
"Wah, merekah sekali ya senyumanmu pada suamiku! Kamu tidak lupa kan, jika dia sekarang suamiku bukan kekasihmu lagi!" seru Anne membuat Asloka terbelalak.
Dia benar-benar kaget, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di otaknya. Antara kenapa Icha kenal Anne, kenapa Anne memanggil Icha sebagai Abel, terus sejak kapan istrinya tau kalau Icha adalah mantan kekasihnya.
'Sepertinya ada yang tidak beres.'
"Kamu salah paham, An. Aku masih ingat kok, kalau Laka sekarang itu suamimu. Maaf jika terakhir kali kita bertemu malah terjadi insiden tak mengenakkan, sungguh setelah berbulan-bulan merenung aku sadar, jika yang meninggalkan Laka sedari awal adalah aku. Jadi, kamu tenang saja," ucap Icha sangat menyesal.
Setelah penolakan Asloka kala itu, Icha langsung pergi dari acara pernikahan Anne. Selama berbulan-bulan lamanya, dia merenung di desa neneknya, barulah Icha sadar, jika Asloka bukan miliknya dan dia harus move-on.
Tapi, siapa sangka setelah dia kembali dari desa, langsung di pertemukan mereka di rumah sakit. Icha sangat senang bertemu Anne, tapi sayang sepertinya temannya ini masih menyimpan rasa kesal padanya.
"Maaf, tapi aku masih belum bisa percaya. Bukan apa ya, perkataanmu waktu itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Jadi maaf, untuk sekarang aku belum bisa percaya," kata Anne tak mau menatap Icha.
Biarlah saat ini dirinya dibilang sombong, tapi Anne juga berhak waspada apalagi Icha tipe orang nekat, nekat memaksakan keadaan.
"Sayang, aku mau pulang. Ayo pulang," rengek Anne sambil menggandeng lengan suaminya.
"Baiklah, kita pulang sekarang." Asloka menatap Icha sejenak, setelah itu dia tersenyum sebagai tanda permisi. Asloka yakin, jika Icha benar-benar tulus berkata seperti tadi, tapi istrinya berpendapat lain.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan Icha. Di perjalanan menuju parkiran tidak ada yang bersuara, hanya ada keheningan sampai mereka akhirnya sampai di dalam mobil.
"Seneng ya ketemu mantan? Sampai senyum nunduk gitu, kenapa nyesel ninggalin dia?" tanya Anne sangat ketus.
Asloka hanya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, sejak kapan istrinya yang lembut ini menjadi garang dan penuh emosi.
"Bukan seperti itu, An. Aku hanya β"
"Hanya apa? Hanya kangen, karena tiba-tiba mantan nongol di depan mata? Duh jadi nostalgia pastinya, mataku tuh melihat semua, kalau kamu tersenyum ke arah Abel penuh kasih sayang!" teriak Anne sangat menggebu-gebu.
Nafasnya sampai naik turun, rasa kesal, jengkel, ingin menangis jadi satu. Sesak sekali rasanya dada Anne, dia merasa suaminya akan terpikat dengan daya tarik mantannya, padahal ini kali pertama mereka bertemu setelah kejadian di hari pernikahan.
"Kamu kenapa, Sayang? Akhir-akhir ini emosimu cepat naik, apa ada masalah? Cerita, biar aku jadi pendengar yang baik," kata Asloka ingin memeluk Anne tapi Anne langsung melengos.
__ADS_1
"Jangan mengalihkan pembicaraan, aku baik-baik saja, tidak ada masalah. Semua masalah ada di mata dan bibirmu, karena berani menatap juga tersenyum pada Abel," jawab Anne mulai menangis.
Sumpah, kali ini Anne sesegukan di dalam mobil. Air matanya terus menetes tanpa bisa di kontrol, pokoknya langsung ngalir gitu saja deh.
"Yakin hanya itu?" Asloka pun terkekeh.
"Ya Iyalah! Aku tuh tidak, mmpptt ...."
Anne tak bisa melanjutkan ucapannya saat dia mendapat serangan mendadak dari suaminya. Lelaki di depannya ini tiba-tiba menerjang bibirnya, sehingga membuat Anne kelabakan.
Tapi, lama kelamaan Anne menikmati semua dan dia malah menjadi agresif dengan menahan kepala suaminya saat Asloka ingin menyudahi ciumann mereka.
Asloka tersenyum di sela-sela ciumannyaa, dia suka Anne yang seperti ini, selalu agresif dan tidak malu-malu saat menginginkan dirinya.
Setelah pangutan mereka terlepas, Anne menyandarkan keningnya ke kening Asloka. Anne menatap kedua bola mata suaminya, sambil berkata.
"Kamu hanya milikku, sampai kapanpun milikku. Jika kamu berani melirik wanita lain, maka siap-siaplah ku bawa ke tukang sembelih sapi!"
"Aku serius, Laka!"
"Ya, ya kamu serius!" Asloka masih tak bisa menghentikan tawanya. Bahkan stir mobil menjadi pelampiasan Asloka, untuk di pukul-pukul.
"Jangan tertawa terus, aku serius! Sekali saja kamu kecantol cewek lain, langsung ku seret ke tukang sembelih sapi untuk memotong masa depanmu!" teriak Anne berhasil membuat Asloka diam.
Ngeri sekali ancaman istrinya, dengan reflek Asloka memegang lele berurat nya yang masih tidur di balik celana. Membayangkan dia akan dihukum mati, membuatnya langsung bergidik.
"An, kamu bercanda kan?" tanya Asloka.
"TIDAK! Aku serius, jika kamu macam-macam, siap-siap kehilangan masa depanmu! Aku sih nggak keberatan memiliki suami buntung burungnya, yang penting tidak akan dilirik orang lain," kata Anne menjadi seperti devil.
"Nanti kalau buntung, kamu tidak bisa merasa enak loh, An." Rengek Asloka.
"Cewek itu gampang, Sayang. Yang susah itu cowok, bagaimana mau menikmati goa bergerigi jika burungnya buntung." Anne semakin menakut-nakuti suaminya. Dia tersenyum puas melihat mimik muka Asloka, lelaki itu terus bergidik ngeri. Tak menyangka istrinya, menjadi psikopat.
__ADS_1
Tak mau membahas semua ini, Asloka akhirnya berjanji tidak akan tersenyum lagi pada Icha. Demi masa depan si adik kecil, maka Asloka lebih memilih mengalah di saat mood istrinya naik turun.
Mobil akhirnya melakukan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit, di perjalanan Asloka hanya diam dan fokus menyetir. Sampai akhirnya fokus Asloka terganggu oleh Anne, ketika melihat penjual rujak cingur.
"Sayang, berhenti aku mau beli itu!" serunya sangat bahagia. Asloka melihat ke samping untuk memastikan apa yang diinginkan istrinya.
"Rujak cingur?" Asloka memastikan.
"Iya, rujak cingur. Beliin itu, ayo turun aku mau makan itu." Tanpa menunggu persetujuan Asloka, Anne langsung turun dari mobil dan menuju gerobak penjual rujak cingur.
Asloka pasrah, walaupun dia benci namanya cingur, tapi demi istrinya Asloka rela menahan semua. Dengan lemas dia meminggirkan mobilnya, setelah itu selesai Asloka turun dan segera menghampiri Anne.
"Sayang, di bungkus saja ya," pinta Asloka merasa risih melihat banyak orang di sebelah, tatapan mata mereka selalu memandang istrinya dan Asloka tak suka itu.
"Tidak mau, aku mau makan disini. Kalau kamu mau pulang, silahkan aku bisa kok naik taksi," jelas Anne.
Tentunya Asloka tak setuju dong, apalagi melihat mata liar orang-orang di sebelahnya. Tak rela pokoknya, jika istrinya dijadikan bahan tontonan.
"Pakai ini, banyak mata melihat dadamu!" seru Asloka sambil menutup dada istrinya dengan jas.
"Eh?" Anne melirik sekitar. Merasa ucapan suaminya benar, Anne memutuskan untuk membungkus pesanannya dan segera pulang.
...****************...
Asloka : Emakk Anne mau potong burungku πππ
Emak : Kapok, salah siap bangunin macan tidur. Jaga tuh mata, bibir dan hati. Emak sih dukung Anne, sekalian aja leher tuh di putus.
Asloka : Emak, kamu jahat banget sih. Anakmu sebenarnya sopo sih, aku atau Anne. ππ
Emak : Anne lah.
Asloka : Tega mak kau. πΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈπΆββοΈ
__ADS_1