
Tama dan Andre berdiri di sebuah rumah yang sangat besar dan megah. Rumah besar itu tersusun dari tiga lantai. Halaman yang sangat luas dan ada dua bodyguard yang menjaga di dekat pintu masuk rumahnya.
Ada pos satpam di bagian depan, tapi sepertinya Ellen tidak memperkerjakan satpam untuk menjaga rumahnya. Ya, mungkin karena Ellen sudah memperkerjakan 2 bodyguard yang menjaga area dalam, karena itulah dia tidak perlu mengkhawatirkan area luar rumahnya.
"Bagaimana ini? Kayaknya kita nyasar deh. Lo yakin kalau ini rumahnya?" tanya Andre, menatap Tama yang berdiri di sampingnya sambil menatap tak percaya bangunan di depan mereka.
"Kalau dari alamat yang Dikasih tahu anak-anak, kayaknya enggak mungkin salah. Coba gue telepon mereka dulu. Siapa tahu rumah yang sebelah atau yang mana, gue minta mereka keluar aja!" ucap Tama, segera menghubungi Dika.
"Halo, dik. Gue di depan, tapi gue enggak tahu yang mana rumahnya. Coba lo keluar dari rumah."
Tak lama setelah itu, pintu yang dijaga oleh dua orang bodyguard di depan sana, terbuka dan memperlihatkan tampang Dika.
Dika bergegas ke arah depan, membukakan gerbang untuk kedua temannya. "Lah, kalau lo udah di depan sini, kenapa enggak langsung masuk aja sih? Tadi dua bodyguard Ellen sudah Dikasih tahu, kalau ada dua orang temannya lagi yang datang. Mangkanya mereka enggak samperi kalian," jelasnya, sambil membuka pintu.
Tama dan Andre langsung masuk ke dalam halaman yang luasnya hampir 6 m2 itu. Lalu keduanya mengikuti langkah Dika masuk ke dalam rumah dan menemui teman-temannya yang lain.
"Yani? Tumben lo main? Biasanya ngendon aja di rumah," celetuk Tama, saat melihat kehadiran wanita itu di dalam grup belajar ketua kelasnya.
"Dari kemarin gue tidur sini. Dan dua minggu ke depan gue bakal tetap di sini. Sampai orang tua gue pulanglah. Horor banget soalnya kalau di rumah sendirian," jawab Yani, memberikan alibi yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu.
Tama hanya menganggukkan kepalanya dan tutup di samping Grisel, yang sedang mengerjakan buku soal bersama Sia dan Ellen.
"Len, tadi kita udah beli bahan-bahan yang lo butuhkan. Sekarang lo bisa bantu kita enggak? Atau lo mau selesaikan kerjai soal-soal itu dulu?" ucap Tama, melihat ke arah Ellen yang mulai menutup buku-bukunya dan mendekat ke arahnya bersamaan dengan Agustin yang berpindah tempat mendekati Tama.
Andre sempat melirik ke arah Ellen. Dan tatapan kedua mata mereka saling bertemu, tapi tidak ada sapaan ramah di antaranya. Andre dengan sikap canggung, sementara Ellen seperti tidak peduli dengan kehadirannya.
Ya, dari awal Ellen memang orang yang cuek. Jadi Andre tidak terlalu banyak berharap, kalau gak di situ sampai mengungkit pertemuan mereka di toserba tadi.
__ADS_1
"Ndre, lo mau gabung belajar sama kita atau nimbrung doang kayak Yani?!" tanya Dika, membuat lawan bicaranya menoleh ke arahnya dan mengangguk cepat.
"Iya, gue ikut belajar sama kalian aja. Gue bawa buku sih, tapi kayaknya beda level materi sama kalian." Andre mengeluarkan sebuah buku tebal dari dalam tasnya, meletakkan benda itu di atas meja.
Dika, Sia, dan Grisel langsung terperangah saat melihat buku Andre.
Bagaimana tidak? Level soal yang dikerjakan lelaki itu, berbeda tiga level dari buku soal mereka.
"Gila, lu udah sampai situ? Pintar banget otak lo! Ada saingan rangking baru nih," celetuk Dika, membuat Ellen menoleh cepat ke arahnya dan melirik ke arah buku yang di bawah oleh Andre.
Ellen diam beberapa saat, tanpa ada satu pun orang yang sadar dengan tatapan sinis yang hadir di kedua manik matanya.
"Len, malah bengong aja lo. Ayo bantuin kita! Dua hari lagi bakal di kumpulkan nih. Waktu kita mepet nih!" keluh Agustin, membuat perhatian Ellen yang sempat terpecah, ini kembali pada mereka.
Andre melirik ke arah Ellen, dia sempat sadar tentang tatapan Ellen yang begitu tajam, tapi tidak menoleh balik pada gadis itu. Entah kenapa dia merasa takut, karena tatapan Ellen saat itu terlihat sangat menekan dan membuatnya sesak.
Sudah 15 menit mereka belajar dengan nyaman, tiba-tiba suara keributan dari luar terdengar sangat nyaring sampai membuat 7 orang anak remaja yang sedang sibuk belajar, sampai terkejut dan berlari keluar dari rumah.
Suara itu berasal dari kedua bodyguard Ellen yang seperti sedang bertengkar dengan beberapa orang di luar pintu gerbang rumahnya.
Padahal jarak bangunan rumah dan pintu gerbang Ellen berada cukup jauh, mungkin ada 6-7 meter, tapi suara Thomas benar-benar lantang sampai membuat mereka terkejut.
Ellen sebagai tuan rumah, menghampiri kedua bodyguardnya yang tengah ribut dengan 3 orang lo lagi di depan gerbang.
Sementara 7 orang teman Ellen, menahan langkah mereka di ambang pintu dan memperhatikan keributan itu dari jauh.
"Maaf, saya bilang Anda tidak boleh masuk, Tuan!" sentak Zero, tampak marah pada salah satu orang di antara 3 orang tamu yang memaksa masuk ke dalam.
__ADS_1
Ellen membuka gerbang, membuat Thomas dan Zero menoleh ke arahnya dengan cepat dan menunjukkan tatapan hormat.
"Ada apa ini?" tanya Ellen, pada kedua pengawalnya.
Thomas menghela napas berat dan menoleh pada tiga orang lelaki yang tampak dikenali oleh Ellen.
"Maaf, Nona. Tapi mereka memaksa masuk. Mereka bilang, ingin menjemput Nona Yani. Jadi kami mencoba untuk menghalanginya. Tapi mereka tetap memaksa," jelas Thomas, mendapat anggukkan kecil dari Ellen.
"Baiklah, terima kasih sudah menjelaskan. Sekalian berdua boleh masuk," pinta Ellen, membuat kedua lelaki itu menoleh ke arahnya dan mengerutkan keningnya dalam.
"Tapi Nona, bagaimana dengan mereka?" tanya Zero, tampak tak senang melihat respons Ellen.
"Biar aku yang mengurusnya. Sebaiknya kali masuk saja," ucap Ellen, dengan tatapan tegas dan menusuk.
Thomas dan Zero, menghela napas kasar dan mengangguk mengerti. Keduanya berjalan masuk ke halaman lantas, kembali ke posisinya.
Sementara Ellen yang tinggal di depan gerbang, menghadapi langsung 3 orang yang kemarin setelah dia hajar dan dilaporkan ke polisi.
Tapi entah kenapa, tiga lelaki ini sudah ada di depan rumahnya lagi?! Memang kalau hama itu, sangat sulit di basmi!
"Ada urusan apa kalian datang lagi? Ingin menjemput Yani lagi?" tanya Ellen, to the point.
"Benar, kami ingin menjemput Nona Yani. Tolong biarkan kami masuk dan membawanya pergi. Dengan begitu, kami tidak akan mengganggu kedamaian rumah Anda!" jelas salah satu lelaki, di antara 3 orang tersebut.
Namun tatapan Ellen tiba-tiba berubah menjadi dingin. Dia tampak tidak senang, dan lawan bicaranya seakan mengerti apa yang tengah dia pikirkan.
"Kalian ingin bertengkar denganku lagi?!" celetuk Ellen, seakan mengeluarkan aura membunuh dari balik punggungnya.
__ADS_1