Hasrat Tuan Asloka

Hasrat Tuan Asloka
HTA - 48


__ADS_3

Anne membuka mata perlahan-lahan, dia merasa asing dengan cahaya lampu di dalam ruangan tersebut. Sesekali dia mengerjapkan kedua matanya, agar cahaya yang masuk ke dalam kornea matanya seimbang.


"Hai, sudah bangun Sayang?"


Suara lembut dari suaminya pun terdengar sangat hangat di telinga Anne, dia tersenyum tipis dan mengangguk pelan.


"Kita dimana," lirih Anne masih sulit membuka mata secara sempurna.


"Kita masih di kantor, Sayang. Kamu tidur sangat nyenyak, aku tidak mau mengganggumu," balas Asloka sambil mengelus lembut pipi Anne.


Anne memijat keningnya, dia masih merasakan pusing, tapi tidak separah saat dirinya baru sampai rumah. "Sudah jam berapa?" tanya Anne pelan.


"Jam tujuh malam."


"Ha? Serius kamu, Laka?" Anne langsung terduduk dan melihat kanan-kirinya. Benar saja, saat Anne melihat ke samping, langit sudah gelap gulita. Bahkan terlihat mendung, sedikit ada petir menyambar. Walaupun di luar terlihat jelas, tapi kaca tersebut tidak dapat memperlihatkan orang-orang di dalam gedung.


"Astaga, aku tertidur berapa jam? Kamu pasti belum makan, aku benar-benar istri tidak berguna," ucap Anne bergegas turun dari atas ranjang.


"An ...." Asloka menahan tangan Anne agar tetap di tempatnya, dia tak ingin istrinya kelelahan, apalagi setelah mengalami keadaan seperti tadi pagi.


"Aku mau buat makanan, pasti kamu belum makan." Mata Anne mulai berkaca-kaca. Dia merasa sangat bersalah, hanya karena kekalutan tentang hasil dari rumah sakit, dia sampai menelantarkan suaminya.


"Aku sudah makan, mama tadi datang ke sini sama papa. Mereka juga membawakan makanan untuk kita, lebih baik sekarang kamu yang makan, dari pagi perutmu belum terisi apapun," katanya terus menata posisi bantal agar lebih tinggi. Setelah itu, Asloka menuntun Anne agar duduk bersandar di bantal yang dia sudah siapkan.


"Maaf, belum bisa menjadi istri yang sempat, aku —"


"Shut, jangan bicara seperti itu Sayang. Jika kamu membahas kesempurnaan, semua manusia tidak ada yang sempurna. Tapi, bagiku kamu melebihi apapun." Asloka langsung menyela ucapan Anne.


Asloka tak mau, Anne selalu merendahkan dirinya sendiri. Padahal, bagi Asloka, Anne melebihi segalanya. Tidak ada kekurangan sedikitpun, sungguh tidak ada.


"Tapi hasil tes itu membuatku tidak sempurna, Laka. Sebagai wanita, aku ini cacat karena tidak bisa memberikan keturunan untukmu," kata Anne terus memeluk erat suaminya.

__ADS_1


"Kata siapa kamu tidak bisa memberikanku keturunan? Apa kata dokter Laura kemarin? Dengarkan aku, An. Dokter hanya bisa memprediksi, tapi semua yang mengatur itu Tuhan. Jadi tidak ada yang tidak mungkin, memang kita hanya memiliki 15℅ kemungkinan saja, tapi jika Tuhan sudah membuktikan kekuasaannya, maka hal yang tak mungkin menjadi mungkin," ujar Asloka semakin mengeratkan pelukannya, bahkan Asloka terus mencium puncak kepala Anne.


"Kamu tidak akan menikah lagi kan, Laka? Aku takut, sungguh aku takut diselingkuhi lagi."


Mendengar ucapan Anne, Asloka sejenak terkekeh. "Aku tidak akan pernah selingkuh, An. Kau tau sendiri bukan, lele berkumis ku hanya berdiri saat denganmu. Jika pun dia bereaksi dengan yang lain, aku tidak akan pernah melakukan itu, hanya kamu tempat ku pulang, tidak ada yang lain," ujar Asloka membuat hati Anne tenang.


Setidaknya, dia bisa mendapatkan jaminan jika suaminya tidak akan selingkuh. Katakanlah dia termasuk orang parnoan, tapi jujur saja setelah kegagalan pernikahan pertamanya, membuat Anne merasa takut terus-menerus.


"Terima kasih, Laka."


***


Di rumah, Anne disambut dengan baik oleh mertuanya. Walaupun mereka tahu kondisi Anne saat ini, tapi orang tua Asloka tak mempermasalahkan semua. Malahan Ega semakin sayang pada Anne, dan tidak membiarkan menantunya banyak berpikir.


Seperti saat ini, setelah Anne masuk Ega selalu melayani menantunya dengan baik, dengan memasakkan beberapa makanan sehingga membuat Anne merasa tidak enak.


"Ma, aku bisa makan sendiri," kata Anne dengan mulut penuh makanan.


Sedangkan Asloka hanya bisa memutar kedua bola matanya secara malas, selalu saja berkata seperti itu, padahal jelas-jelas tubuh istrinya ideal, tidak gemuk juga tidak kurus-kurus banget, beda saat pertama bertemu dulu.


"Ma, perutku kenyang, sumpah ini mau meletus," keluh Anne tak sanggup lagi makan, jika dihitung dia sudah menghabiskan dua piring nasi, belum juga buah-buahan yang diberikan Ega.


"Baiklah, jika sudah kenyang. Sekarang minum susunya, tadi Mama bikinin dengan cinta, pokoknya harus habis." Ega menyodorkan segelas susu.


Anne hanya menatap ragu pada gelas tersebut, jika dia paksa minum, yakin deh akan keluar semua isi perutnya. Dengan gelisah, Anne menatap suaminya agar membantunya mencari ide.


"Minum, Sayang." Karena tak mau membuat kecewa mertuanya, Anne menerima gelas itu dan meminumnya secara perlahan.


"Huuk!" Anne menutup mulutnya, dia tahan agar tidak muntah, bahkan Anne menatap kesal pada Asloka.


"Kamu kenapa, Sayang?" Ega mulai khawatir.

__ADS_1


"Ma, sepertinya Anne butuh tisu. Kelihatannya, tisunya habis, tolong ambilin sebentar ya," ucap Asloka seperti dewa penolong bagi Anne.


"Ya ampun, Mama lupa. Ya sudah Mama ambil tisu dulu, kamu habiskan susunya." Ega pun pergi ke dapur.


Sedangkan Asloka mendekati istrinya dan meraih gelas yang ada di tangan Anne, tanpa banyak bicara Asloka segera menghabiskan semua sampai habis.


"Beres!" seru Asloka sambil mengedipkan satu matanya.


"Ihh, nyebelin!" cibir Anne.


Tak lama setelah itu, Ega datang dan memberikan tisu pada Anne. Ega juga merasa sangat senang, karena susu herbal buatnya di habiskan Anne.


"Kamu cepat istirahat, Sayang. Biar Mama yang bereskan semua ini, jangan terlalu capek, ingat besok kamu harus menjalani checkup lagi," titah Ega.


Anne tak bisa menolak, lagian perutnya benar-benar begah, jadi untuk malam ini dia tidak akan membantu mertuanya bersih-bersih seperti saat liburan.


Sesampainya di kamar, Anne memilih ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan badannya, sekaligus memuntahkan sedikit isi perutnya. Setelah lega, Anne mencuci mukanya dan menatap cermin.


Matanya mulai berkaca-kaca lagi, tapi kali ini bukan karena sedih, tapi karena Anne bersyukur memiliki mertua seperti Ega.


"Mama orang yang sangat baik, jika aku mendapat mertua lain, mungkin mereka akan marah karena menantunya tidak mungkin bisa memberikan keturunan. Bahkan bisa saja, langsung diusir. Tapi mereka berbeda," gumamnya terus menatap cermin besar di depannya.


"Mereka sangat berbeda, bahkan kasih sayang mertuaku lebih besar ke aku, daripada Asloka. Sungguh beruntungnya aku mendapatkan mereka, terima kasih Tuhan, engkau telah mengirimkan mereka dalam hidupku. Aku berjanji, akan selalu tegar, bagaimanapun hasilnya nanti."


...****************...


Readers : Mak bukannya Anne dah makan di kantor ya!?


Emak : Emang, sebab itulah Anne sampai mokek 😂


Readers : Ih emak jahat, udah di buat gini malah di paksa makan.

__ADS_1


Emak : Daripada aku datangi pelakor, tenang aja Happy Ending kok. Sabar yang penting, jangan sampai tinggalkan emak yang terpenting 🤣🤣


__ADS_2