Hasrat Tuan Asloka

Hasrat Tuan Asloka
HTS - 45


__ADS_3

"Laka, ini bukan jalan menuju rumah sakit Sentosa. Kamu tidak lupa kan, rumah sakitnya, dimana?" Anne langsung panik saat suaminya ini bukan menuju rumah sakit langganan-nya.


Sedangkan Asloka hanya menggeleng sambil tersenyum. Dia tak ingin membahasnya sekarang, lebih baik dia jujur saat sudah sampai di rumah sakit.


"Tapi, kenapa? Aku sudah ada janji loh, terus sekarang jalannya juga macet, pasti kita akan telat nanti." Oceh Anne terus-menerus.


"Aku ada keperluan sebentar, Sayang. Kita tidak akan telat kok, sabar sebentar ya," sahut Asloka sedikit menarik nafas panjang.


Anne pun akhirnya diam, dia tak berani bicara lagi. Intinya, Anne hanya menurut dan mau dibawa kemana saja. Sampai akhirnya mereka sampai di salah satu rumah sakit.


Asloka turun dari mobil, begitu juga dengan Anne. Mereka berdua masuk, sampai akhirnya bertemu dengan Angga. "Akhirnya kau datang juga, lama sekali sih. Dokter Laura sudah menunggu dari tadi," cetus Angga.


"Sorry, jalanan macet," jawab Asloka.


Angga mengangguk paham, setelah itu dia mengajak mereka menuju ruangan pemeriksaan. Sesampainya di sana, Anne juga Asloka di sambut dokter cantik dan terlihat sangat ramah.


"Laura, merekalah yang aku maksud tadi," ucap Angga pada Laura.


Laura tersenyum ramah dan mempersilahkan mereka duduk, setelah lama berbincang-bincang. Anne mulai menceritakan keluh kesahnya selama beberapa bulan ini, bahkan Laura juga sempat menanyakan hal hal apa saja yang Anne lakukan selama lima bulan terakhir.


"Kalau seperti itu, kita mulai saja pemeriksaan-nya. Silahkan lepas celana, sekalian CD nya, ya. Saya akan melakukan USG lewat bawah, kita lihat sel-sel telurnya dulu," kata Laura mempersilahkan alat USG.


Anne menurut untuk melepaskan semua, dengan bantuan suster pendamping Laura. setelah selesai, Anne di bantu naik ke atas kursi pemeriksaan.


Asloka yang melihat posisi istrinya sangat terbuka, sejenak dia melirik Angga. "Tutup matamu!" serunya penuh tatapan tak suka.


"Ck! Buat apa di tutup? Aku pernah melihatnya, kan aku yang menjadikan dia seperti perawan lagi," cetus Angga membuat Anne semakin malu. Bisa-bisanya Angga bicara seperti itu di hadapan Laura, sehingga membuatnya ingin tenggelam di dasar jurang paling dalam.


"Bu Anne pernah melakukan operasi kah? Kok tadi saya lihat ada bekas sayatan di perut bu Anne?" tanya Laura membuat semua orang menatap ke arah Anne.


"Iya, Dok. Dulu saya pernah menjalani operasi usus buntu. Apa ada hubungannya dengan keluhan saya?" balas Anne sedikit takut.


"Kalau boleh tau, kapan Ibu melakukan operasi?" tanya Laura sambil memasang wajah serius.

__ADS_1


"Sekitar dua tahun lebih, Dok," balas Anne sekali lagi.


"Ada yang salah, Lau?" bisik Angga dan Laura mengangguk. Sebenarnya Laura sudah tau bekas operasi itu saat Anne menaikan bajunya sedikit ke atas, tapi setelah melihat hasil USG, Laura sedikit kaget.


"Berarti waktu itu umur bu Anne masih 23 tahun, kenapa masih muda memutuskan KB steril? Sayang banget loh dan bekas operasi ini sepertinya bukan operasi usus buntu, tapi operasi saat melakukan sterilisasi," kata Laura sedikit menyayangkan tindakan Anne.


Deg ... Deg ... Deg ....


Jantung Anne terus berdetak sangat kencang mendengar ucapan Laura, dia ingat betul saat itu mertuanya bilang kalau dia harus melakukan operasi usus buntu demi keselamatan nyawanya, buka KB steril.


Air matanya juga mulai mengalir, Anne benar-benar seperti dihantam batu besar di hatinya mendengar perkataan Laura. "Bagaimana mungkin, Dok? Dokter tidak salah periksa kan, saya yakin kok, itu operasi usus buntu, bukan KB steril."


"Semua terlihat jelas disini, Bu. Lihatlah lingkaran kecil seperti cincin ini, dan saya berani bersumpah jika prediksi saya benar. Kalau masih tidak percaya, kita bisa menghubungi dokter yang menangani bu Anne waktu itu."


Penjelasan Laura semakin membuat Anne menangis, Asloka yang melihat istrinya hancur hanya bisa memeluknya erat. Dia terus menyemangati Anne, dan berkata semua akan baik-baik saja, tapi tetap saja istrinya tidak bisa berhenti menangis.


Ingin sekali Asloka marah, murka pada keluarga Geo. Tapi, untuk saat ini menenangkan Anne lebih utama. Dia akan selalu berada di sampai istrinya, sampai wanita itu tenang.


"Kau seorang dokter, walaupun bukan spesialis kandungan tapi kau pasti paham. Jika sudah memutuskan sterilisasi pasti akan sulit untuk hamil kembali, karena KB ini bersifat paten," balas Laura sangat pelan takut Anne semakin shock.


"KB apapun itu tidak ada yang permanen, Lau. Mungkin saja saluran tuba Anne bukan dipotong, hanya di ikat, aku yakin itu," jelas Angga. Dia sangat berharap saluran tuba Anne hanya di ikat, bukan di potong.


"Ya aku tau, tapi tetap saja semua ada resikonya kedepan, Angga. Aku butuh pemeriksaan lengkap, juga harus melakukan tes lebih jauh, setelah itu baru bisa melakukan tindakan, walaupun hasilnya hanya 15℅ saja," ujar Laura sekali lagi.


Angga mengusap wajahnya sangat kasar, dia menatap Asloka dan mengisyaratkan bawahnya harapan untuk sembuh sangat kecil. Bahkan, Angga juga melihat kemarahan dalam mata sahabatnya itu.


'Tamat sudah riwayatmu, Geo! Kau akan kubunuh hari ini juga!'


***


Asloka menuntun Anne masuk ke dalam kamar, setelah memutuskan untuk melakukan pemeriksaan lengkap mulai besok, dia mengajak pulang Anne.


Sesampainya di kamar, Anne masih diam seribu bahasa. Wanita yang tadinya sangat cerewet kini berubah menjadi pendiam, bahkan tak ada senyuman di wajahnya.

__ADS_1


Sedih, sungguh Asloka sangat sedih. Dia ingin membuat Anne kembali tersenyum, tapi tidak tahu memakai cara apa. Jika bisa ditukar dengan nyawanya, maka Asloka berikan secara cuma-cuma jika itu bisa membuat Anne kembali bahagia


"Kamu mau aku buatkan susu?" tanyanya hanya di jawab gelengan oleh Anne.


"Jangan terlalu sedih, Sayang. Semua pasti baik-baik saja, kamu pasti sembuh, intinya tetap semangat," lirih Asloka sambil menggenggam erat jemari-jemari istrinya.


"Itu sangat mustahil, Laka. Dokter Laura sudah menjelaskan bukan, jika semua sangat mustahil walaupun kita memiliki 15℅ keberhasilan. Aku cacat Laka, aku wanita cac —"


Anne memberontak saat Asloka membungkam mulutnya dengan ciumann mendadak, dia terus mendorong tubuh suaminya, tapi Asloka sangat sulit dilawan.


Anne hanya bisa menangis sambil membiarkan Asloka terus melumatt bibirnya, setelah beberapa menit barulah suaminya melepaskan pagutannya dan memeluk tubuh Anne sangat erat.


"Jangan pernah berkata seperti itu, Sayang. Bagiku kamu sangat sempurna, tidak ada cacat sedikitpun. Kamu percaya kan sama aku?" Anne langsung mengangguk walaupun kecil.


"Kalau kamu percaya padaku, maka kamu harus percaya jika semua akan baik-baik saja. Sekarang lebih baik kamu istirahat, akan aku buatkan susu hangat. Tunggu disini sebentar," ucapnya langsung meninggalkan Anne di dalam kamar.


Asloka ingin membuat minuman untuk istrinya. Karena sebelumnya Laura menyarankan agar Anne di beri obat penenang sementara waktu, agar Jiwanya sedikit tenang sampai proses penyambungan tuba tiba.


"Selesai, maafkan aku An. Mungkin ini sangat keterlaluan, tapi semua agar kamu bisa tenang sedikit," lirih Asloka terus membawa segelas susu untuk Anne.


Tapi, baru saja Asloka membuka pintu kamarnya, dia sudah tak melihat Anne. Karena panik, Asloka memilih menaruh minuman itu di atas nakas. Setelah itu Asloka mencari istrinya ke dalam kamar mandi, tapi sayang Anne tidak ada di sana.


Panik, Asloka sangat panik apalagi kondisi istrinya sedang tidak stabil. Karena, tak menemukan Anne di mana-mana, Asloka memutuskan menghampiri satpam di depan pagar.


"Pak Basri, melihat Anne tidak!" Asloka sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Baru saja keluar, Pak. Tadi naik ojeknya mang Aming," balas Basri.


"Shiit! Kemana anak ini!" Asloka benar-benar panik. Dia tak memperdulikan siapa-siapa saat ini, dia langsung mengambil kunci mobil dan mengejar istrinya.


...🙆‍♀️🙆‍♀️🙆‍♀️🙆‍♀️...


Hey, aku bingung di kasih konflik apa. jadi ku buat gini aja deh, daripada aku biarin Icha masuk kan dah bosen kek gitu 🙈 tegang karena seperti ini lebih nikmat, daripada tenang nahan anua 🐒🐒

__ADS_1


__ADS_2