
"Kau lupa, Geo. Kaulah yang memberikan semua sendiri dengan sadar, di restoran melati pukul 13:44 hari senin dua minggu lalu. Apakah kau sudah ingat, Geo?"
Asloka kini tersenyum mengejek, ingin sekali dia tertawa terbahak-bahak. Tapi, Asloka urungkan saat melihat tatapan tajam dari istrinya. Sungguh, Geo benar-benar CEO paling bodoh sedunia yang pernah Asloka temui.
Tanpa membaca terlebih dulu isi perjanjian antara mereka, Geo malah langsung menandatangani semua tanpa rasa curiga dan itu sangat mempermudah dirinya.
"Mana mungkin! Waktu itu aku bertemu wakil dari perusahaan Mahes Group, dan kita hanya melakukan kerja sama bukan pengalihan harta!" serunya sangat yakin.
"Apa kau yakin itu kontrak kerja sama, Geo? Bahkan kau saja tidak membacanya sama sekali, sungguh bodoh! Beginilah akhirnya jika mengambil hak orang secara curang, maka kau sendiri akan merasakan kecurangan itu!" jelas Asloka kali ini sedikit berbisik di telinga Geo.
Tentunya sikap Asloka ini mampu membuat emosi Geo naik, dia ingin meninju wajah Asloka, tapi semua dia urungkan saat mendengar ponselnya berdering.
"Urusan kita belum beres!" Geo memperingati Asloka sebelum akhirnya memilih untuk mengangkat panggilan dari mamanya.
"Halo, Ma. Ada apa? Di kantor sedang ada masalah, papa β"
'Geo cepat pulang, rumah disita sama orang. Entah mereka siapa, tapi mama di seret-seret keluar!'
"Ha? Kok bisa?" tanya Geo sangat panik.
'Jangan banyak bicara, cepat pulang dan bantu mama!'
Tut!
Panggilan pun berakhir begitu saja. Geo mengepalkan tangannya dan menatap Asloka, Geo yakin ini pasti kerjaan Asloka.
"Ini semua kerjaanmu kan? Kau yang menyita rumah, kau gila ha!" teriak Geo terus menarik kerah baju Asloka.
"Semua bukan salah Laka, Geo! Semua terjadi karena keinginanku sendiri dan rumah itu dari dulu sampai sekarang milik papa, jadi silahkan kalian keluar dari sana sebelum para bodyguard Laka mengusir kalian secara paksa!" seru Anne.
Anne tak bisa diam saja dan membiarkan suaminya terus disalahkan. Walaupun semua bukan keinginannya, tapi Anne yakin Asloka melakukan ini demi kebaikannya.
__ADS_1
"Kamu tega dengan kami, An? Apa kau ingat, selama dua tahun keluargaku yang selalu mengasihimu," kata Geo langsung mendapat gelengan dari Anne.
"Kalia bukan mengasihiku, tapi kalian menginginkan hartaku. Kamu tenang saja, saham mu masih utuh 30% besarnya. Itu masih menjadi hakmu, tapi yang menjadi hak ku dan papa, akan aku ambil." jelas Anne tak dapat dibantah Geo.
Setelah mendengar perkataan mantan istrinya itu, Geo segera pergi dari hadapan Anne. Dia harus segera pulang karena mamanya terus menelepon tanpa henti.
***
Setelah kejadian tadi, Anne kini pergi ke kantor suaminya. Semua urusan di perusahaan Sanjaya dia serahkan pada Raynald juga Seto, untuk sementara waktu mungkin Anne hanya bisa menyerahkan tugas-tugas pada mereka, sebelum akhirnya dia siap memimpin semua.
Sesungguhnya Anne tidak ingin harta itu lagi, yang terpenting Anne sudah tau siapa papa kandungnya. Tapi, karena dia harus mempertahankan peninggalan Edward, mau tak mau Anne harus menerima semua.
"Laka, boleh aku bicara serius sebentar saja?" tanya Anne saat suaminya keluar dari kamar mandi.
"Apa, hmm? Mau minta main kuda-kudaan, atau ...." Asloka sengaja tidak melanjutkan ucapannya, dia habis memberi isyarat mesumm dari senyuman mematikan miliknya.
"Iisshh! Dasar otak mesumm, bisa tidak sih serius sedikit. Aku mau bicara penting, sangat penting sekali," katanya sambil mencibir.
"Oke, Oke. Kita serius sekarang."
"Aku tidak ingin menjadi CEO, Laka. Jujur perusahaan itu sudah kembali saja sudah senang aku, tapi untuk mengelolanya, kurasa tidak bisa. Ada yang lebih berhak atas semuanya, yaitu papa Raynald. Bagaimanapun dia keturunan terakhir keluargaku, jadi dialah pewaris sesungguhnya," kata Anne serius.
"Kenapa kamu menolak, Sayang?" tanya Asloka, terus merapikan anak rambut istrinya yang berantakan.
"Aku merubah keputusanku, aku ingin fokus menjadi ibu rumah tangga dan ingin selalu melayanimu bukan sibuk di kantor. Suatu saat kita pasti punya anak bukan? Kalau aku terlalu fokus pada perusahaan, bisa-bisa keluarga kita nanti berantakan, tapi jika kamu mengizinkan sih," kata Anne panjang lebar.
Katakanlah dia plin-plan, tapi setelah berpikir ulang beberapa jam lalu, Anne yakin jika keputusannya kali ini sangat benar dan lebih baik daripada harus mengorbankan waktu bersama suaminya nanti.
Karena tak mendapatkan jawaban cepat, Anne memutuskan naik ke atas pangkuan Asloka, dia sandarkan kepalanya di dada bidang suaminya sambil memainkan jari telunjuknya di sana.
"Kamu keberatan?" tanya Anne dengan nada manja-manja menggoda.
__ADS_1
"Tidak! Aku hanya berpikir sebentar, benar juga sih katamu, sebenarnya aku sudah mulai keberatan saat tau Geo akan satu kantor bersamamu, tapi karena om Raynald melarang, maka aku bisa apa. Namun, jika kamu sendiri yang ingin, maka om Raynald tidak akan bisa menolak," balas Asloka sambil meminda posisi Anne menjadi menghadap ke arahnya.
Jantung Anne seketika berdesir saat menatap suaminya dari jarak dekat, ada rasa malu ditatap sedekat ini, sehingga membuat dirinya salah tingkah.
"Jangan melihatku seperti itu, Laka! Aku malu tau jadinya," ucap Anne segera menyembunyikan wajahnya di dada Asloka.
"Kenapa malu, Sayang? Bukannya semua tubuhmu sudah aku lihat, bahkan aku juga tau di mana letak kelemahanmu." tanpa di duta Asloka langsung menelusupkan tangannya di dalam dress yang Anne pakai.
"Ahh, Laka!"
Anne spontan mencengkeram lengan Asloka, ia merasa terkejut serta merinding ketika tangan kekar itu menelusup ke dalam CD nya.
"Inilah titik sensitif mu, An." Asloka semakin memainkan benda di dalam sana, jari-jemarinya juga semakin aktif sehingga Anne merasakan sesuatu memasuki goa bergeriginya.
"Laka, pintunya!" seru Anne menahan tangan Asloka saat jemari Asloka akan memasuki goa bergeriginya.
"Aku bukan Geo, Sayang. Aku tidak se ceroboh itu, walaupun kamu menjerit keras, mereka di luar sana tidak akan tahu dan pintu sudah aku kunci rapat." Setelah mengatakan itu, Asloka langsung menggendong istrinya seperti koala.
Asloka membawa Anne ke dalam kamar khusus dirinya istirahat saat kelelahan di kantor, setelah itu dia merebahkan istrinya dengan perlahan di atas ranjang. Asloka melepas dasi yang dia kenakan, setelah itu Asloka melepas seluruh ke mejanya dan langsung menindih Anne.
"Aku menginginkanmu, Sayang."
...πΎπΎπΎ...
Emak : Hai, emak mau ucapin mohon maaf sebesar-besarnya nie. Jika dari kalian tidak ada yang suka, tidak perlu komentar jelek ya seyenk. Cerita emak kan emang cerita acak kadut, jadi alurnya nggak jelas mau kemana. Kalau tidak suka tinggalin, tanpa menyakiti emak ya. Jujur mau berhenti saja kemarin, tapi aku mikir jangan deh, masih banyak yang mau baca buka dia saja. Intinya saling menghargai ya, untung itu komentar yang bikin badmood bisa di apus π€£ kalau tidak gondoknya minta ampun sumpah. π»π»
Asloka : emak nggak mau bicara sama aku, kah? aku kangen lohh ....
Emak : Halah, ada maunya kan loh, sebab itu ngerayu. Nggak akan mempan, wekk π‘π‘
Asloka : Mak jangan marah-marah mak, idup dan matiku ada di tangamu. Kalau emak ngamuk terus, nasip anakku yang belum tumbuh gimana ππ
__ADS_1
Emak : Masa Bodo! ππππππππππππππππ