Hasrat Tuan Asloka

Hasrat Tuan Asloka
HTA - 52 Buka Puasa ++


__ADS_3

Hari ini tepat tujuh bulan setelah Anne menjalani operasi. Dokter juga sudah memperbolehkan mereka melakukan program hamil, walaupun terhitung masih terlalu cepat namun dokter Laura sudah memberikan lampu hijau bagi mereka.


Kali ini yang melakukan pemeriksaan adalah Asloka. Dokter akan mengecek kesuburan suami Anne, setelah itu baru proses pematangan sel terus dan menentukan kapan masa subur Anne.


"Selamat siang, Pak Laka. Bagaimana sudah siap melakukan pemeriksaan, kalau sudah silahkan masuk ruangan khusus nanti suster akan mengantar Bapak dan Bu Anne," kata Laura sambil memberikan beberapa berkas Asloka, untuk diberikan pada penjaga Laboratorium.


"Baik dok, terima kasih sebelumnya," kata Asloka.


"Sama-sama, Pak Laka."


Tak lama setelah itu datanglah seorang suster dan memandu mereka ke tempat pengambilan benih-benih kecebong, setelah suster menyelesaikan beberapa pendataan, barulah suster tadi kembali sambil membawa botol kecil.


"Pak Laka bisa masuk sekarang, sebelumnya saya jelaskan, jika belum merasa keluar jangan sampai membuka botol ini ya, Pak. Karena botolnya sudah disterilkan, terus saat melakukan perangsangann jangan sampai melakukan hubungan badan, sama jangan sampai terkenal lendir apapun itu, hanya boleh berusaha menggunakan tangan saja, paham kan Pak?" Suster itu menjelaskan semuanya.


Sedangkan Laka hanya mengangguk ragu, dia berpikir kalau hanya menggunakan tangan saja apakah bisa keluar. Tapi, apa salahnya dicoba, toh dulu dia pernah main solo karier di kamar mandi.


Setelah itu, Asloka dan Anne masuk ke dalam. Ternyata di dalam terlihat sangat nyaman, tidak seperti bayangannya tadi. Malah terlihat seperti ruang tamu di rumah pribadi.


"Baru tau aku, kalau tempat pengambilan benih-benih kecebong, seperti ruang tamu. Mana ada TV, ber AC, ada banyak majala juga," ucap Asloka terus melihat sekeliling.


Anne tak menjawab, dia lebih memilih menaruh tasnya di atas meja. Setelah itu Anne mendekati suaminya, "kamu sudah siap? Kalau sudah ayo kita mulai, jangan terlalu lama nanti kasian yang antri di luar," bisik Anne langsung menerjang bibir suaminya.


Anne masih ingat apa kata dokter Laura tadi, jika dirinya bisa membantu suaminya agar nafsunya terangsanng, tapi hanya sekedar berciumaan tidak boleh yang lebih.


"Kamu agresif sekali hari ini, Sayang." Asloka mengeratkan jarak mereka agar tidak ada jarak di antara dia dan istrinya.


"Aku merindukanmu, Laka."


Tanpa banyak bicara mereka melanjutkan kegiatan mereka, Asloka juga terus menerjang Anne dengan memberikan banyak sekali tanda kepemilikan di dada istrinya.

__ADS_1


Setelah itu, Asloka membuka pengait BRA istrinya dan saat dua bongkah itu tumpah, Asloka langsung menyeruput benda itu seperti bayi. Asloka memainkannya dengan lihai, sehingga Anne hanya bisa mengerang kuat.


Tangan Anne tak mau diam saja, dia berusaha membuka celana suaminya sampai menampilkan benda panjang nan berurat itu. "Dia cepat sekali bereaksi, Sayang," bisik Anne mulai nakal.


Dia memainkan benda panjang itu, sesekali menurutnya dengan lembut. Sampai membuat sang empu meracau tak karuan, namun ini malah membuat Anne semakin semangat, dengan kekuatan on express. Dia memainkan tangannya secara lihai, hingga beberapa menit kemudian Asloka merasakan akan keluar.


"A-an, aku mau keluar, cepat buka, cepat!" teriak Asloka melepaskan tangan Anne agar istrinya membuka botol tadi, sedangkan dirinya mulai mengurut miliknya sendiri.


"Tunggu, jangan di keluarkan dulu!" Anne jadi panik, sampai membuka tutup botol saja selalu meleset.


"Aku tidak kuat, cepat!" teriak Asloka semakin mempercepat gerakannya.


"Berhasil!" Anne langsung mengarahkan botol itu ke puncak lele berurat suaminya. Bahkan tak lama setelah Anne menempatkan botol, cairan susu kental manis pun muncrat ke dalam sana, ada sih beberapa kena tangan Anne.


"Ahh, plong rasanya." Asloka terus mendongak ke atas. Sedangkan Anne segera menutup botol kecil itu.


"Aku mau cuci tangan dulu," lirih Anne sambil mengelap sisa-sisa benih-benih Asloka menggunakan tisu. Akan tetapi, baru saja Anne mau pergi, suaminya lebih cepat menarik tangannya dan tersenyum penuh arti.


"Mau kabur kemana, Sayang? Lihatlah dia, belum juga tidur, buatlah dia lemas baru kamu boleh pergi," ucap Asloka sangat sensual di telinga Anne.


"Laka, kita di rumah sakit loh, jangan aneh-aneh, nanti ketahuan suster tidak lucu," balas Anne sedikit menjauh.


"Tidak akan ada yang masuk, pintu kita kunci dari dalam, jadi aman." Selesai bicara Asloka segera membalikan tubuh istrinya dan menyuruhnya menungging sambil bersandar di sofa. Tanpa basa-basi, Asloka menurunkan celana Anne dan segera memasukkan lele beruratnya begitu saja.


"Jelb!!"


"Ahhh, Laka!" Anne hanya memejamkan mata menikmati gesekan-gesekan kasar dari suaminya. Tubuhnya tersentak ke depan, dia hanya bisa menggigit lengannya untuk menahan kenikmatan tiada duanya ini.


Dia juga tak tinggal diam, Anne juga mulai menggerakkan pinggulnya mengiringi ritme dari Asloka. Sayangnya, Anne tak bisa mengeluarkan desahann, takut jika ada yang mendengar, walaupun dia yakin sih ruangan ini kedap suara.

__ADS_1


"Laka aku mau keluar!" teriak Anne semakin liar menggoyangkan pinggulnya.


"Aku juga." Asloka meremaas gemas dua gunung kembar Anne, sampai pelepasan itu datang dan membuat mereka berdua tak bisa mengontrol suara-suara yang keluar dari mulut mereka.


***


Anne melihat penampilannya di cermin sebelum keluar dari dalam, dia tak mau terlihat sangat kacau saat keluar. Meski kakinya sangat lemas, tapi Anne harus berusaha terlihat baik-baik saja.


"Mau istirahat dulu?" tawar suaminya.


"Tidak! Kita sudah terlalu lama di dalam, nanti mereka mikir aneh-aneh!" tolak Anne. Dia kembali menyisiri rambutnya, agar terlihat rapi seperti semula.


"Ya biarin, kan kita suami istri," cetus Asloka menjadi kesal. Dia memeluk istrinya dari belakang, namun Anne segera melepaskan pelukan itu.


"Ya aku tau, kita suami-istri. Tapi, tempatnya itu sangat tidak ramah lingkungan." Anne langsung memijat keningnya.


Karena tak mau semakin lama di dalam, Anne memutuskan keluar terlebih dulu sambil membawa stempel suaminya. Dengan langkah pasti, dia keluar dari ruangan dan langsung menuju tempat suster yang mengantarkannya tadi.


"Suster, ini stempel suami saya. Ini di taruh mana ya." Anne menyodorkan botol tadi.


"Serahkan pada saya, Bu. Setelah itu, Ibu boleh menunggu selama dua jam, atau bisa di tinggal dulu," kata Suster.


"Kalau begitu saya tinggal dulu, Sus. Nanti saya kembali lagi, terima kasih sebelumnya."


"Sama-sama, Bu Anne."


Selesai berbincang, Anne segera pergi dari rumah sakit. Dia dan suaminya memutuskan untuk pulang terlebih dulu, setidaknya untuk membersihkan badan, tidak enak rasanya jika habis melakukan penyatuan tapi tidak segera mandi.


...****************...

__ADS_1


Emak : Sampai sini dulu ya, InsyaAllah besok update lagi, hari ini emak modem sakit gigi + asam lambung naik, jadi agak pusing mikirnya. See you, laka sudah buka puasa tuh. 🤩


__ADS_2