Hasrat Tuan Asloka

Hasrat Tuan Asloka
HTA - 51


__ADS_3

Anne membuka mata secara perlahan, rasa dingin yang menyerang dirinya tadi sudah mulai mereda. Akan tetapi, yang dia rasa sekarang adalah nyeri di bagian perutnya. Beberapa kali Anne meringis sakit, juga merintih saat rasa ngilu mulai menerpanya.


"Aduh," rintih Anne sambil memegang bekas operasinya.


"Kamu sudah sadar, Sayang? Aku panggilkan suster dulu, sabar ya," ucap Asloka tapi Anne menggeleng.


"Jangan pergi, tetaplah disini," cegah Anne terus meletakkan tangan suaminya di atas perutnya.


"Apa sangat sakit, Sayang?" tanyanya semakin tak tega melihat kondisi istrinya.


"Sangat, sebab itu tetaplah disisiku, rasa nyerinya jadi hilang saat kamu pegang perutku," balas Anne merasa nyaman.


Asloka pun kembali duduk, tangannya terus membelai lembut perut istrinya. Sedangkan Anne, dia kembali memejamkan mata, sambil menikmati semua.


"Kamu mau minum?" tanya Asloka.


"Iya, Mau."


Tanpa menunggu lama, Asloka bergegas berdiri dan mengambil air dari dispenser. Merasa gelasnya terisi penuh, Asloka kembali lagi ke arah Anne.


"Minumlah."


Asloka menyodorkan sedotan ke arah bibir Anne, tapi belum juga Anne meminum air itu, teriakan dari Ega membuat mereka berdua kaget.


"Jangan di kasih minum dulu!" teriak Ega sambil berlari ke arah mereka.


Jantungnya hampir saja copot melihat pemandangan ini, bisa-bisanya Asloka memberikan minum pada istrinya, sebelum kentut. 💨


"Kamu jangan sembarangan kasih minum Anne, Laka! Sebelum bertindak itu tanya dulu, apakah Anne boleh minum atau belum," cercaan Ega pun menggema di ruangan Anne.


"Memang kenapa? Istriku haus dan dia puasa dari kemarin malam, sekarang sudah jam sebelas siang masa masih harus puasa," protes Asloka. Dia tak tega melihat kondisi istrinya, apalagi bibirnya mulai pecah-pecah seperti kekurangan cairan.

__ADS_1


"Aduh, anak ini bodoh banget sih. Percuma badan segede tong, tapi tidak tau tata cara setelah operasi. Jadi, Anne belum bisa makan maupun minum sebelum KENTUT! Sudah paham kan, jadi Anne harus mengeluarkan gas dalam perutnya dulu, baru bisa minum tapi itu hanya boleh sedikit, tidak langsung banyak," kata Ega panjang lebar.


Anne juga baru ingat, dulu memang dirinya tidak boleh minum sebelum kentut dan Anne langsung merutuki kebodohannya karena melupakan hal itu.


"Mama benar, Laka. Aku juga lupa, dulu setelah operasi harus nunggu kentut dulu baru boleh minum, untung air tadi belum keminum," ucap Anne sedikit menggerakkan badannya, tapi rasa sakit itu datang kembali. Reflek Anne meremas kemeja suaminya dan meringis kesakitan.


"Jangan terlalu banyak bergerak, Sayang." Asloka membantu membenarkan posisi Anne, sedangkan Anne malah menangis merasakan sakit yang lebih luar biasa rasanya.


"Hiks, panas, panas sakit."


"Sabar ya, Nak. Memang seperti ini rasanya, walaupun sayatan nya kecil, rasa sakitnya luar biasa, biar Mama panggil dokter, agar memberikanmu obat pereda rasa sakit," kata Ega di iyakan Anne.


Sambil menunggu dokter datang, Anne minta di peluk suaminya. Entahlah dia menjadi manja sekarang, apalagi setiap Asloka jauh sedikit saja, Anne langsung protes.


"Tidak kendih kan perutnya? Aku takut badanku menyenggol luka mu, nanti kalau tambah sakit bagaimana?" tanya Asloka tapi dia tetap mengikuti kemauan Anne. Dia memeluk istrinya sangat erat, juga memberikan elusan lembut di bagian punggungnya.


"Terus elus, sampai aku tidur," pinta Anne.


Anne mengangguk, dia menikmati elusan demi elusan Asloka. Rasanya sangat nyaman, apalagi ditambah mencium aroma tubuh suaminya, semua menjadi rileks sampai dia mulai merasa ada sesuatu yang ingin keluar.


"Laka, lepas dulu. Cepetan iih, minggir!" seru Anne terus mendorong tubuh suaminya agar menjauh, tapi sayangnya Asloka tidak peka, malah menatapnya dengan bingung.


"Ada apa, tadi minta peluk."


"Cepat perrr —"


Duuuuuttt ... Preeeetrrrrr ... Ketek ketek ....


Asloka pun tercengang mendengar letusan gunung merapi dari pantatt istrinya, dia baru kali ini mendengar kentut Anne seperti tak memiliki rem, menjadi blong karena habis operasi.


Sedangkan Anne hanya menutup mukanya dengan kedua tangan, dia benar-benar malu, bahkan Anne bingung mau menyembunyikan wajahnya di mana, apalagi baunya sangat menyengat.

__ADS_1


Asloka mengendus-endus mencium aroma tidak sedap, tapi dia diam saja dan langsung memeluk Anne. "Tidak apa-apa, baunya wangi kok," kata Asloka agar istrinya ini tidak malu.


"Kamu bohong, jelas banget baunya tidak enak, masih bilang wangi." Anne masih menyembunyikan wajahnya di dada Asloka. Sungguh, dia tak berani menatap suaminya.


"Kata siapa, beneran ini wangi. Huuummm, wangi jeruk lemon."


Tak lama setelah itu, masuklah dokter dan Ega. Mereka juga terlihat mencium bau bau tidak sedap, tapi Asloka memberikan isyarat agar mamanya tidak berkata aneh-aneh.


"Wah, sepertinya bu Anne sudah kentut ya. Selamat ya, sekarang boleh minum tapi sedikit dulu ya, setelah beberapa menit baru boleh makan kalau tidak mual," kata dokter Laura.


Dia hanya tersenyum maklum, toh ini memang tugasnya. Walaupun baunya sangat tidak menyenangkan, dia akan tetap tersenyum, walaupun gas beracun itu masih bertebaran di rawat inap Anne.


...****************...


Emak : Laka, gimana baunya? 🤭


Asloka : Sedap kok, baunya sangat harum semerbak. Memenuhi hidungku, sampai menusuk tenggorokan. 😌


Emak : Katanya bau jeruk lemon 🍋


Asloka : Duh, mak ini nggak tau aja Anne itu ngambekan. Kalau aku jujur dia marah.


Anne : Ohhh jadi bohong ya tadi, itu!


Asloka : Eh, bukan gitu sayang. Enak kok, sumpah baunya enak.


Anne : Dasar pembohong, aku mau pergi!


Asloka : Sayang, jangan pergi.


Emak : 🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2