Head Of The Class

Head Of The Class
25. Meresahkan


__ADS_3

Sudah seharian tapi Ellen tidak melihat keberadaan Andre. Dia di buat sampai tidak bisa makan dan tidur dengan pulas.


Para perawat dan Dokter yang melihat tingkah Ellen hari ini, merasa cukup janggal dan khawatir. Karena tidak biasanya dia bersikap seperti itu.


Baru beberapa hari tinggal di rumah sakit, Ellen memang terkenal cuek dan dingin pada semua orang dan semua kondisi.


Bahkan setelah dia bangun dari koma, Ellen sempat jalan-jalan sendiri tanpa pengawasan perawat dan juga tidak izin kepada mereka. Alhasil, 5 orang perawat di kerahkan untuk mencarinya hari itu.


Ellen juga meminta maaf karena kesalahannya tersebut. Tapi besoknya, dia tetap melakukan hal yang sama dan kembali membuat para pelayan mengulangi kejadian yang sama.


"Kenapa dengan anak di nomor 203 itu? Biasanya dia tidak terlihat resah. Tapi hari ini malah terlihat banyak pikiran. Kondisinya tidak ada yang buruk sampai bisa membuatnya ke pikiran, kan?" tanya perawat bernama Gisela, bertanya kepada dua orang temannya, Sinta dan Nana.


Sinta dan Nana hanya menghela napas kasar dan tidak menanggapi pertanyaan Gisela dengan serius.


"Sudah, jangan kau hiraukan. Para Dokter juga berkata hal yang sama. Dia bahkan belum makan dari pagi. Biasa, anak yang lagi kasmaran ya kayak gitu!" celetuk Sinta, membuat seorang gadis berusia 16 tahun menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.


Sinta tersentak. Dia tidak mengira kalau Ellen berdiri di depan kamarnya dan bisa mendengar apa yang dia celetukkan.


"Hahaha ... memang ada-ada saja ibu di bilik kamar sebelah itu. Masa kemarin-"


Perawat Sinta menghela napasnya lega melihat Ellen yang berlalu di hadapan meja resepsionis mereka tanpa berhenti dan melabraknya. Padahal jelas-jelas Ellen mendengar perawat Sinta membicarakannya.


Tapi ya, sesuai sikap awalnya. Dia tidak pernah peduli saat ada seseorang yang membicarakannya secara terang-terangan. Dan Sinta cukup bersyukur dengan itu.


"Lo datang lagi? Padahal tadi pagi gue udah bilang kalau lo enggak usah datang ke sini. Tapi sekarang kenapa malah datang lagi?!" pekik Ellen, dengan suara yang sedikit keras sampai suaranya menggema di sebagian lorong.


Andre menutup mulut ketua kelasnya dengan tangannya dan memberikan buku catatan.


"Astaga, gak usah teriak juga kali. Gue datang cuman mau kasih ini aja! Habis itu gue mau balik. Nih, gue langsung ya?! Byeee ...," celetuk Andre, berjalan pergi sambil melambaikan tangannya.


Ellen memandang buku yang sudah berpindah tangan kepada dirinya. Lalu memperhatikan sosok Andre berjalan jauh meninggalkannya.


"Tuh kan, apa kue bilang?! Udah resah seharian gara-gara cowok eh malah dicuekin. Sad ending deh," pekik perawat Sinta, kembali mendapat tatapan tajam dari Ellen.


Gisela dan Nana hanya bisa menggelengkan kepalanya ampun melihat Ellen berhasil membuat mereka malu karena sikap Sinta.

__ADS_1


"Hahhh ... diam saja mulut kamu Sinta! Mau sampai kapan kamu menjadi pusat perhatian orang-orang hah?!" celetuk Gisela, memandangnya dengan tatapan horor.


Sinta tersenyum masam dan meminta maaf kepada kedua temannya dan Ellen, saat gadis itu lewat di depan meja resepsionis mereka.


***


Pukul 18.00 malam ....


Tasya keluar dari mobil dengan membawa dua tas besar yang di bantu dengan sigap oleh William.


Kedua sekretaris Ellen itu turun terlebih dahulu, setelah mereka memarkirkan mobil dengan benar di bagian dalam halaman rumah Ellen.


Karena mereka berdua selesai menjemput Nonanya. Yang hari ini, memang di perbolehkan pulang oleh Sang Dokter. Walaupun sebenarnya, dari kemarin Ellen sudah meminta Dokternya untuk mengizinkan dirinya pulang. Tapi baru hari ini dia mendapatkan izin itu. Tempat setelah 4 hari dia dirawat di rumah sakit.


Baru keluar dari mobil, pandangan Ellen sudah tertuju pada seorang anak kecil yang membawa kaleng susu bekas, yang berdiri di rumahnya dengan pakaian compang-camping.


Ellen menyipitkan matanya yang sedikit rabun karena terlalu sering membaca di tempat yang kurang pencahayaan. Dia mencoba sebisa mungkin memperjelas penglihatannya.


"Hahh ... bisa-bisanya di jaman ini masih ada pengemis kecil! Kasihan sekali. Tapi kalau dikasih sekali, besok pasti datang lagi," omel Tasya, berjalan mendekati pengemis yang berdiri di depan gerbang rumah mereka dengan tatapan garang.


Anak kecil itu langsung menundukkan kepalanya, seakan takut kepada Tasya. Tidak banyak bicara, dia berjalan pergi dari rumah itu dan membuat Tasya kembali mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda.


"Ada apa, Nona? Kenapa Anda terus melihat anak kecil itu? Apa Anda mengenalnya??' tanya William, membuat fokus Ellen berpindah kepadanya.


Ellen menghela napas pelan sambil menggeleng kecil. "Tidak. Gue enggak bisa melihat wajahnya karena tidak pakai softlens. Sekarang pindahkan barang-barang gue ke dalam. Gue masuk duluan ya?"


"Baik Nona. Selamat beristirahat," ucap William, membiarkan Ellen pergi tanpa menyusahkannya.


"Tasya!"


Tasya menoleh pada William yang baru saja memanggilnya. Lelaki yang asal mulanya berada di seberang tempat Tasya berdiri, kini sudah berpindah tempat dan berdiri di hadapannya.


"Kenapa?" tanya Tasya, menatap William dengan tatapan bingung.


"Lo lihat muka anak itu dengan jelas?" tanya William, mengundang teka-teki di kepala Tasya.

__ADS_1


"Gak terlalu sih. Memangnya kenapa?" jawab Tasya, dengan wajah polos tak berdosa.


William yang mendengar jawabannya, hanya menghela napas kasar dan menoleh ke arah gerbang. Tempat terakhir di mana perhatian Ellen tertuju pada gadis berusia 10 tahun.


"Hahhh ... gak papa deh. Lupakan aja dan kita pindahkan barang-barangnya ke dalam. Habis ini gue ada meeting sama klien. Jangan sampai gue telat!" jelas William, membuat ritme kerja mereka menjadi semakin cepat.


***


BRAK!


"Lagi-lagi perusahaan itu yang dapat pamor gara-gara acara sukarelawan. Padahal banyak direktur yang lebih tua ikut hadir di sana. Tapi kenapa selalu yang paling mudah yang menjadi sorotan? Menyebalkan!" marah Andra, setelah membanting sebuah tablet tempat dia membaca berita.


Hana menghela napas lelah dan mengambil tablet yang baru saja di lemparkan suaminya.


Tatapan Andra jatuh pada sikap Hana yang tengah memandangnya dengan tatapan tajam karena merusak benda elektronik yang baru dia beli minggu kemarin.


"E-eh ... Ayah gak sengaja sumpah! Jangan marah-"


Plak!!


Sepasang sandal terlempar ke arah Andra dan membuatnya berlindung di balik suka, tempat sebelumnya dia duduk.


Amarah istrinya memang sangat mengerikan. Bahkan lebih mengerikan dari dia saat sedang marah.


"Maaf, Ma. Besok Ayah beliin yang lebih bagus deh! Sekarang jangan ganggu aku yang lagi marah-marah ya?" celetuk Andra, masih berusaha bernegosiasi di situasi itu.


Tapi tampaknya, amarah sang istri tidak bisa padamu karena bujukan tersebut. Membuat Andra menelan ludahnya susah dan memandang putra bungsunya yang baru saja pulang.


"Eh anak-"


"Andre gak mau tolongin. Andre capek! Andre masuk ke kamar dulu ya Yah ... Ma! Good night." Andre berjalan cepat masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Seakan tahu, kalau ayahnya baru saja membuat ulah dan dia tidak mau ikut campur dengan itu.


Andra pun terdiam dan mengulas senyuman masam sambil memandang sang istri. "Hehehe ...."


"Sini!!!" teriak Hana, menggema danĀ  membuat mental suaminya langsung ciut.

__ADS_1


__ADS_2