Mama tidak tau, wanita itu masih hidup atau meninggal."
"Aaaahhh!!"
Brakk! Brakk!
"Kamu bukan manusia, kamu kejam!"
Geo terus mengamuk dan menghancurkan barang-barang di sekitarnya, dia ingin mencekik Riska, tapi dia tidak bisa melakukan semua, dalam hati kecilnya, Geo juga menyayangi Riska, apalagi Geo taunya Riska adalah orang tua kandungnya.
Setelah merasa lega, Geo menyerahkan dirinya pada Sean. Dia ingin polisi segera membawanya dengan satu syarat, Sean harus membantunya mencari ibu kandungnya dan tentunya Sean terima itu. Anggap saja, semua sebagai imbal balik karena Geo tidak mempersulit proses hukum.
...****************...
__ADS_1