
"Hei Tasya, gue dengar kemarin lo datang ke rumah Nona Ellen. Apa yang lo lakukan di sana? Kenapa hanya lo yang di panggil, dan gue enggak?" celetuk seorang lelaki berusia 22 tahun, menghampiri Tasya yang baru keluar dari mobil dan masuk ke area gedung kantor mereka.
Tasya memutar bola matanya malas, menghentikan langkahnya dan mengolah ke arah rekan kerjanya, William.
"Wil, gue baru sampai dan masih kesal karena enggak bisa tidur nyaman gara-gara banyak pekerjaan. Buat hari ini aja, lo bisa gak, gak usah ganggu gue?! Hari ini aja," pinta Tasya, tampak bersungguh-sungguh.
William pun diam, mundur beberapa langkah dari tempatnya dan memberi ruang untuk Tasya bisa bernapas dengan baik. Karena wanita itu terlihat sangat sesak dan di penuhi emosi.
"Oke, hari ini gue enggak bakalan gangguan lo. Tapi besok lo harus ceritakan pekerjaan apa yang diberi sama Nona Ellen ke elo. Oke?! Kalau gitu gue pergi sekarang, bye .. bye!" William melambaikan tangannya dan berlari pergi meninggalkan Tasya di tempatnya.
Tasya menyugar rambutnya kasar dan menggenggamnya saat tangan itu mencapai atas kepala. "Ugh! Bisa enggak sih gue tentang sehari aja?! enggak di rumah enggak di kantor, perasaan semua orang pada ribut sama urusan gue. Ngeselin banget sumpah!" pekiknya, tampak kesal.
***
"Pagi, Len!"
"Pagi."
"Len, pura-pura budek lo? Dipanggil dari tadi enggak menyahut-nyahut. Ngeselin banget sih lo jadi orang!" omel seorang anak lelaki, tak membuat langkah Ellen berhenti.
Bahkan untuk sekedar menenangkan lelaki itu dari amarahnya saja, Ellen merasa sangat enggan. Apalagi harus berpapasan dengannya?! Kalau saja Ellen memiliki kekuatan super seperti teleportasi, mungkin dia sudah menghilang dari hadapan lelaki itu secepat mungkin.
"Len, astaga! Lo enggak bisa dengarkan gue apa? Dari tadi gue terus panggil lo loh!" ucap Andre, menggenggam pergelangan tangan Ellen yang lebih kecil dari yang di duga.
Ellen mendengus kasar dan menghempaskan tangan Andre dari pergelangan tangannya. "Apa sih! Kalau mau ngomong, ngomong aja. Gak usah pakai pegang-pegang juga dong. Buat risik gue aja lo!" pekiknya, jealous.
Andre menatap tajam, entah kenapa dia ingin menunjukkan Ellen yang selalu bersikap dingin padanya.
__ADS_1
"Mangkanya, kalau gue panggil lo harus berhenti. Jangan main pergi aja dong. Hobi kok kejar-kejaran sama gue. Dari kemarin, perasaan lo gitu terus kalau sama gue! Buat kesal aja," pekik Andre, mengundang tatapan tajam nan dingin dari lawan bicaranya.
"Oke, enggak usah diperpanjang. Ada keperluan apa lo sampai panggil gue?" tanya Ellen, to the point.
Tidak ada jawaban, Andre malah tersenyum menyebalkan dan membuat Ellen mengurutkan keningnya dalam.
"Mau apa sih lo dari gue?! Kayak orang punya dendam aja. Ke mana-mana buat resek terus," ketus Ellen, kembali melangkah dan meninggalkan Andre.
Andre mengekori langkah Ellen. "Len, kenapa sih lo selalu judes kalau sama gue? Memang gue punya dosa apa sama lo?!"
Ellen tidak menyahut, dia malah mempercepat langkahnya dan ingin segera meninggalkan Andre di belakang sana.
Tapi sayang sekali, kaki Andre yang lebih panjang darinya, selalu bisa mengikuti seberapa panjang dan lebar jangka langkah Ellen untuk menghindar darinya.
"Dari kemarin lo enggak jelas. Tiba-tiba bilang suka, tapi habis itu malah pasang lagak bodoh. Katanya mau minta maaf, tapi malah buat gue tambah kesal!" Ellen menatap tajam ke arah Andre. "Sebenarnya mau lo apaan sih? Gue gak bakalan paham kalau lo enggak bilang langsung ke gue. Gue bukan orang yang peka!" ketusnya, sebelum mala petaka muncul kembali dari mulut Andre.
"Jadi lo kesal gara-gara gue nembak lo kemarin? Ya udah deh, gue minta maaf. Gimana kalau hari ini kita kencan setelah pulang sekolah? Hari ini lo enggak ada agenda shift kerja, kan?"
Seakan di rem secara mendadak, langkah Ellen yang tiba-tiba berhenti membuat beberapa orang di sekitarnya menatapnya dengan tatapan kaget. Karena pergerakan Ellen, membuat respons mata mereka langsung mengarah padanya.
"Jangan bercanda pakai hal kayak gitu! Memang lo bisa tanggung jawab kalau tiba-tiba gue bakalan suka sama lo?! Kalau lo mau main sama gue enggak papa, tapi kalau lo! Sampai main-main sama hati gue! Gue pastikan lo enggak selamat di dunia ini. Camkan!" ancam Ellen, dengan menunjuk wajah Andre dengan lantang.
Setelah mengatakan hal itu, Ellen langsung pergi meninggalkan Andre dan membuat suara tawa lelaki itu terdengar dari arah belakang.
"Hahaha, gue benaran, Len! Lo kira gue bakalan bohong sampai mana?"
Andre mulai berteriak, membuat sebagian perhatian dari anak-anak yang berlalu-lalang di lorong tersebut, terkalihkan padanya dan Ellen.
__ADS_1
Sementara Ellen, hanya bisa menghilangkan kepalanya kuat dan berusaha menghalau semua suara yang terdengar jelas di telinganya.
"Lo lihat aja nanti! Gue bakalan tunggu lo di depan kelas. Gue gak bercanda, Len! Lo bisa pastikan sendiri!!"
Ellen memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri dengan perasaan bergejolak yang lebih mengarah pada emosi kesal dan amarah daripada malu.
"Ugh! Kalau aja gue gak harus jaga image di depan umum. Mungkin gue udah jadikan Andre perkedel isi daging! Ngeselin banget sumpah!!!" teriak Ellen, di dalam hati.
Jam pulang sekolah ....
Setelah memberikan salam, para murid membereskan buku-buku dan keluar dari kelas 1 persatu secara tertib.
Lain halnya dengan Ellen yang merasa sangat pegang seharian ini. Wajahnya sampai pucat karena perutnya sakit, sebab rasa cemas membuat tubuhnya merespons secara negatif.
Agustin berjalan mendekat, menyodorkan botol air mineral pada Ellen. Sementara Grisel memberinya obat sakit perut dan obat penenang.
Ellen memang tidak pernah membawa barang-barang seperti itu ke sekolah. Tapi Grisel sebagai sahabat baiknya, yang mengetahui Ellen memiliki gangguan panik yang cukup serius! Selalu menyediakan obat-obatan itu untuk membantu Ellen dalam situasi seperti sekarang ini.
"Lo kenapa hari ini? Ada yang ganggu pikiran lo? Dari tadi gue perhatikan lo, lo kayaknya enggak fokus hari ini. Kenapa, Len?! Coba cerita sama kita," tanya Grisel, dengan penuturan yang sangat lembut sampai membuat Ellen tidak tega untuk menceritakan masalah absurd yang menimpanya.
Ellen menggelengkan kepalanya pelan. "Gue enggak papa kok. Udah, gue mau pulang aja! Tadi gue udah minta tolong sama Pak Thomas buat jemput gue di sekolah."
Grisel dan Tama hanya bisa mengangguk pelan dan mencoba untuk mengerti.
Setelah itu Ellen keluar dari kelas. Tapi sebelumnya, dia melirik ke arah belakang, tempat di mana bangku Andre berada.
Dan sialnya, Andre sudah tidak ada di tempat dan juga tidak ada di lorong depan kelas mereka.
__ADS_1
Ellen mendengus kesal. Dia merasa di tipu dan jengkel. Sudah dibuat takut seharian! Ternyata dia hanya karena prank dari lelaki itu.
"Memang dasarnya orang kampret! Awas aja lo, Ndre. Gue buat perhitungan sama lo!" tajam Ellen, merasa sangat kesal.