
Asloka membuka mata dengan sangat malas, rasanya dia masih ingin tidur tapi cahaya matahari di sela-sela jendela kamar membuatnya terusik bahkan mau tak mau harus bangun.
"Badanku terasa remuk semua," lirihnya.
Sejenak dia merasa kebas juga kesemutan di area tangan, perlahan Asloka menatap ke samping, ternyata Anne juga masih terlelap sambil memeluk perutnya.
"Kamu pasti kelelahan," ucapnya perlahan-lahan menarik selimut agar tubuh polos istrinya ini tidak kedinginan.
Setelah berhasil menyelimuti Anne, Asloka ingin turun dari atas ranjang. Tapi, saat dia akan menarik tangan, Anne semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku masih mau di peluk, ih! Mau kemana sih, ha? Nggak suka aku peluk, kalau nggak suka yaudah sana pergi!"
Asloka benar-benar terkejut saat Anne mendorongnya tanpa perasaan, baru kali ini istrinya itu melemparnya seperti tak butuh lagi, padahal kemarin setiap waktu Anne dekat dengannya.
"Kamu kok kasar sih, Sayang?" tanya Asloka sambil berusaha berdiri. Ayolah, posisi jatuhnya sangat tak estetik sekali, kaki mengangkang, terlilit selimut dan juga, pantatnya sangat sakit sekarang.
"Salah sendiri ganggu macan tidur, kalau nggak suka dipeluk bilang dari awal, aku nggak akan maksa kamu ada di kamar!" serunya segera mengambil selimut dan kembali tidur.
Geleng-geleng, iya Asloka hanya bisa geleng-geleng. Marah juga percuma, karena ini adalah efek hormon kehamilan istrinya, jadi Asloka hanya bisa mengelus dada dan berdiri.
"Kamu salah paham, Sayang. Aku mau ke toilet, kandung kemih ku sudah tak bisa menampung, nanti kalau ngompol gimana," jelas Asloka sangat lembut agar istrinya ini luluh.
"Ck, banyak alasan!" cibir Anne.
"Aku tidak alasan, An. Aku harus apa agar kamu percaya, tolong katakan," ucapnya mulai pasrah. Ayolah, pagi-pagi seperti ini dia sudah dibuat senam jantung karena Anne. Kalau sampai dia tak bisa menenangkan istrinya, maka dunia akan kiamat baginya.
"Nggak perlu ngapa-ngapain, sana pergi!"
Hembusan nafas kasar pun terdengar sangat kasar, dia akhirnya menuruti permintaan Anne. Dengan lemas, Asloka masuk kamar mandi sambil sesekali melirik istrinya barangkali berubah pikiran.
'Oh ya, dia kemarin minta buatin kue lemon, apa dia ngambek gara-gara ini ya? Kalau iya, berarti aku harus buatkan dia kue hari ini juga,' gumam Asloka terus masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
***
Anne menatap kesal pada suaminya, entah kerasukan apa tapi pagi ini dia begitu sangat baik. Membuatkannya kue lemon, padahal kemarin jelas-jelas Asloka menolak saat disuruh.
"Bagaimana rasanya, Sayang?" tanya Asloka penuh harap.
"Nggak enak!" balasnya sangat ketus. Bahkan Anne langsung menyingkirkan kue itu dan lebih memilih memakan kue coklat buatan pembantunya.
"Masa nggak enak? Perasaan tadi enak kok, apa —"
"Dibilang nggak enak, nggak enak ya nggak enak! Maksa banget sih, selera makanku sudah hilang, aku mau jalan-jalan saja!" Potong Anne sambil berdiri dari duduknya.
Dia masuk ke dalam kamar mengambil tas, dia berniat akan ke mall hari ini untuk mencari sesuatu. Tapi, baru saja Anne akan pergi Asloka langsung menarik pergelangan tangannya dengan tatapan sengit.
'Gluk! Apa aku keterlaluan ya, tapi kalau tidak seperti ini ahhh ... harus tetap dengan rencana awal,' gumam Anne.
"Kamu kenapa sih! Sikapmu dari pagi aneh, apa ada yang kamu sembunyikan atau aku melakukan kesalahan?" tanya Asloka penuh tatapan menyelidik.
Gugup, jangan tanya lagi Anne sangat gugup jika di tatap begitu lekat. Mata Asloka seperti memiliki daya tarik kuat, sehingga Anne ingin meleleh dibuatnya.
"Kamu bohong, Sayang. Tatap mataku, jika kamu jujur pastinya mau melihatku."
Anne merasakan tangan kekar suaminya meraih rahangnya, terus dia di paksa menatap Asloka. Setelah mata mereka saling bertemu, Anne semakin salah tingkah.
'Tidak, aku tidak boleh seperti ini!' Dengan tekad yang kuat, Anne langsung mengangkat tangannya dan mendorong wajah Asloka sampai melengos ke sampai.
"Sakit, Anne!" marah Asloka.
"Masa bodo!"
Kesempatan emas bagi Anne, saat Asloka sedikit merenggangkan genggamannya, dia langsung pergi begitu saja sambil berlari kecil sampai membuat jantung Asloka hampir copot.
__ADS_1
"Anne kamu sedang hamil, jangan lari!"
Anne tak memperdulikan teriakan Asloka, dia cepat-cepat ke arah mobil dan langsung masuk. Di dalam Anne mengatur nafasnya, tapi baru saja dia merasa lega, Anne dikejutkan dengan wajah suaminya tiba-tiba nongol di jendela mobil.
"Aahhhh!"
Bug!
"Aduh!"
Anne segera menutup mulutnya, dia tak menyangka akan meninju suaminya sendiri sangat keras. Anne merasa sangat bersalah, dengan cepat dia turun dari mobil dan melihat kondisi Asloka.
"Laka, kamu baik-baik saja?" tanya Anne dengan mata berkaca-kaca.
"Sakit An," keluhannya.
Anne melihat ada darah keluar dari hidung suaminya, dia semakin histeris dan menangis sangat kencang, sungguh dia menyesal mengikuti rencana sesat mertuanya. Andaikan saja, Anne tidak mengetahui rencana itu, mungkin Asloka tidak akan terluka.
"Jangan nangis, aku baik-baik saja." Asloka tak kalah panik, dia langsung tak menghiraukan lukanya dan segera mendekap tubuh gemetar Anne.
"Maaf, sungguh maafkan aku!" serunya di sela-sela tangisan.
Asloka mengangguk, dia akhirnya menggendong istrinya masuk ke dalam rumah dan membiarkan supirnya bingung dengan drama rumah tangga mereka.
"Dasar anak muda." 😌
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai jangan lupa mampir ke karya teman aku ya.
Judul : Legenda Sang Dewi Alam
__ADS_1
Napen : lidiawati06