Head Of The Class

Head Of The Class
10. Penguntit


__ADS_3

Zzzzzz ....


Ellen tertidur di dalam kelas. Setelah pelajaran ketiga selesai, waktu istirahat berlangsung selama 30 menit. Dan dalam kurun waktu itu, Ellen sudah menghabiskan 20 menit yang untuk tidur di dalam kelas.


Kelas udah terlihat sangat sepi, hanya dia seorang yang tinggal di sana.


Teman-temannya sudah sibuk berkeliaran di sekitar sekolah. Pergi ke kantin untuk makan siang, atau mengurusi pekerjaan yang lain di gedung ekstrakurikuler.


Tok ... tok ....


Keheningan yang nyaman, sayangnya hanya berlangsung selama 20 menit karena seorang lelaki membangunkannya dengan sengaja.


Eric mengetuk sudut meja Ellen dan membuat gadis itu bangun dan menatapnya.


"Hem? Kalau enggak penting lo pergi aja!" celetuk Ellen, bahkan sebelum Eric menyampaikan pesannya.


Eric beranjak duduk di bangku depan meja Ellen. Menghadap ke belakang dan menemaninya yang kembali memejamkan mata.


"Gue gak bakalan ganggu lo, kalau enggak penting, Len. Coba bangun sebentar dan dengarkan gue."


Ellen menghela napas lelah, menarik punggungnya untuk tegap dan mengangkat kepalanya untuk menatap sosok Eric.


"Apa?" tanya Ellen, di sertai helaan napas penat.


"Ada beberapa orang yang akhir-akhir ini datang ke sekolah. Kayaknya Yani pertengkaran sama kakak laki-lakinya. Lo gak bilang apa-apa kok orang tuanya?" jelas Eric, menatap kerutan di kening Ellen yang mulai tampak dengan samar.


"Ada orang-orang yang cari Yani? Lo yakin kalau itu memang cari Yani?" tanya Ellen, seakan tidak yakin karena Eric tidak membawa bukti apa pun kepadanya.


"Hem, gue belum pernah sempat foto sih. Tapi kan akhir-akhir ini Yani kayak takut pas keluar sekolah, jadi gue selalu temani dia sampai pulang ke rumah," jawab Eric, mencoba menjelaskan apa yang dia tahu.

__ADS_1


"Begitu?"


Eric menganggukkan kepalanya pasti, membuat Ellen berpikir keras untuk hal itu.


"Oke, setelah pulang sekolah nanti coba gue pastikan langsung. Makasih udah kasih tahu. Cuman itu aja yang mau lo sampaikan ke gue, kan? Kalau sudah, lo bisa biarkan gue tidur lagi? Gue mengantuk banget sumpah," keluh Ellen, kembali meletakkan kepalanya di atas meja dan menutupi wajahnya dengan buku.


Eric bangun dari tempatnya dan meninggalkan kelas. Membiarkan Ellen beristirahat jalan sisa waktu jam istirahat mereka.


Brak!!


Belum sampai 5 menit Ellen menutup kembali matanya. Tiba-tiba suara gebrakan pintu membuatnya bangun dengan kedua mata yang sudah membelalak lebar.


Ellen melihat Yani masuk ke dalam kelas dengan wajah pucat dan ekspresi ketakutan. Tubuhnya juga terlihat sedikit gemetaran, membuat kening Ellen kembali mencuram dengan sangat dalam.


"Kenapa lo?!" tanya Ellen, bangun dari posisi duduknya dan mendekati Yani yang berdiri di depan pintu, dengan kedua mata yang tepat mengawasi ke arah lorong.


"Yan?" Ellen memanggil dengan suara ragu, perawakan Yani benar-benar terlihat menghadirkan. "Yani?!" sentaknya, dengan tangan yang menumpuk pundak teman perempuannya.


Pelukan Yani sangat erat. Sampai-sampai membuat dada Ellen terasa sedikit sesak. Tapi Ellen tidak memprotes hal itu, dan terus mengawasi Yani yang gemetar ketakutan di dalam pelukannya.


"L-len, ada yang kejar gue. Dia bahkan sampai masuk sekolah! Orang-orang itu bukan suruhan Kakak. Jangan salah paham, Abang gue udah di kirim ke luar negeri sama kedua orang tua gue satu minggu yang lalu. Gue enggak tahu mereka siapa. Tapi akhir-akhir ini gue selalu dapat ancaman dan seperti diawasi. Gue takut, Len? Apa yang harus gue lakukan sekarang?! Kedua orang tua gue dinas ke luar kota dan gue sendirian di rumah. Bagaimana kalau mereka tiba-tiba datang?" keluh Yani, sambil menangis.


Ellen memeluk gadis itu, menepuk beberapa kali punggungnya dan berusaha menenangkan teman perempuannya itu.


Jujur, Ellen tidak terlalu dekat dengan Yani. Tapi melihat gadis pendiam seperti Yani, yang tidak biasanya menceritakan masalah keluarganya pada orang lain. Ellen yakin, Yani benar-benar ketakutan sekarang ini.


"Oke, gue paham. Gue akan bantu lo. Sekarang tenangkan diri lo du-"


Arghh ....

__ADS_1


Yani tiba-tiba berteriak saat melihat seorang lelaki lewat di depan kelas mereka, dengan langkah cepat dan kedua manik mata yang melirik ke arahnya.


Ellen juga melihat hal itu, dan respons Yani yang histeris, sudah dapat menjawab semua pertanyaan yang bahkan belum di lontarkan Ellen secara langsung kepadanya.


"Gue tahu lo enggak nyaman tentang ini. Tapi gimana kalau lo tidur di rumah gue aja? Nanti malam anak-anak bakal ke rumah gue untuk belajar kelompok. Kalau lo enggak keberatan, lo mau pakai saran gue?" Ellen menatap Yani yang terus melihatnya dengan tatapan serius.


Entah kenapa, Yani yang selalu menghindari tatapan Ellen karena dia tidak berani menatap mata yang selalu tampak tajam dan menusuk itu, kini malah di buat sangat tenang karena gadis itu terlihat sangat tegas dan dapat di andalkan.


"Lo yakin? Gue enggak ngerepotin? Gue takut kalau gue ngerepotin lo. Habisnya, setelah pulang sekolah lo juga langsung pergi ke toserba, kan? Buat kerja sambilan," cicit Yani, merasa sedikit canggung saat dia harus mendapatkan bantuan seperti itu.


"Gak papa. Lo juga tahu kalau rumah gue selalu kosong. Kamar di rumah gue cukup banyak. Jadi kalau nanti anak-anak juga mau menginap di sana gara-gara tahu lo mau menginap di rumah gue, gak masalah juga, kan? Karena kamarnya banyak dan luas."


Yani mengangguk ambigu dan menyetujui permintaan itu. "makasih, Len. Maaf kalau gue ngerepotin lo."


"Gak papa. Daripada lo kenapa-napa dan gue tambah cemas. Lebih baik kalau gue bantu lo sekarang! Sebelum semuanya terlambat."


"Iya. Sekali lagi makasih, Len."


***


Seperti biasanya, pukul 09.00 malam teman-teman Ellen sudah stand by di depan rumahnya menunggu si pemilik rumah pulang untuk membukakan pintu mereka.


"Eh? Kenapa sekarang malah ada Yani di sana?" tanya Agustin, menuju ke arah kedatangan Ellen yang berjalan bersama dengan Yani.


Sia menoleh ke arah yang di tunjuk Agustin. "Eh? Iya juga. Kenapa ada Yani di sana? Dia mau ikut kita belajar??" Sia memandang ketiga orang temannya yang juga sama bingungnya dengan dirinya.


Grisel menunjuk ke arah Yani, sambil berkata, "Anak itu? Lo yakin dia mau gabung belajar sama kita? Menyapa kita aja enggak pernah. Mau belajar kelompok bersama? Kayaknya enggak mungkin deh."


Dika menghela napas panjang. "Hahh ... jangan berprasangka buruk dulu. Sebaiknya kita dengar penjelasan mereka berdua nanti," tegurnya.

__ADS_1


Sia, Agustin dan Grisel menganggukkan kepalanya mengerti dan menunggu kedua gadis itu sampai di hadapan mereka.


"Len, Yani mau ikut kita? Terus siapa yang ada di belakang kalian itu?" tanya Sia, menunjuk ke arah belakang punggung kedua gadis itu.


__ADS_2