
"Laka, bisa bicara sebentar? Ada hal penting yang harus dibicarakan, semua ini juga tentang kelanjutan perusahaan kita," ucap Aslan ketika melihat anaknya pulang sambil menggendong istrinya.
"Baik, Pa. Tunggu saja di ruang kerja, nanti aku kesana setelah menidurkan Anne," balas Asloka.
"Baiklah, hati-hati jangan kamu jatuhkan menantuku. Lecet sedikit coret dari kartu keluar, dia lebih berharga darimu," kata Aslan setelah meninggalkan anaknya. Dia tau, Asloka pasti kesal mendengar jawabannya barusan. Jadi, lebih baik dia segera pergi sebelum Asloka marah.
Sedangkan Asloka hanya mendengus kesal, setelah itu dia langsung naik ke atas dan menidurkan istrinya. Dengan hati-hati Asloka menurunkan Anne sekaligus memberikan tempat ternyaman untuk istrinya. Merasa sudah beres, Asloka keluar dari kamar dan bergegas menemui papahnya.
"Ada apa, Pa? Kelihatannya serius banget, apa ada masalah?" tanya Asloka menjadi serius.
"Sangat serius, Laka. Duduklah, Papa akan jelaskan semua padamu," kata Aslan.
Asloka menurut, dia duduk berhadapan dengan Aslan. Setelah itu Asloka menerima sebuah map dari papanya, dengan rasa penasaran tinggi, dia memutuskan untuk melihat isi dari map tersebut.
"Bagaimana bisa perusahaan merugi sebanyak ini, Pa? Bukannya masalah ini sudah selesai, tapi kenapa masih anjlok parah?" tanya Asloka. Dia benar-benar pusing sekarang, usahanya siang dan malam menjadi sia-sia jika akhirnya perusahaan tetap merugi sebanyak ini. Padahal, saat Asloka yakin perusahaan Jejaka mau melanjutkan investasi ke perusahaannya.
"Mereka mundur dan menarik semua dana yang pernah mereka keluarkan. Salah satu dari mereka juga bilang, telah dihina kamu. Memangnya apa yang kamu lakukan sampai pihak sana mengatakan seperti itu?" tanya Aslan penasaran. Karena hal inilah perusahaan Jejaka menghasut beberapa investor lain, untuk mencabut semua kerja sama mereka selama ini.
"Ini pasti ulah Berliana, anak itu sengaja menjebakku waktu malam pesta pertemuan, Pa. Dia memasukkan obat perangsangg dan setelahnya aku tak ingat apapun tapi saat sadar sudah ada kamar hotel bersama Berliana," jelas Asloka.
"Tapi Papa tahu sendiri burungku bagaimana, kan? Dia tidak akan berdiri kecuali dengan Anne, walaupun aku terpengaruh oleh obat, tapi efeknya hanya sakit kepala, kunang-kunang, panas, gerah, tidak ada hasrat saat wanita itu memaksa ku," sambungnya lagi agar tidak ada kesalahpahaman diantara papanya nanti.
"Terus?" Aslan jadi penasaran.
"Terus aku tampar lah dia, walaupun sudah ku tampar, tapi Berliana masih memaksa, sampai akhirnya mulut tajam ku menghinanya. Dia menangis keluar meninggalkanku, setelah kepergiannya aku menghubungi Angga untuk memudarkan efek obat tersebut," jelas Asloka tanpa berbohong sedikitpun.
Sebenarnya Asloka takut Anne mengetahui hal ini, tapi sudah dua minggu berlalu, tidak ada kabar apa-apa dari Berliana, Asloka pikir semua sudah beres, eh ternyata mereka main licik, menarik semua dana perusahaan.
"Anne tau semua ini?" Aslan menatap penuh arti pada Asloka.
__ADS_1
"Tidak tahu, aku takut dia marah. Papa lihat sendiri kan, Anne sifatnya sensian akhir-akhir ini. Salah bicara saja, dia langsung ngambek, malah lebih parahnya Anne mau membawaku ke tukang sembelih sapi kalau sampai ketahuan melirik wanita lain." Asloka langsung bergidik mengingat kata-kata istrinya waktu itu.
Meskipun Anne bilang bercanda, tapi Asloka melihat keseriusan di matanya. Jadi kemungkinan besar, istrinya benar-benar ingin menyembelih masa depannya jika berulah.
"Kalau Papa lihat, istrimu seperti sedang mengandung. Mamamu juga sensian waktu hamil kamu, gampang menangis, bahkan Papa sampai kalang kabut karena setiap berangkat kerja mamamu menangis minta ikut," jelas Aslan sambil tersenyum.
Aslan tak menyangka, jika Anne mengalami perubahan mood seperti istrinya dulu. Jadi, Aslan harus siap-siap mendapatkan cucu seperti Asloka yang keras kepala.
"Apa benar Anne hamil, tapi beberapa hari lalu kita melakukan USG katanya belum terlihat kehamilan," ucap Asloka menjadi penasaran.
"Kan katanya, belum tentu benar. Memang dokter bilang kalau Anne tidak hamil, dokter kan hanya bilang belum terlihat, jadi kemungkinan besar istrimu sedang mengandung," jelasnya membuat Asloka berdebar-debar.
Dia merasa ingin meledak-ledak saat mendengar penjelasan papanya, kemarin Asloka tak begitu memperhatikan ucapan dokter. Dia hanya tak ingin terlalu larut dalam kekecewaan nantinya, sebab itu Asloka menganggapnya biasa saja.
"Dilihat dari postur tubuh Anne, sebenarnya sudah terlihat jelas loh, kalau dia sedang mengandung. Coba tes ulang beberapa minggu lagi, Papa yakin cucu Papa sedang tumbuh di perut istrimu."
***
Berbulan-bulan dia selalu menyembunyikan rasa itu agar istrinya tidak merasa bersalah, dia berusaha kuat dan tersenyum agar Anne tidak semakin down. Tapi, siapapun tidak ada yang tau bagaimana perasaan dalam hatinya.
Dia benar-benar hancur mengetahui Anne pernah mengalami hal seperti itu, tapi dengan dukungan Angga, dia kembali yakin dan berusaha melupakan semua keinginannya dulu demi kebaikan semua.
"Hai Sayang," lirih Asloka tepat di depan perut istrinya. Kini dia duduk berjongkok di atas lantai, sambil memegang perut rata Anne.
"Apa kamu benar-benar tumbuh di dalam perut mamamu, Nak?" Asloka masih terus berbicara dengan perut Anne.
"Jika iya, kamu yang kuat ya. Tumbuh sehat di dalam, Papa akan selalu menjagamu sampai lahir nanti," ucapnya terus menangis.
Setelah itu Asloka mencium lembut perut istrinya penuh sayang, sesekali dia mengelus perut itu sehingga membuat Anne terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Hmmm, Laka kamu ngapain sih? Geli tau, jangan gini ah," rengeknya berusaha menjauhkan kepala suaminya dari atas perutnya.
"Kamu keganggu ya? Maaf, tidurlah lagi jika masih mengantuk. Sini aku peluk, biar nyaman," kata Asloka terus naik ke atas ranjang.
Tadinya, Asloka merasa heran melihat seharian ini Anne terus tertidur. Malah melebihi biasanya, tapi setelah mengetahui yang dialami istrinya, Asloka tidak mau mengganggu tidur nyenyak Anne.
"Kamu menangis?" tanya Anne masih memejamkan matanya. Meskipun matanya terpejam, tapi didengar dari suara dan hidungnya, Anne yakin Asloka sedang menangis.
"Tidak!" Bohongnya.
Sebenarnya Anne masih ingin mempermasalahkan kebohongan Asloka ini, tapi karena matanya terlalu berat, akhirnya Anne kembali ke pulau impian.
...****************...
Asloka : Mak tidak mau kasih hadiah?
Emak : Hadiah opo?
Asloka : Hadiah aku jadi bapak, mau punya cucu loh mak 🤭
Emak : Hadiah untuk Anne ada, kalau kamu ogah. Kamu dah kaya, harusnya kasih emak, bukan emak yang kasih!
Asloka : Sekali-sekali, Mak.
Emak : Ra Sudi!
Asloka : Pengumuman Emak aku lelang 20 ribu, siapa yang mau PC.
Emak : Pengumuman Asloka mau ku kasih gratis, dia kalau di jual nggak laku, jadi ku kasih cuma-cuma. Ada yang mau datang ke rumah 😚
__ADS_1
Asloka : Emakkk!!