
...Banyak Typo nanti ku edit. ...
...***...
"Bagaimana hasilnya?"
Semua orang kini menunggu harap-harap cemas. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya hasil tes keluar. Tadinya, Asloka akan mengambil hasilnya sendiri, tapi karena Anne mengeluh badannya sakit semua, maka kurir yang mengantarkan hasil tes kesuburan Asloka.
"Aku tidak tahu, Ma. Kan Laka bukan dokternya, mungkin besok hasilnya akan keluar," balas Asloka membuat dua wanita di depannya ini lesu.
"Yah, padahal Mama pengen tau hasilnya. Soalnya Mama sempat mikir, jangan-jangan bibitmu kosong semua, karena burungmu sempat koma beberapa tahun," keluh Ega terus duduk di atas sofa.
Tidak dipungkiri sih, Ega khawatir masalah kesuburan Asloka, kan anaknya pernah mengalami kecelakaan sehingga burungnya KO beberapa tahun. Walaupun, sudah mulai aktif itu tidak menutupi kemungkinan buruknya.
"Mama jangan gitu dong, do'ain gitu yang baik-baik. Laka yakin kok, bibitku sangat unggul, bahkan berkualitas tinggi," katanya sedikit khawatir.
Gara-gara mamanya berkata seperti itu, Asloka jadi ragu pada dirinya sendiri. Apalagi, ini pemeriksaan pertamanya setelah kecelakaan. Dulu sempat Asloka disuruh kontrol, tapi dia terlalu terpuruk sampai melupakan semua dan lebih memilih mencari wanita jalangg.
"Ya, Mama kan hanya takut saja, apa salah?" Ega hanya bisa tersenyum.
"Daripada tebak-tebakan, mending kamu hubungi saja dokter Laura, kan tadi sempat berpesan seperti itu beliau," usul Anne dan menjadi jalan keluar bagi mereka semua.
"Nah, benar kata istrimu. Lebih baik kamu hubungi dokter Laura, daripada tebak-tebakan tidak pasti," ucap Aslan yang baru saja datang.
"Papa!" Ega mulai berbinar melihat suaminya pulang. Terhitung satu minggu lamanya mereka berpisah, sekarang orang yang sangat Ega rindukan sudah pulang ke rumah.
"Kangen ya?" Aslan memeluk erat istrinya dan menciumnya secara bertubi-tubi, tanpa memikirkan dua manusia di depannya.
"Iya lah kangen, masa tidak. Oh ya, tumben Papa pulang tidak bilang-bilang, kalau tau Papa pulang, pasti Mama masak sup ayam," kata Ega benar-benar tak memperdulikan anak-menantunya.
"Duh jadi gemes deh, ayo masuk. Papa ada oleh-oleh loh, Mama pasti suka," ajak Aslan terus meninggalkan Anne dan Asloka.
"Dih, mereka kebangetan. Kita seperti mahluk astral, tidak terlihat karena terlalu halus," cetus Asloka menjadi kesal.
__ADS_1
Tau seperti ini, dia tidak akan pulang ke rumah mamanya. Lebih baik kembali kerumah, bisa main kuda-kudaan lagi bersama istrinya. Tapi, karena mamanya ngerengek minta di temani selama papanya pergi, maka mau tak mau Asloka harus tinggal di rumah utama.
"Jangan gitu, kamu sendiri juga seperti papa loh. Malah lebih parah kamu, karena tidak kenal tempat pokoknya menyatu," tegur Anne, namun dia juga tertawa. Lucu aja gitu melihat suaminya kesal, jadi sangat menggemaskan.
"Sudah ngambeknya, ayo masuk kamar setelah itu segera hubungi dokter Laura. Aku juga penasaran sama hasilnya," kata Anne menggandeng suaminya masuk ke dalam kamar.
Asloka hanya menurut, dia mengekori Anne dari belakang. Setelah sampai, dia langsung mengambil ponsel dan menghubungi dokter Laura. Perasaannya sangat lega, saat dokter Laura mengatakan jika kualitas benih-benih nya sangat bagus.
Sekarang keraguannya tadi tidak terbukti, sekarang hanya menunggu hasilnya saja dan Asloka berharap semua berjalan lancar sampai Anne berhasil hamil.
Hari-hari mereka juga berjalan dengan lancar, proses demi proses mereka lakukan sesuai anjuran dokter Laura. Anne juga merasa senang, selama pengobatan Asloka selalu ada disampingnya dan selalu mendukung apapun hasilnya nanti.
Tak terasa juga, waktu demi waktu berlalu. Dua bulan sudah mereka lalui penuh suka duka, hari ini juga dokter Laura menyuruhnya untuk kontrol setelah mendapat kabar jika hasil tes kehamilan Anne menunjukkan dua garis samar-samar.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Asloka saat dokter Laura melakukan USG.
"Belum ada tanda-tanda kehamilan, tapi mungkin ini masih terlalu dini, kan baru tiga hari telatnya. Dua minggu lagi coba datang lagi, pasti akan terlihat," kata dokter Laura.
Terlihat sekali Anne merasa kecewa, padahal dia sudah sangat antusias, tapi ternyata hasilnya sangat mengecewakan.
"Munculnya 2 garis di testpack, biarpun garis samar, bisa diartikan sebagai tanda kehamilan. Hal ini mungkin terjadi akibat kadar hormon hCG yang dihasilkan tubuh masih sangat rendah sehingga belum terdeteksi semua. Tapi ...." Laura menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Tapi, kesalahan juga bisa terjadi pada sampel urine yang digunakan untuk mendeteksi kehamilan. Ada kemungkinan urine telah menguap atau tercampur dengan zat asing sehingga merusak hasil tes. Selain itu, waktu yang kurang tepat saat melakukan pemeriksaan juga bisa meningkatkan risiko gangguan pada hasil tes Bu Anne, termasuk hasil testpack garis samar," kata dokter Laura. Sedangkan Anne juga Asloka hanya mendengarkan saja.
"Apalagi Bu Anne juga mengkonsumsi obat kesuburan dan ini bisa mempengaruhi hasil pemeriksaan test pack karena ada kemungkinan kandungan obat merangsanng produksi hormon tertentu. Tapi saya yakin kok, Bu Anne tengah mengandung, hanya saja kita harus bersabar sampai dua minggu kedepan untuk mengetahui hasilnya," jelasnya secara detail.
Setelah mendengarkan apa kata dokter Laura, mereka akhirnya bisa sedikit tenang, setidaknya mereka harus yakin jika saat ini Anne memang tengah mengandung.
Dokter Laura juga memberikan peringatan agar Anne tidak terlalu banyak aktifitas, mengurangi jatah ranjang untuk beberapa saat, harus mengonsumsi makanan bergizi, bahkan dokter Laura memberikan beberapa suplemen ibu hamil pada Anne.
Di rasa semua sudah jelas, Anne juga Asloka memutuskan untuk pulang. Setelah antri obat, mereka berjalan keluar rumah sakit. Tapi, saat sampai lantai bawah. Anne melihat Icha, begitu juga dengan Asloka.
Tapi, Asloka pura-pura tak melihat dia tak mau berhubungan dengannya lagi. Apalagi, Asloka tak ingin Anne salah paham, jika dia tidak berpura-pura.
__ADS_1
"Anne," panggil Icha sangat keras dan mau tak mau Anne harus berhenti untuk menatap Icha.
'Kenapa Icha mengenal Anne? Sejak kapan dan kenapa aku tidak tahu tentang ini,' batinnya sangat heran.
"Lama tidak berjumpa, Abel," balas Anne tersenyum paksa. Sumpah hatinya saat ini dongkol, benci banget pokoknya melihat Icha.
"Iya, sudah lama kita tidak saling berkabar. Bagaimana kabarmu dan Laka, apa baik-baik saja?" tanya Icha tersenyum lebar pada Anne, tapi sayangnya Anne mengira senyuman itu untuk suaminya.
Tangannya mengepal kuat, dia ingin menjambak Icha. Entahlah rasanya sangat kesal sekali, padahal sebelumnya dia tak pernah sejengkel ini pada Icha.
"Wah, merekah sekali ya senyumanmu pada suamiku! Kamu tidak lupa, jika dia sekarang suamiku bukan kekasihmu lagi!" seru Anne membuat Asloka terbelalak.
Dia benar-benar kaget, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di otaknya. Antara kenapa Icha kenal Anne, kenapa Anne memanggil Icha sebagai Abel, terus sejak kapan istrinya tau kalau Icha adalah mantan kekasihnya.
'Sepertinya ada yang tidak beres.'
...****************...
Asloka : Emak Sayang, gimana kabarnya sudah sembuh belum? 🤭
Emak : Apa lu, pakek ketawa ngejek gitu. Mau ku gaplok? 🤔
Asloka : Eh nggak loh, aku ini berusaha menjadi anak baik loh mak. Jangan galak-galak, nanti sakit lagi. 🤣
Emak : Ngapusi, sok baik pasti ada maunya. Dahlah, nggak mempan. Emak mau hibernasi, mau healing ke suatu tempat.
Asloka : Loh mak, kemana ikut!
Emak : Emak mau ke pulau kapuk, jangan ganggu! Lu ngintil terus, ku lempar parang loh!!
Asloka diam seribu bahasa, dia masih mau hidup dan bersama Anne.
Asloka : Para pembaca, sabar ya, emakku lagi SETERES jadi di mohon bersabar dan jangan ganggu mentalnya, kalau nggak mau berakhir --
__ADS_1
prankkkkk! 🔪🔪🔪🔪
Asloka : Ampun makkk 🏃♂️🏃♂️🏃♂️🏃♂️