
"Baik Nona Ellen, saya akan menyampaikan kepada Nona Yani."
"Ya selamat bekerja!"
Zero menatap Thomas yang menyimpan kembali ponselnya, setelah mendapatkan panggilan dari atasan mereka, Ellen.
"Nona meminta tolong sesuatu?" tanya Zero, hanya mendapatkan anggukkan kecil dari Thomas.
"Gue masuk dulu buat kasih tahu Nona Yani perihal permintaan Nona Ellen," ucap Thomas, berpamitan kepada Zero.
Zero hanya diam membiarkan Thomas pergi meninggalkannya di depan rumah.
Thomas masuk ke dalam rumah dan menemui Yani yang ada di ruang tengah. Sedang menonton serial tv kesukaannya.
"Nona," panggil Thomas, membuat gadis berusia 17 tahun itu menoleh padanya.
"Ya?" sahut Yani, menatap Thomas yang berdiri 6 langkah dari posisinya berada.
"Sekretaris Nona Ellen akan segera tiba. Namanya Tasya. Beliau akan segera datang untuk membahas perkara Anda dengan Tuan tanah yang akhir-akhir ini mengusik kehidupan Anda. Anda di minta untuk bersiap" sampai Thomas, dengan penuturan yang sopan.
Yani tak dapat mengatupkan bibirnya. Dia terlihat sangat terkejut karena Ellen sampai memanggilkannya sekretaris untuk menangani masalahnya.
"Saya di minta bersiap? Apa saya harus ganti baju?" tanya Yani, terlihat polos dan bodoh.
Thomas tersenyum, menggelengkan kepalanya pelan dan menjelaskan apa maksud perkataannya tentang makna kata "bersiap".
"Anda hanya diminta untuk menyiapkan mental. Nona Ellen sedikit cemas kalau tidak menyampaikan hal ini sebelum sekretarisnya datang. Mungkin beliau takut Anda terkejut karena tiba-tiba di minta membahas hal yang cukup sensitif dengan orang lain. Makannya, Nona Ellen meminta anda bersiap-siap," jelas Thomas.
Yani menganggukkan kepalanya mengerti dan bangkit dari posisinya. "Mungkin saya akan berganti pakaian dulu. Terima kasih sudah menyampaikannya."
"Sama-sama Nona."
Setelah itu Thomas pamit pergi dan meninggalkan area dalam rumah.
__ADS_1
Pada pukul 07.00 malam, seorang wanita datang dengan membawa beberapa berkat yang cukup tebal dan menunggu Yani di ruang tamu.
"Silakan di minum. Maaf karena saya sudah merepotkan Anda." Yani mengucapkan basa-basi sambil mengambil posisi duduk di hadapan Tasya.
Yani sempat beberapa kali mencuri pandang terhadap lawan bicaranya ini. Mungkin Tasya masih berusia 24 tahun, tapi wajahnya sangat mudah dan cantik sampai-sampai membuat Yani sulit mengalihkan pandangannya dari Tasya.
Lain halnya dengan Tasya, yang sama sekali tidak melihat ekspresi wajah Yani yang malu-malu ketika berhadapan langsung dengannya.
Ya, mungkin Tasya memiliki perawakan angkuh yang sangat kental. Terlebih lagi, wajahnya yang sangat judes dan menakutkan itu. Di tambah dengan matanya yang sedikit sipit, seakan menambah efek dingin di wajah wanita itu.
"Anda tidak perlu sungkan. Saya melakukan semua ini atas dasar perintah atasan saya. Jadi bisa kita mulai sekarang?" jawab Tasya, tanpa menatap lawan bicaranya dengan benar.
Yani hanya tersenyum masam dan memperhatikan setiap pembahasan yang di bahas oleh Tasya.
Walaupun cantik dan memiliki aura dingin, tapi melihat Tasya yang menjelaskan semua hal berkaitan dengan hukum dan langkah-langkah yang harus di ambil oleh Yani untuk menyikapi masalah ini, Yani cukup tertegun karena wanita itu sangat kompeten saat bekerja. Terlebih lagi, jiwa tanggung jawabnya yang besar, sampai membuat ini sangat salut.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Ellen, saat masuk ke dalam rumah dan memperhatikan suasana dingin yang menyeruak begitu kuat di ruang tamunya.
Tasya dan Yani langsung menoleh ke arahnya, menatap Ellen dengan tatapan beragam.
Tasya yang tampak lega, sementara Yani yang tampak kasihan dan seakan-akan meminta pertolongannya.
Ellen berkaca pinggang, menatap tajam ke arah sekretaris pribadi perempuannya dengan tatapan mengintai.
"Tasya, sebenarnya kenapa kamu hanya bisa tersenyum saat di depanku?! Padahal tadi ditelepon aku sudah berpesan kalau kamu harus bersikap ramah pada temanku. Tapi apa-apaan ini? Kamu bahkan membuatnya lebih canggung dari yang seharusnya!" tegur Ellen, tak di dengarkan oleh Tasya dengan baik.
"Ya, baiklah. Maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud melakukan itu. Tapi Anda juga tahu, bukan? Saya tidak terlalu suka bertemu dengan orang baru. Wajar kalau ekspresi saya seperti ini, kan?!" celetuk Tasya, sambil menggambar lingkaran dengan telunjuknya, memutari wajah cantiknya.
Ellen mendengus kasar dan berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Lagi-lagi Tasya di tinggal berdua saja dengan Yani. Membuat suasana yang tadinya sempat mencair karena keberadaan Ellen, kini tiba-tiba menjadi beku kembali.
Yani menunjukkan kepalanya dalam, tak lagi berani menatap wajah Tasya saat wanita itu tidak menjelaskan apa pun padanya.
__ADS_1
"Maafkan tindakan saya yang tidak bisa saya tahan ini. Saya memang seperti ini." Tasya mulai berucap, membuat Yani menoleh ke arahnya dengan tatapan ragu.
"Wajah saya memang seperti ini kalau berhadapan dengan orang lain. Terkesan dingin dan kaku. Sejujurnya, saya bukan orang yang pandai bersosialisasi dan memahami perasaan seseorang. Tapi kalau ini tentang pekerjaan, tentu saya yakin dengan kemampuan saya! Saya bisa melakukannya dengan baik," jelas Tasya.
Tasya menatap Yani dengan tatapan lurus. Membuat lawan bicaranya merasa semakin canggung.
"Anda tidak perlu repot-repot berusaha mengakrabkan diri dengan saya. Karena saya tidak terlalu nyaman dengan orang baru. Tapi tidak perlu cemas tentang kasus yang akan saya tangani ini. Saya akan berusaha untuk menyelamatkan Anda dari tua bangka yang berusaha menikah dengan Anda! Melihatnya saja sudah jengkel. Mungkin jika bukan keinginan dari Nona Ellen yang meminta saya untuk tidak melakukan kekerasan fisik, lelaki hidung belang ini pasti sudah tidak ditemukan sejak minggu kemarin!" celetuk Tasya, seakan tidak sedang bercanda.
Glek ....
Yani menelan ludahnya susah, menatap ekspresi Tasya saat mengatakan hal mengerikan itu, membuatnya merasa semakin tegang dan kaku.
"Mau sampai kapan kamu membuat lemang saya susah bernapas, Nona Tasya?!" tegur Ellen, sambil berjalan turun dari tangga dengan membawa beberapa buku pelajaran yang akan dia pelajari.
Tasya mendongak dan menatap Tuannya dengan tatapan masam. Bahkan dia tidak berani menatap wajah Ellen dalam waktu yang lama, karena takut di marahi oleh gadis remaja itu.
"Maaf, saya tidak bermaksud melakukan itu. Dan karena pekerjaan saya sudah selesai, boleh saya pamit pulang sekarang? Masih ada beberapa informasi yang harus saya cari untuk melengkapi dokumen-dokumen ini," ujar Tasya, sambil merapikan beberapa kertas yang sudah berhamburan di atas meja.
Dengan sikap Yani membantunya, dan Tasya tidak terlalu mengindahkan perilaku terpuji itu.
Padahal Yani sudah membantunya. Sudah pulang bersikap sangat ramah. Tapi tampaknya Tasya tidak tergiur dengan semua usaha Yani untuk membuat mereka jadi lebih dekat.
"Sudah selesai? Kamu sudah menjelaskan semua prosesnya, kan? Jangan tiba-tiba kabur begitu gara-gara aku sudah pulang, Tasya! Kamu harus tetap menyelesaikan pekerjaanmu kalau masih belum selesai," ujar Ellen, seakan tengah mengomel.
Tapi Tasya tidak menghiraukannya dan semakin mempercepat kedua tangannya membereskan barang-barang di atas meja dan pamit pulang.
"Kalau begitu, sampai jumpa minggu depan, Nona Yani. Saya akan menghubungi Anda kalau memang membutuhkan bantuan Anda."
"Baiklah, terima kasih sudah membantu saya Nona Tasya. Hati-hati d jalan!" balkas Yani, mengantarkan kepergian Tasya sampai ke depan pintu.
Sementara Ellen hanya menghela napas panjang nan lelah, lalu memosisikan dirinya di meja makan sambil membuka buku-bukunya.
"Dasar Tasya!" pekiknya, tak habis pikir dengan kelakuan sekretarisnya yang satu itu.
__ADS_1