Hasrat Tuan Asloka

Hasrat Tuan Asloka
59 - Ada Dua Kecebong


__ADS_3

Asloka berkeringat deras saat dirinya di paksa Anne untuk mencari buah mangga di atas pohon, sungguh dia sangat takut, seumur hidup baru kali ini dia memanjat pohon dan semua demi jabang bayi yang ada di perut istrinya. 


Hari ini, Anne ngidam makan buah mangga muda tapi langsung dari pohonnya. Bukan hanya itu saja, Anne ingin memetik yang paling tinggi dan harus Asloka yang mengambil tidak boleh orang lain. 


Berkali-kali Asloka berusaha untuk meraih mangga di atas, tapi rasanya sangat susah sekali. Padahal, tangannya juga sudah terulur namun naas buah tersebut seperti mengejek sehingga membuatnya kesal. 


"Yang atas, Papa. Yang paling atas, ayo semangat Pa, demi si kembar!" teriak Anne dari bawah tanpa ada rasa menyesal telah menyuruh suaminya naik ke atas pohon tetangga. 


"Jangan loncat-loncat, Ma. Ingat, ada anak kita di dalam, nanti mereka terguncang," balas Asloka sedikit berteriak dari atas. 


Anne pun seketika berhenti loncat, dia juga baru ingat tentang hal ini. Jadi, Anne hanya cengengesan sebagai tanda permintaan maaf pada suaminya. 


'Maafin Mama ya, Nak,' gumamnya sambil mengelus lembut perut buncitnya. 


Tak lama setelah itu, Anne melihat suaminya turun sambil membawa beberapa mangga. Dia sangat bahagia, sehingga Anne tak sabar dan terus mengoceh agar Asloka segera turun. 


"Sudah aku bilang jangan loncat-loncat!" seru Asloka sambil mencubit gemas pipi istrinya. 


"Ish, sakit!" rajuknya langsung merebut mangga dalam genggaman Asloka. Setelah itu, Anne segera pergi dari hadapan Asloka. 

__ADS_1


"Ma, kok di tinggal sih?" protes Asloka. 


"Sudah nggak butuh, Papa. Buahnya juga sudah ada, jadi Papa kerja lagi saja," balasannya acuh tak acuh. 


Asloka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat istrinya, sikap Anne sungguh berubah setelah hamil, gampang marah, nangis, juga sensitif. Tapi, Asloka tak ambil pusing toh semua efek hormon. 


"Pak, sebelumnya terima kasih sudah diizinkan memetik mangganya. Ini ada beberapa uang, sebagai gantinya." Asloka menyodorkan uang lima ratus ribu. 


"Aduh Pak Laka, tidak perlu seperti itu. Saya ikhlas kok, jadi ambil kembali uangnya, Pak," balas Pak Nuaiman. 


"Saya juga ikhlas, Pak. Ini terima saja, hitung-hitung buat beli susu anak Bapak. Sudah, saya tidak mau menerima penolakan, ambil uangnya dan sekali lagi terimakasih." Asloka segera memberikan uang itu sebelum akhirnya dia berlari pergi meninggalkan pak Nuaiman. 


Asloka sengaja melakukan cara seperti ini, kalau dia tak langsung lari, mungkin pak Nuaiman akan mengembalikan uangnya, jadi jalan satu-satunya Asloka harus melarikan diri. 


"Ma, kamu cepet banget sih pulangnya. Jangan bilang tadi lari!" serunya menuju dapur. 


"Apaan sih, suudzon banget kamu, Pa. Aku jalan santai, cuma langkahnya sedikit lebar, jadi cepat sampai," cetus Anne menikmati mangga muda dengan sambal gula merah. 


"Hmm, jadi begitu?" Asloka tak melanjutkan lagi ucapan, dia memilih untuk masuk kamar dan membersihkan badan. 

__ADS_1


Hari ini dia ada meeting penting, jadi Asloka harus berangkat. Andaikan ini tidak penting, mungkin Asloka akan menyerahkan semua tugas pada papanya. 


"Sayang, aku mau berangkat kerja dulu. Hati-hati di rumah, ingat kamu harus jaga kesehatan, mungkin agak malam pulangnya, jadi langsung tidur jangan menungguku," ucap Asloka sambil mencium kening istrinya. 


"Katanya libur?" Anne sedikit merajuk. Padahal dia sendiri yang menyuruh suaminya kerja tadi, tapi segera Asloka kerja beneran malah merajuk. 


"Niatnya seperti itu, tapi kamu tau kan perusahaan sedikit berantakan sekarang." Anne hanya mengangguk paham. 


"Senyum dong, nanti cantiknya hilang." Asloka mengecup sekilas bibir istrinya. 


Anne pun tersenyum lembut, dia juga sadar terlalu manja beberapa hari ini. Jadi pekerjaan suaminya sering terhambat demi memenuhi semua keinginan, sekarang yang Anne ingin lakukan hanya satu, memberikan senyuman terindah serta dukungan agar semangat. 


"Yang semangat ya, Papa. Hati-hati kalau kerja, jaga mata, jaga hati, ingat ada dua kecebongmu di dalam sini. Kalau nakal, mereka akan memberikan hukuman," ucap Anne terus mencium lembut bibir suaminya. 


"Siap laksanakan, ini adalah tugas dari ibu negara, jadi akan selalu Papa ingat dan tutup rapat-rapat mata agar tidak melirik wanita lain."


Mereka pun tertawa bersama, sungguh indah sekali pernikahannya. Semua badai yang selalu menerpa mereka, akhirnya bisa terlewati dan Anne juga mulai melupakan trauma pernikahannya dulu bersama Geo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hai jangan lupa mampir ya ke cerita temenku, di jamin seru deh. Author : Chika Ssi, Judul : TKI (Tenaga Kerja Indehoy) 



__ADS_2