
"Sayang, aku datang membawa teh hangat dan alat kompres untuk perutmu," ucap Asloka langsung masuk begitu saja ke dalam kamar.
Sedangkan, yang diajak bicara hanya diam membisu tak mau membalas sedikitpun. Bahkan, Anne langsung menangis sehingga membuat Asloka panik.
"Kamu kenapa? Apa perutnya semakin sakit, kalau iya kita ke dokter saja," ucap Asloka lagi, tapi kali ini nada bicaranya sangat khawatir.
Asloka semakin mendekati istrinya, dia taruh terlebih dulu gelas dan alat kompresnya. Setelah itu, Asloka berjongkok sambil menggenggam erat tanya Anne.
"Kamu kenapa, Sayang? Bicara, jangan diam saja, sehingga membuatku panik. Jika memang sakit, ayo ke rumah sakit," ajaknya lagi tapi kali ini mendapat respon gelengan.
"Aku ngecewain kamu, Laka," ucapnya di sela-sela tangisannya.
"Ngecewain apa? Aku sama sekali tidak merasa di kecewakan kamu, Sayang," jawab Asloka cepat.
"Jika kamu tau yang sebenarnya pasti akan kecewa, mungkin harapanmu selama ini akan pupus," katanya lagi.
Asloka semakin bingung, dia tak paham dengan pembahasan kali ini. Dia juga pusing memikirkan apa yang bisa membuatnya kecewa selain gagal bercinta.
"Lebih baik kamu jujur saja deh, An. Jangan main tebak-tebakan seperti ini, jika kamu bilang akan membuatku kecewa tanpa memberitahukan semua, bagaimana aku bisa berekspresi." Asloka semakin mengeratkan genggamannya.
Anne terlihat sangat ragu, tapi dia juga tetap menunjuk ke arah bawah. Dia menyuruh Asloka melihat kain putih itu dan tentunya Asloka langsung melihatnya, tapi baru saja membuka kain itu, matanya langsung melotot.
"Kamu berdarah, Sayang? Di mana, apanya yang luka? Kita harus me rumah sakit, pokoknya harus!" serunya tak bisa mengontrol rasa panik nya.
"Aku baik-baik saja, tidak terluka sama sekali. Aku hanya sedang datang bulan dan aku menangis karena keinginanmu memiliki anak gagal, sepertinya memang aku tidak bisa memiliki aneh deh." Setelah mengatakan semua Anne kembali menangis.
Dia takut suaminya marah, kecewa dan meninggalkan dirinya. Sempat dia merasa yakin jika tubuhnya baik-baik saja, tapi melihat kejadian ini, rasa percaya dirinya langsung hilang tertelan angin lalu.
__ADS_1
"Hey, jangan bicara seperti itu Sayang. Semua butuh proses, tidak langsung jadi. Lagian, aku tidak ingin terlalu memaksakan. Se dikasihnya saja sama Tuhan, sudah jangan nangis lagi, aku kira tadi kenapa, buat aku panik saja."
Asloka pun memilih berdiri dari jongkoknya dan langsung menghapus air matanya, setelah itu Asloka memberikan teh hangat buatannya tadi pada Anne.
"Minum dan setelah itu istirahat, jangan mikir macam-macam. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, walaupun sampai tua nanti kita tidak memiliki anak, aku tetap disampingmu," ucapnya terus mengecup lembut kening Anne.
"Kamu serius, Laka? Jika nanti aku beneran tidak bisa memiliki anak, kamu tetap disampingku, tanpa menikahi wanita lain?" tanya Anne. Tidak masalah kan tanya, toh dia juga trauma akan pernikahan terdahulu. Takut jika akan ada orang ketiga lagi di kehidupannya.
"Aku serious, An. Bahkan aku berani bersumpah, jika hanya kamu yang akan menjadi istriku, tidak akan ada yang lain, walaupun banyak godaan di luar, tetap kamu istriku."
Mendengar ucapan suaminya, Anne menjadi terharu. Dia peluk erat suaminya dan terus mencium aroma maskulin Asloka, rasanya sangat menenangkan, sehingga membuatnya bisa terpejam dengan damai.
***
Beberapa orang di dalam kantin terperangah tak percaya saat melihat Asloka masuk ke dalam kantin. Sungguh, mereka baru kali ini melihat CEO Mahes Group masuk ke dalam kantin. Padahal, biasanya lelaki itu selalu meminta orang untuk membeli sesuatu, tapi sekarang apa?
"Bu, ada pembaluut wanita tidak?" tanya Asloka.
"Saya tidak perlu mengulangi semua kan, Bu? Tinggal katakan ada atau tidak bereskan, kasian istriku jika terlalu menunggu lama," kelakar Asloka membuka pemilik toko paham.
"Oh ya, sebentar saya ambilkan Tuan."
Asloka mengangguk dia menunggu Ibu tadi mengambil barang yang dia butuhkan, sesekali Asloka melihat ponselnya agar tidak bosan. Namun, siapa sangka di balik kebosanannya, tiba-tiba mendengar gunjingan dari salah satu pegawainya.
"Tuan Laka ternyata suami takut istri ya, kalau jadi aku di suruh beli barang begituan mah ogah, menurunkan harga diri banget!" seru lelaki bernama Arman.
"Hust, jangan seperti itu. Tuan bukan lelaki takut istri, tapi dia itu sangat pengertian," kata Bambang. Tapi, sayangnya Arman terus mengejek Asloka, tanpa memikirkan kedepannya bagaimana.
__ADS_1
Sedangkan Asloka, dia hanya bisa mengepalkan tangannya. Memang ada yang salah kah jika dirinya membelikan Anne roti kempit, toh itu semua bukan hal memalukan juga.
"Tuan, ini pembaluut nya. Mau yang sayap atau biasa?" tanya pemilik toko.
"Ku ambil semua!"
Pemilik toko menangguk, setelah selesai pembayaran dan membungkus, Asloka memutuskan menghampiri dua manusia yang masih menggunjing dirinya.
"Kalian berdua temui saya di ruangan!" Asloka berbicara sambil menampilkan wajah murka.
Melihat mereka akan bersuara, Asloka langsung menghentikan mereka dengan kode tangan. Setelah itu, Asloka memilih pergi dari hadapan mereka.
"Lain kali, kalau mau ngerumpi jangan di kantorku. Pergi dari sini jika tidak butuh pekerjaan, mengurusi urusan orang lain itu lebih menjijikkan daripada membelikan istri pembaluut."
...🌾🌾🌾...
Emak : Bantai laka, kalau perlu pecat! 💃💃💃
Asloka : Mak, kenapa kau buat Anne halangan, ha? aku baru bisa nyelup tujuh hari lohhhh.
Emak : Dih nggak nyambung ngomong nya, emak kan nyuruh pecat orang tadi. 🙃🙃
Asloka : Emak juga nggak nyambung, belum jawab pertanyaanku. 😡
Emak : Ya ya ya, mak sengaja karena apakmu juga puasa 😂😂😂
Asloka : Dasar emak, kalau menderita jangan ngajak-ngajak! dahlah, mau cari emak baru aja. 🙄🙄🙄
__ADS_1
Emak : Cari aja, nanti Anne ku nikahin sama Geo. 💃💃💃💃
Asloka: Astaghfirullah 😑😑😑