Head Of The Class

Head Of The Class
24. Maksud Terselubung


__ADS_3

"Lo gak mau balik sekarang? Sekarang udah jam 12.00 malam loh," seru Ellen, menatap Andre yang tak kunjung keluar dari kamar inapnya.


Andre yang mendengar teguran itu, menoleh padanya dan menggidikkan bahunya acuh. "Gak boleh amat gue nungguin lo di sini. Kenapa sih? Mantan pacar lo menjenguk, mangkanya lo usir gue gitu?"


Ellen mengerutkan keningnya dalam, menatap ekspresi wajah Andre yang benar-benar tidak bersahabat.


"Jutek, tumben banget kayak gitu? Jangan bilang kalau lo masih cemburu gara-gara tadi gue sama Steven lagi bahas mantan gue?!"


Tak ada jawaban dari lawan bicaranya. Karena saat itu Andre hanya diam dan memalingkan wajahnya dari perhatian Ellen.


Memutar bola matanya malas, Ellen pun berkata, "Udahlah, lo pulang aja sekarang. Besok kan harus sekolah? Masa iya lo mau tidur di sini sama gue?! Yakin bapak sama mama lo enggak nyariin?" tanyanya, sekedar menjadikan itu alibi untuk mengusir Andre.


"Gue udah bilang mama sama bapak, gue mau tinggal di sini semalam. Lagian lo di sini sendirian, kan? Bersyukur dikit dong kalau ada yang mau nemenin," ujar Andre, nyolot.


Ellen memijit pelipisnya yang berdenyut sakit karena melihat tingkah Andre yang aneh ini. Dia tidak pernah memiliki teman yang rempongnya seperti teman barunya yang satu ini.


"Apa semua anak kota kayak lo lebay kini kalau sama teman? Setia kawan sih boleh, tapi kalau kayak gini jatuhnya gue ya enggak nyaman tahu?!" celetuk Ellen, hanya bermaksud menyampaikan pendapatnya.


Tapi setelah mendengar hal itu, Andre malah terdiam. Memandang wajah Ellen yang tampak tak berdosa, walau telah mengatakan hal menyakitkan kepadanya.


"Sakit hati gue lo bilang kayak gitu. Jadi maksud lo gue ganggu gitu, kan?" sambar Andre, sambil membereskan barang-barang yang dengan cepat dan keluar dari ruangan itu, dengan langkah mengentak.


Ellen tak mengejar dirinya. Malah diam menganggap sikap Andre yang sangat sensitif itu aneh. Karena tidak pernah ada teman lelakinya, yang menaruh perhatian lebih seperti Andreas.


"Masa sih? Dia benaran suka sama gue? Really?" Ellen menaikkan sebelah alisnya. Tampak tak percaya dengan pemikiran yang sempat terlintas di kepalanya itu.

__ADS_1


"Gaklah. Gak mungkin dia suka sama gue! Dia suka gue dari apanya juga? Ngomong sama dia aja selalu ketus, masa dia suka di cuekin? enggak mungkin deh!" ucap Ellen, berusaha meyakinkan dirinya.


Keesokan paginya ....


Setelah Ellen keluar dari kamar mandi, tiba-tiba dia melihat seorang lelaki sudah duduk di sofa yang ada di dalam kamar inapnya.


Bukan langsung menegur, tatapan Ellen malah langsung tertuju pada jarum jam yang menggantung di dinding dekat jendela.


Ellen memperhatikan pukul berapa saat ini. Walaupun sinar matahari sudah mulai menyusup ke sela-sela gorden kamarnya, tapi tetap saja. Ini masih sangat pagi. Karena jarum jam masih menunjukkan pukul 05.30 dini hari.


Ellen berjalan mendekat ke arah lelaki yang tengah duduk nyaman di sofa itu. Dia berdiri tempat di samping lelaki itu dengan kedua tangan yang sudah terlipat di depan dada.


"Gak ada kapoknya ya lo?! Padahal gue kemarin udah mengusir lo. Tapi sekarang malah datang lagi? Kepala batu memang!" celetuk Ellen, dengan nada tidak ramah.


Andre menoleh pada Ellen, singkat. "Gue ke sini bukan tanpa alasan kok. Gue bawakan lo sarapan! Gue dengar dari Sia, lo enggak suka makanan rumah sakit karena hambar kan? Jadi tadi gue belikan bubur ayam buat lo." Andre menuju ke arah bingkisan yang diletakkan di meja kecil samping ranjang Ellen.


Ellen duduk di tepi ranjangnya, sambil memandang ke arah luar jendela. Dia makan sarapan yang diberikan Andre dengan tenang. Sampai akhirnya, Andre mengucapkan kata-kata yang membuat Ellen menoleh padanya dengan tatapan syok.


"Besok Yani akan ikut orang tuanya pergi ke Australia. Dia bakalan pindah sekolah dan pindah rumah. Karena kejadian ini, kayaknya kedua orang tua Yani enggak tenang meninggalkan putrinya di rumah sendirian." Andre mendesah kasar sambil menutup buku yang dia baca.


"Kayaknya itu langkah terbaik yang bisa dilakukan kedua orang tua Yani untuk putrinya. Gue enggak tahu lo terima atau enggak, tapi rencananya anak-anak enggak ada yang bilang ke lo karena takut lo kaget. Tapi gue enggak bisa jaga rahasia itu, karena menurut gue. Lo orang yang bersangkutan!" jelas Andre, sedikit panjang.


Ellen hanya diam memandangnya. Entah kenapa ada perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya.


Walaupun sikap tidak tahu terima kasih sering dia dapatkan. Tapi kenapa Yani sampai tidak berpamitan kepadanya? Padahal dia sudah sampai terluka seperti ini gara-gara terseret masalah wanita itu.

__ADS_1


"Ah ... memang dasar orang-orang enggak tahu diri!" gumam Ellen, masih dapat di dengar Andre dengan baik.


Tapi tak ada kata yang keluar dari mulut lelaki itu. Karena dia juga memiliki pikiran yang sama dengan Ellen.


Keluarga atau Yani sendiri. Keduanya sama-sama tidak tahu terima kasih kepada Ellen. Dan itu pasti cukup menyakitkan untuk Ellen.


Lalu tindakan anak-anak kelasnya yang tidak ingin memberitahu tentang masalah ini, membuat Ellen pasti lebih terpukul lagi.


"Ya sudah enggak papa. Gak usah di pikirin juga. enggak semua orang bertingkah baik kalau kita baik mereka. Gak semua harus ada balasannya secara langsung, kan? Biar yang di atas balas sikap baik gue. Itu jadi lebih berkah malah!" ucap Ellen, seperti seseorang yang sangat pandai mengikhlaskan sesuatu.


Andre tidak membantah. Dia hanya diam dan mencoba tidak menambah beban pikiran Ellen. Entah kenapa, dia tidak ingin wanita itu semakin sedih.


Perasaan yang sangat aneh. Padahal Andre dan Ellen tidak memiliki hubungan yang sangat dekat. Bahkan keduanya terbilang memiliki hubungan yang cukup buruk.


Ellen yang selalu bersikap ketus, sementara Andre yang sering bersikap usil dan memancing amarah Ellen.


Tapi kenapa saat melihat wajah sedih dari Ellen, Andre seakan-akan menjadi lelaki yang sangat peduli dengan perasaan Ellen. Dia tidak ingin Ellen di sakiti oleh orang lain kecuali dirinya.


Sikap egois yang aneh. Tapi itulah yang dirasakan oleh Andre saat ini.


"Hahh ... ya udah deh lo makan aja. Makan yang banyak ya?! Nanti pas pulang sekolah gue bakal bawakan materi buat lo. Kemarin anak-anak di grup kelas udah ribut tentang pembagian materi buat ulangan. Jadi entar gue bawa kan punya lo juga," ucap Andre, sambil bangkit dari tempatnya setelah memasukkan bukunya ke dalam tas sekolahnya.


"Gak papa? Lo sering bolak-balik ke sini deh. Nanti kalau ada gosip miring tentang kita gimana? Memang lo mau tanggung jawab?" tanya Ellen, tampak sungkan.


Andre menggidikkan bahunya acuh. "So, kita tinggal lakuin apa yang mereka gosipkan."

__ADS_1


"Hah? Maksud lo gimana?"


"Pikir sendiri deh. Buat PR hari ini. Gue berangkat dulu ya. Bye ...."


__ADS_2