
Ting!
[ Sayang, kamu jadi berangkat kan? Mama sudah nunggu di mall selama dua jam, tapi kamu tidak balas satupun pesan Mama. ]
Asloka mengernyitkan keningnya saat melihat pesan mamanya. Baru saja dia selesai menenangkan istrinya, tapi saat Asloka akan mengirim Email ke Munir telinganya tak sengaja mendengar dering ponsel berkali-kali.
"Oh, jadi mereka janjian," gumamnya kembali membuat pesan-pesan mamanya.
[ Anne, kamu baik-baik saja kan? ]
[Jawab Mama! Angkat teleponnya, jangan buat Mama khawatir!]
[Mama hitung sampai tiga, kalau tidak angkat juga Mama datang ke rumahmu dan membatalkan rencana kita! ]
[Satu ..., dua ..., tiga ...! Anne Mama ke rumah sekarang!]
"Mama begitu khawatir dengan Anne, padahal saat aku menghilang sedikitpun Mama tidak pernah tuh nyariin aku," gerutunya sangat kesal.
Tapi, kekesalan itu tak berlangsung lama. Dia jadi penasaran dengan mereka berdua dan memutuskan melihat seluruh isi chat Anne bersama mamanya. Awalnya Asloka hanya bertingkah biasa, namun pergerakannya langsung terhenti ketika melihat satu chat.
[ Ma, besok hari lahir Laka. Aku ingin memberikan kejutan kecil-kecilan, Mama bisa temani aku mencari kado?]
Senyum Asloka pun mengembang, dia sangat senang ketika mengetahui Anne hafal hari lahirnya. Bahkan yang lebih membahagiakan, Anne akan memberikan hadiah sepatu bola impiannya. Hanya saja, disini Asloka sedikit tak suka dengan rencana mamanya.
Mamanya mengatakan akan memberikan kejutan, tapi Anne harus mau ikut berpartisipasi dan disinilah Asloka baru menyadari perubahan sikap Anne dari pagi karena mamanya.
"Kamu terlalu penurut, Sayang. Aku jadi semakin gemas dan ingin karungin kamu seharian deh," gumamnya lagi.
Tak lama setelah itu, Asloka mendengar suara mamanya sambil teriak-teriak di luar. Asloka hanya bisa menghembuskan nafas kasar dan segera keluar agar teriakan mamanya tidak mengganggu tidur nyenyak sang istri.
__ADS_1
"Anne, kamu dimana? Jangan buat Mama khawatir, An —"
"Ma, Anne sedang tidur!" Potong Asloka langsung.
"Tidur?" tanya nya tak percaya.
"Iya, Dia sedang tidur. Anne kelelahan habis ngelayani aku, jadi sekarang biarkan tidur," jelas Asloka membuat Ega merasa lega.
"Huft, Mama kita Anne kenapa-napa. Dari pagi dia tidak mengangkat telepon, jadi Mama panik," katanya sambil duduk di sofa.
Begitu juga dengan Asloka, dia juga ikut duduk di samping Ega sambil menggenggam erat punggung tangan sang Mama.
"Jangan pernah menyuruh Anne pura-pura marah padaku, Mama tau sendiri Anne tipikal orang panikan. Saat aku tanya, dia tidak mau menjawab dan akhirnya lari. Jika Anne tidak hamil mungkin aku biarkan, tapi Mama tau kan kondisinya seperti apa?" jelas Asloka sangat pelan, takut jika Ega tersinggung.
"Memang Mama nyuruh apa?" Ega masih tak mau mengaku.
Ega pun melotot, dia juga sedikit sebal. Setidaknya jangan jujur dulu kalau dia sudah tau, jadi gagal deh semua persiapannya. "Ih, kamu nyebelin banget sih! Seharusnya jangan ngomong, pura-pura dulu atau gimana pokoknya nunggu acara mulai, tapi ...."
Ega merajuk, dia tak mau menatap anaknya ini. Sia-sia sudah usahanya, acara yang harusnya tertata rapi akhirnya terbongkar sebelum waktunya.
"Mana bisa diam, kalau menyangkut nyawa istriku. Mama tau apa yang dia lakukan tadi? Anne menonjok mukaku, lihatlah masih memar begini masa tidak kelihatan!" Asloka menunjukkan bekas pukulan Anne.
Namun, bukannya perhatian yang Asloka dapatkan, tapi malah tawaan mengejek yang Ega berikan. Dia sangat puas mengetahui Asloka mendapat bogeman dari menantunya, jarang-jarang anaknya ini tertindas.
***
Acara kejutan akhirnya menjadi acara makan-makan sekeluarga. Ini semua juga permintaan Asloka, dia tidak mau membuat istrinya terlalu capek dan menguras tenaga karena hal sepele.
Setelah acara makan malam selesai, Anne dan Asloka menyempatkan berdansa sekaligus bernyanyi. Sorakan dari para pengunjung juga membuat semua menjadi ramai, tanpa sadar hari juga semakin larut sehingga Asloka memutuskan untuk menyudahi acara makan-makan mereka.
__ADS_1
"Laka, kakiku sangat pegal," keluh Anne.
"Pegal, ya? Sini aku pijitin, seharusnya kamu jangan terlalu aktif. Akhirnya seperti ini kan jadinya," tegur Asloka.
Anne tak menyangkal, toh memang benar kata suaminya. Hari ini dia terlalu aktif, sampai-sampai kakinya bengkak seperti ini.
"Tidurlah, aku akan memijat kakimu sampai tertidur," ucapnya sambil mengecup kening sang istri.
"Bener ya? Jangan ada acara jatah, aku capek soalnya," tegas Anne.
"Iya, Sayang. Sudah kamu rebahkan tubuhmu, setelah itu tidur."
Anne menurut, dia merebahkan tubuhnya dan menikmati pijatan suaminya. Tapi, tak selang berapa lama Anne merasakan sebuah tangan menjalar ke dalam daster yang dia pakai.
"Laka, katanya jan ... ahhh!" Mulutnya spontan mendesahh saat tangan Asloka berhasil meremaas bukit kembarnya yang sangat sensitif.
"Maaf, aku melanggar janjinya kamu terlalu menggoda. Satu ronde saja, setelah itu kita istirahat."
Belum sempat Anne protes, bibirnya sudah dibungkam begitu saja dan akhirnya mereka melakukannya berkali-kali sampai tubuh mereka lemas tak berdaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai jangan lupa mampir ke karya teman aku ya.
Judul : Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Napen : nazwa talita
__ADS_1