
Anne menatap tak habis pikir pada mertuanya. Setelah kepergian Asloka, Ega datang dan mengajaknya belanja keperluan baby Twins. Awalnya Anne pikir ya tidak semaruk ini, tapi ternyata dugaannya salah.
Mertua tercintanya membelikan semua peralatan Baby twins mulai dari atas sampai bawah, hingga Anne menelan ludah secara kasar setelah mendengar nominal uang yang dikeluarkan sang mertua.
"Ma, ini terlalu boros. Ya ampun, Ma. Sampai habis ratusan juta itu —"
"Shut! Jangan banyak protes, ini semua untuk baby twins." Ega memotong perkataan Anne. Dia tak mau mendengar penolakan, toh ini memakai uangnya sendiri dari hasil usahanya selama berpuluh tahun.
"Tapi, Ma ...." Anne tak bisa berkata lagi, mertuanya sudah tak bisa cegah, jadi Anne hanya bisa menurut sambil melihat seluruh barang-barang di depannya.
'Kereta bayi model seperti ini saja harganya 46 juta, ditambah ini box bayi, terus Electric Baby bouncer! Aahh ... lebih baik ditabung saja uangnya, nanti bisa dipakai pendidikan si kembar,' gerutunya dalam hati.
Entahlah, Anne merasa sayang sekali dengan uang yang dikeluarkan mertuanya. Bukan Anne ini pelit, tapi barang-barang di depannya tidak akan terpakai lama, sedangkan harganya saja selangit.
"Kamu kok keliatan nggak suka sih, An?" tanya Ega.
"Bukan nggak suka, Ma. Harganya itulah, selangit hanya untuk dipakai beberapa bulan saja," keluh Anne.
"Walaupun hanya beberapa bulan, tapi semua ini bisa meringankan mu nanti. Sudahlah, jangan dipikirkan kita belum ke toko baju, tadi Mama lihat di blok sana lucu-lucu bajunya," ucapnya tak memperdulikan kegundahan Anne.
Lagi-lagi Anne hanya bisa mengikuti semua keinginan sang mertua, dengan sangat antusias dia melihat Ega memilih pakaian untuk calon anaknya.
'Lihatlah, Nak. Nenekmu sangat semangat menantikan kehadiranmu, tumbuh yang sehat, empat bulan lagi kalian bisa melihat dunia.'
***
Hari semakin malam, kini Asloka sudah pulang dari kantor dan dia sangat terkejut dengan tumpukan barang di ruang tamu. Saking banyaknya, sofa sampai tak terlihat.
"Apa-apaan ini!"
Dia mendekati barang tersebut sambil melihat isinya, "astaga, ternyata perlengkapan baby. Eh, tapi kok sudah di beli?!" Asloka terlihat kesal.
Padahal niatnya dia akan membelikan perlengkapan baby nanti saat hari minggu, tapi ternyata semua sudah tersedia sangat lengkap. Karena penasaran, Asloka memutuskan untuk mencari istrinya.
__ADS_1
"Ma, barang-barang di ...."
Glek!
Asloka tak jadi melanjutkan ucapannya saat membuka pintu kamar. Bagaimana bisa bicara, jika pemandangan di depannya membuat dia sulit bernafas dan si lele berurat langsung modem on.
Tubuh Anne yang begitu sexy, terbalut kain tipis berwarna hitam membuatnya semakin cantik, walaupun perutnya buncit tapi itu menambah persentase kecantikan Anne.
"Papa sudah pulang?" Anne menuruni ranjang dengan sangat pelan, dia seperti sengaja menggoda Asloka.
"Capek nggak? Mau Mama pijitin, atau ...."
Tubuh Asloka mendadak hory saat tangan Anne begitu nakal meremass benda tak bertulang, tapi sekeras batu.
"Hmmm, kamu menggodaku Sayang?" Asloka tak bisa menahan lagi, dengan cepat dia melempar tas kerjanya dan langsung menerjang bibir istrinya.
Lumatann demi lumatann mereka lakukan, dan Anne semakin memundurkan dirinya sampai kini tubuhnya terlentang di atas ranjang. Sungguh, Asloka semakin panas dibuatnya apalagi melihat kedua gundukan kenyal istrinya menyembul keluar.
"Lihatlah, dia sudah tak sabar untuk di sesapp," bisiknya terus meremass kuat benda kenyal seperti nutrijel.
"Enak kan, Sayang?"
Anne mengangguk kecil, "mau lebih?" Anne mengangguk lagi dan lagi.
Tanpa menunggu lama, Asloka langsung menyeruput benda kecil sekecil buah kismis. Dia memainkan lidahnya di atas puncak benda berwarna pink kecoklatan itu, sedangkan tangan satunya sibuk meraba-raba di bawah sana.
"Ahh, Laka!" Anne memekik keras saat tangan kekar suaminya berhasil menembus hutan rimba dan memainkan klit-nya dengan lembut.
"Kamu sudah basah, Sayang." Tanpa aba-aba Asloka langsung menurunkan kain segitiga biru milik istrinya. Dua jari diselundupkan ke dalam gua bergerigi, dengan semangat dia mengocoknya sampai Anne melengking.
"Ahh, Laka aku mau ..., mau ..., keluar!"
Asloka merasa goa Anne berkedut kencang meremass dua jarinya, bahkan dia merasakan ada lelehan keju Mozarella di permukaan jarinya.
__ADS_1
Puas memainkan goa dan menyeruput benda kenyal istrinya, Asloka terus berdiri untuk membuka celananya sampai menampakkan benda panjang nan berurat.
"Dia sudah sangat tegang," lirihnya.
"Aku mau memanjakan dia," ucap Anne tiba-tiba dan langsung duduk. Tanpa ragu, Anne menggenggam lele berurat suaminya sambil mengurut secara perlahan.
"Ahh, ya seperti itu Sayang," rancau Asloka.
Anne tersenyum puas jika melihat Asloka senang, dengan semangat dia memaju-mundurkan tangannya agar mengurut secara sempurna lele suaminya. Setelah puas, Anne memasukkan lele berurat ke dalam mulutnya.
Lidahnya terus membelit, menyesapp, menggigit kecil secara menyeluruh. Bahkan Asloka sampai tidak sabar dan memegang kepala istrinya, terus memaju-mundurkan kepala Anne.
"Ahh, kamu pintar sekali Sayang!" Merasa akan meledak-ledak, Asloka segera menjauhkan kepala Anne dan langsung merebahkan tubuh itu ke atas ranjang.
Dia sudah tak sabar, dengan cepat Asloka membuka kaki Anne lebar-lebar. Dia memposisikan dirinya di sana, secara pelan Asloka mengocok sendiri miliknya setelah itu barulah dia masukkan kedalam goa bergerigi Anne.
Rasanya sangat hangat, berkedut ketika lele nya berhasil masuk sempurna di dalam sana. Dia juga berusaha tidak menekan perut Anne, jadi Asloka hanya bisa bersimpuh di atas ranjang.
"Aahhh ...." Desahann dari Anne berhasil membuat libidoo Asloka naik, dia juga semakin mengguncang memporakporandakan gua bergerigi Anne.
Sebenarnya Asloka ingin sekali mencium bibir istrinya, tapi dia sadar diri semua tidak akan bisa dilakukan saat perut Anne masih membuncit. Lima puluh menit mereka bergumul, sampai peluh membasahi tubuh mereka.
Percintaann yang sangat panas, dan penuh gairah akhirnya membuat Asloka merasakan akan keluar. Ritme yang tadinya pelan kini menjadi kencang, sampai akhirnya Asloka mengeluarkan benih-benih kecebong sangat banyak.
"Ahhh, aku mencintaimu Anne!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai jangan lupa mampir ke karya teman aku ya.
Judul : Merindukan Purnama
Napen : Rima Junia Ermolina
__ADS_1