
Andre masih memperhatikan. Memperhatikan apa yang telah di lakukan ketua kelas perempuannya itu, karena sekarang dia tidak sekedar celingukan di dalam kelas melainkan di depan kelas mereka.
Tak lama kemudian dia berlari ke arah jendela, yang langsung mengarah ke gerbang utama.
Di sana Ellen melihat Grisel, Angga dan Agustin, berlari masuk ke dalam gedung pelajaran setelah mendapatkan teguran kecil dari guru yang membina komite kedisiplinan sekolah.
Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Haidar. Most wantednya para guru. Karena selain tampan dan tegas, dia juga memiliki kepribadian yang sangat ketat. Termasuk dengan peraturan sekolah, terutama tentang seragam para anak sekolahnya, yang mengharuskan mereka menaati aturan dan memakai semua atribut yang di sediakan tanpa terkecuali.
"Hahhh ... untung masih di perbolehkan masuk. Coba aja kalau mereka ditahan di gerbang, gue lagi yang repot," gumam Ellen, menghela napas lega.
Setelah itu dia kembali ke tempat duduknya dan mulai kembali fokus kepada persiapan untuk pelajaran pertama.
Tapi baru lima menit dia menyiapkan diri untuk mengikuti pelajaran, tiba-tiba seorang guru masuk ke dalam kelas mereka dan memanggilnya keluar.
Itu adalah Pak Redo, orang yang paling terkenal mesum di sekolah mereka. Guru pendidikan kewarganegaraan yang sangat di hindari oleh siswa perempuan.
Dan kini pagi-pagi dia memanggil kedua kelas mereka keluar dari kelas? Di 0p0saat tiga menit lagi guru mapel pertama akan masuk ke kelas mereka?
"Ikut saya, Ellen!" ucap Pak Redo, dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat.
Tiga orang teman lelaki mereka, langsung menoleh ke arah ketua kelasnya. Seakan-akan memperingati wanita itu untuk tidak beranjak dari tempatnya.
Tapi apalah daya, orang yang akan mereka tentang adalah salah satu guru di sekolah mereka. Mereka tidak boleh melakukan hal itu, karena tindakan itu sangat tidak sopan.
Terutama bagi Ellen yang menjunjung tinggi sikap sopan santun kepada orang tua. Dia malah tidak berani menolak permintaan Pak Redo yang memintanya keluar kelas. Karena bagi Ellen, bagaimanapun juga dia adalah salah satu guru yang patut di hormati.
"Len, lo mau ikut dia?!" ucap Grisel, saat mereka berdua berpapasan di depan pintu kelas.
Sontak hal itu membuat Angga dan Agustin yang telat persamaan dengan Grisel, menahan langkahnya di depan kelas dan menoleh ke arah mereka dengan cepat.
__ADS_1
Agustin mendekati Grisel dan Ellen yang masih terdiam diri di depan ambang pintu.
"Lo mau ikut Pak Redo?" tanya Agustin, menatap Ellen yang mengangguk singkat.
Lalu Agustin menoleh ke arah Pak Redo yang menunggu Ellen di depan kelas sebelah mereka.
"Pak, mau ambil buku di perpustakaan, kah? Saya bantu, ya?! Ellen badannya gepeng kayak gini, gak mungkin kuat angkat 20 buku sekaligus. Adanya dia malah bolak-balik dan kak ikut pelajaran pertama!" sigap Agustin, memikirkan solusi yang tepat untuk tidak membiarkan Ellen pergi berdua saja dengan guru lelaki itu.
Ellen dan Grisel memperhatikan Agustin yang sedang mengupayakan agar Ellen tidak pergi sendirian.
Tak lama kemudian, Pak Redo mengangguk dan menyetujui permintaan itu setelah menimbang beberapa saat.
"Nice, saya taruh tas dulu pak!" ucap Agustin, segera berlari ke dalam kelas dan melemparkan tasnya ke arah bangkunya, yang ada di bagian tengah.
Untung saja, Kirana menangkap benda itu ketika tas Agustin hampir terjatuh dari atas meja.
"Thanks cantik!" celetuk Agustin, sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Kirana.
Setelah itu, Ellen dan Agustin pergi meninggalkan kelas mereka dan mengikuti Pak Redo perpustakaan bagian utama untuk mengambil buku-buku khusus untuk kelas mereka.
"Kalian bisa ambil buku ini dan minta ke penjaga perpustakaan. Saya tunggu di sini, ya?!" ucap Pak Redo, mendapat anggukkan kepala dari kedua siswanya.
Agustin dan Ellen pergi ke ujung rak buku yang ada di bagian tengah. Mereka mengambil beberapa buku yang judulnya tertuliskan di kertas kecil itu, seakan-akan sudah hafal jika Pak Redo selalu meminta mereka mengambil buku-buku itu saat pelajaran beliau hendak berlangsung.
"Tadi gue lupa izin sama guru mapel pertama nih. Di marahi enggak, ya?" celetuk Ellen, merasa sedikit resah karena dia bersama dengan Agustin. Salah satu orang yang nilai dan absensinya harus dia jaga.
Tapi orang yang bersangkutan, malah terlihat enjoy sambil memungut buku-buku dari dalam rak buku tersebut. "Gak usah di pikirin lah, Len. Di kelas kita masih ada 18 orang! Mereka pasti mintakan kita izin. Lo enggak usah khawatir deh," celetuknya, tampak tak acuh.
Ellen mengangguk singkat dan segera menyelesaikan pekerjaan mereka. Mungkin, walau sudah mendengar perkataan dari Agustin. Yang memintanya untuk tetap tenang, hati Ellen sepertinya tidak bisa setenang Agustin.
__ADS_1
Melihat sikap itu, Agustin hanya menghela napas panjang dan segera mengikuti ritme kerja Ellen dalam menyelesaikan tugas mereka.
Ellen dan Agustin keluar dari perpustakaan tersebut setelah mereka berada di sana hampir 10 menit lamanya.
Dan saat hendak keluar dari perpustakaan, tiba-tiba dia melihat guru lelaki itu tidak berada di tempatnya.
Ellen dan Agustin saling bertukar pandang.
"Ke mana Pak Redo?" tanya Agustin, menoleh ke kanan dan ke kiri berusaha mencari keberadaan guru lelaki itu.
"Mungkin udah balik duluan gara-gara kita lama kali. Ya udahlah, ayo balik du-"
Perkataan Ellen berhenti. Saat kedua matanya memandang Pak Redo yang tengah dia cari, berdiri di balik salah satu tiang penyanggah lorong tersebut, dengan salah seorang murid perempuan yang terlihat gugup saat berhadapan dengannya.
Tidak banyak bicara, Ellen langsung menyerahkan tumpukan buku yang ada di tangannya pada Agustin dan segera bergegas mendekati kedua orang yang dia lihat di sana.
"E-eh ... lo mau ke mana, Len?!" seru Agustin, segera mengikuti langkahnya walaupun hampir tertinggal.
"Pak!" panggilan Ellen, dengan suara sedikit lantang dan membuat kedua orang yang ada di sana sedikit terkejut.
Pak Redo menoleh ke arah datangnya Ellen dan Agustin. Wajahnya tampak sedikit kesal, tapi tidak dengan perempuan yang bersama dengannya.
Siswa perempuan yang hendak di selamatkan oleh Ellen, terlihat sangat lega melihat keduanya berbondong-bondong berjalan ke arahnya.
Entah apa yang akan dilakukan oleh Pak Redo kepada salah satu kakak kelas yang ini. Yang jelas, dia pasti sangat bersyukur karena melihat Ellen dan Agustin segera datang padanya.
"Pak, kami sudah selesai ambil buku. Sekarang kita balik?" tanya Ellen, dengan nada suara yang tampak tenang walaupun kedua tangannya sudah mengepal sangat erat.
Pak Redo menatap murid perempuan yang dari tadi menunduk tanpa berani memandangnya itu, dengan tatapan lelah.
__ADS_1
"Bapak balik dulu. Nanti kita bicara lagi tentang nilai ujian kamu!" ucap Pak Redo, menepuk pundak gadis itu beberapa kali dan mengusapnya di bagian akhir saat Pak Redo hendak menyingkirkan tangannya dari pundak tersebut.
Hal itu spontan membuat emosi Ellen memuncak. Tapi Agustin langsung menggenggam tangannya dan menatapnya tajam. Seakan-akan memperingatkan Ellen untuk tidak melakukan tindakan gegabah.