
Hari ini Asloka bersiap-siap ingin ke kantor, seperti biasa dia akan sarapan seperti biasa, selesai sarapan langsung berangkat. Namun, saat Asloka ingin pamit pada istrinya, dia melihat Anne sudah bersiap-siap seperti akan pergi juga.
"Kamu mau kemana, An?" tanya Asloka.
"Mau ikut kamu, ayo berangkat," ajaknya langsung mengapit lengan Asloka.
"Ikut ke kantor?" tanya Asloka ke heranan.
"Hmm, ayo nanti keburu terlambat."
Mereka pun akhirnya keluar dari rumah bersama-sama dan menuju kantor, hari ini Asloka melihat istrinya sangat bahagia, entah karena apa, tapi melihat Anne berseri-seri membuatnya sedikit lega.
"An, boleh aku tanya sesuatu?" Asloka membuka pembicaraan di antara mereka berdua.
"Boleh, kamu mau tanya apa?" Anne masih fokus pada pemandangan di luar sana.
"Kenapa kamu kenal dengan Icha dan mengapa dia, kamu panggil Abel?"
Pertanyaan itu pun berhasil melunturkan senyuman di bibir Anne, dia menatap juga menatap tajam Asloka. "Kenapa tanya masalah itu, ha?" cetusnya.
Gluk!
Rasanya sangat sulit menelan ludahnya sendiri, apalagi Asloka merasa telah salah bicara. 'Kenapa juga aku tanya masalah ini, sudah tau istrimu sensitif banget beberapa hari ini,' batin Asloka.
__ADS_1
"Jawab!"
Asloka terjingkat. Sungguh dia kaget, istrinya benar-benar berubah. Lebih garang dan menakutkan, daripada dulu saat mereka masih pacaran dan awal menikah.
"Aku hanya tanya, Sayang. Dia kan namanya Icha, kenapa kamu panggil dengan Abel. Apa sahabat yang kamu maksud itu —"
"Mantan sahabat, dia bukan sahabatku lagi. Dia terang-terangan menyuruhku melepaskanmu waktu di hari pernikahan, masalah nama dia sendiri yang mengenalkan diri sebagai Abel. Bukannya dulu dia kekasihmu, apakah kamu tidak tau jika nama aslinya. Oh iya, aku lupa Abel bilang nama Icha hanya khusus untuk orang-orang spesial!" seru Anne penuh penekanan.
Sedangkan Asloka menjadi geram, kenapa dia tidak tahu masalah ini. Pantas saja saat itu Asloka menemukan Icha, ternyata Icha adalah Abel. Jadi wajar jika istrinya menjadi sensitif saat melihat Icha, karena Icha pernah memintanya menyerah.
"Aku lupa jika namanya ada Abel nya, An. Dari awal aku panggil dia Icha dan masalah di hari pernikahan, kenapa kamu tidak bilang?" Asloka terus meraih tangan istrinya dan menggenggamnya. Sedangkan tangan satunya masih fokus pada stir mobil, walaupun sedikit berdebat Asloka masih bisa fokus pada jalan.
"Untuk apa cerita? Toh aku sudah melihat semua apa yang kamu bicarakan pada Abel, itu sudah cukup membuktikan jika kamu serius sama aku," balas Anne.
Asloka tersenyum kecil, "jika sudah tau jawabaku seperti apa, terus kenapa kemarin marah-marah sayang? Prinsipku itu tidak pernah bisa di ubah, jika aku sudah memilih kamu sampai mati pun hanya kamu, An. Jangan pernah berpikir semua akan pudar, karena semakin kesini aku semakin mencintaimu," ucapnya sambil mengecup lembut punggung tangan Anne.
Hingga tak terasa mobil mereka kini memasuki gedung perkantoran Mahes Group. Setelah memastikan mobilnya terparkir sempurna di depan pintu masuk, mereka segera turun dan menyerahkan kunci mobil pada security di sana.
Anne menggandeng tangan suaminya, mereka masuk bersama dan banyak sekali pasang mata yang terpaku dengan mereka. Banyak orang-orang mempertanyakan tumben istri tuanya datang ke kantor, terakhir melihat Anne memang saat awal-awal setelah pernikahan.
***
Helaan nafas kasar Anne keluarkan dari mulutnya. Dia sangat bosan di sini, tidak ada yang diajak bicara sama sekali. Mereka semua sibuk dengan pekerjaan, sedangkan dirinya hanya duduk bersantai sambil ngemil kue-kue di depannya.
__ADS_1
Anne sejenak melirik suaminya, dia sempat terpesona melihat ketampanan Asloka. Ternyata jika Asloka serius dalam pekerjaan terlihat lebih ganteng, di tambah dengan kacamata yang dikenakan suaminya, itu semakin menambah daya tariknya.
"Sayang, aku bosen." Anne berdiri dari dudukan dan mendekati sang suami.
"Kan sudah aku bilang tadi, seharusnya kamu ada di rumah saja, biar nggak bosen," balas Asloka menghentikan kegiatannya.
Dia melihat istrinya cemberut, tapi tak lama setelah itu Anne duduk di pangkuan Asloka sambil menyandarkan kepalanya di dada Asloka.
"Berhenti kerja kenapa sih, beberapa hari ini kamu selalu telat pulang, aku jadi kesepian di rumah. Niatnya ikut biar terhibur, malah lebih bosan di sini," keluh Anne.
Jujur Asloka jadi tidak enak hati pada istrinya, memang satu bulan ini dia sangat sibuk, sering sekali lembur. Bahkan saat dia sampai rumah, dia melihat Anne tertidur lelap di sofa seperti menunggunya.
"Maaf ya, jika akhir-akhir ini sibuk. Perusahaan sedang mengalami masalah, jadi aku harus lembur," balas Asloka terus mengecup lembur puncak kepalanya.
Anne tak menjawab, dia lebih memilih memeluk suaminya sangat erat. Matanya juga terpejam menikmati harum maskulin suaminya, sungguh menenangkan berada dalam pelukan sang suami.
Tak lama setelahnya, Asloka mendekati dengkuran halus dari istrinya. Dia melirik sejenak, ternyata benar Anne tertidur dengan damai. Tidak mau membuat Anne capek, akhirnya Asloka memutuskan untuk memindahkannya ke kamar.
Perlahan-lahan Asloka menurunkan Anne, takut jika istrinya bangun. Setelah menyelimutinya dengan benar, Asloka ingin kembali tempatnya, tapi Anne melarangnya pergi.
"Tetaplah disini, jangan tinggalkan aku."
Asloka tak bisa menolak, dia mengikuti permintaan istrinya. Asloka tidur di samping Anne sambil memeluknya, sekian detik mengelus lembut punggung Anne, ternyata membuatnya juga mengantuk dan ikut terlelap dalam balutan selimut tebal berwarna abu-abu.
__ADS_1
...****************...
Hai jika melihat typo tandai di komen ya, karena ini belum ku liat, mata juga panas rasanya untuk mentengin tulisan segede semut. Hurufnya jadi 2 🙉🙉🙉