
"Pelajaran pertama, pelajarannya siapa ya?" tanya seorang anak lelaki, yang sudah berdiri di depan kelas dan berhadapan langsung dengan anak yang akan menjadi ketua kelasnya.
Ellen yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan untuk pertama kali dari mulut si anak baru, langsung tersenyum dan memberitahunya.
"Matematika," jawab Ellen, sambil menuntunnya masuk ke dalam kelas.
Lelaki itu mengangguk dan kepalanya mengerti dan berdiri tempat di belakang Ellen, yang kini sudah berdiri di balik mimbar tempat guru biasanya mengajar.
"Seperti biasa, dia adalah teman baru kita. Tolong perlakukan dia dengan baik. Gue harap kita semua bisa cepat akrab dengannya." Ellen berbicara dengan fasih. Tanpa terlihat canggung ataupun gugup.
Dia juga tidak terlihat sedih tentang kepergian Yani. Mungkin kecemasan teman-teman sekelasnya, bukan hal besar untuk Ellen. Mangkanya, melihat sikap Ellen yang seperti biasanya. Mereka merasa sangat bersyukur dan lega.
"Silakan perkenalkan nama lo," pinta Ellen, menoleh pada si anak baru.
Tapi bukannya langsung memperkenalkan diri, si anak baru itu malah terlihat malu saat melihat Ellen menoleh padanya dan memperhatikannya.
"Hoi, jangan bengong lihat ketua kelas! Naksir lo entar," celetuk Karina, yang duduk tepat di bangku yang ada di hadapan lelaki itu.
Si murid baru langsung mengerjapkan matanya. Menghilangkan segala pikiran yang membuatnya terlihat bengong.
"Sorry. Oke, perkenalkan ... nama gue Lian. Gue pindahan dari luar negeri. Gara-gara ada sedikit masalah di perusahaan, yang cuman bisa gue yang menghandle. Jadi gua harus pulang paksa dan dipindahkan sekolah di tempat ini. Katanya, pendidikan di kelas ini sangat bagus. Jadi, semoga kita semua bisa belajar bersama dengan rukun dan adil tentunya."
Setelah Lian memperkenalkan dirinya, suara tepuk tangan dari teman-temannya terdengar sangat riuh. Bukan hanya perkenalkan dirinya yang unik. Tapi tampaknya, Lian juga meninggalkan kesan yang unik pada calon teman-temannya.
__ADS_1
Lian menoleh kembali pada Ellen. "Jadi gue duduk di mana, ketua kelas?" tanyanya, menunjukkan tatapan berbeda setiap kali berhadapan dengan Ellen.
Ellen menunjuk salah satu bungkus yang ada tempat di sampingnya. Tempat duduk bekas Yani. "Di bangku sebelah gue. Karena lo jadi tetangga bangku gue, gue harap lo enggak terlalu berisik! Gue paling benci sama suara ribut pas gue lagi belajar."
Tatapan dingin dari Ellen terlihat sangat menusuk. Dan itu cukup membuat Lian tertegun. Tapi juga tidak menunjukkan respons yang berlebihan.
"Ya, ketua kelas memang harus tegas. Wajar kalau dia punya sikap dingin kayak gitu," batin Lian, sambil berlalu meninggalkan Ellen yang masih berdiri di depan kelas.
"Berhubung guru matematika enggak masuk. Jadi hari ini gue yang bakalan memimpin kelas. Beliau sudah menyiapkan beberapa soal dan minta gue membalasnya sama-sama dengan kalian. Gue harap kalian enggak terlalu banyak berharap kalau udara bebas bakal masuk di kelas pertama.” Ellen tersenyum mengerikan, membuat beberapa siswa bergidik ngeri. Terutama para murid yang duduk di barisan bagian belakang.
Andre dan Lian, sebagai murid baru yang tidak pernah mendapatkan pelajaran yang dipimpin ketua kelas mereka. Menjadi sedikit bingung melihat respons teman-temannya yang terlihat sangat mengeluh. Mau itu murid terpintar di kelas mereka, atau anak-anak yang tidak pernah peduli dengan nilai akademisnya.
Lian menoleh ke arah Andre, karena bangku Andre tepat berada di sisi kirinya. Sementara Ellen, duduk di bagian kanannya.
"Gue juga gak tahu sih. Gue juga anak baru. Baru dua minggu masuk ke sekolah ini. Perkenalkan, nama gue Andre. Semoga kita bisa berteman!" Andre mengulurkan tangannya dan Lian menjabatnya dengan ramah sambil mengulang perkenalkan dirinya secara singkat.
Lantas perhatian kedua murid baru itu terlontar pada Ben. Anak yang duduk tepat di sebelah Andre dan di sebelah Ben, ada seorang anak perempuan bernama Grisel.
Ya, tempat duduk mereka sudah berpindah setiap minggunya. Itu dilakukan agar mereka tidak bosan dan semua anak bisa kebahagiaan duduk di bagian depan, agar bisa lebih fokus saat mendengarkan pelajaran.
Di dalam kelas itu, ada 4 baris dan 5 deret. Itu artinya, kelas mereka jauh lebih besar dari kelas yang lainnya. Dan karena di bagian belakang masih tersisa banyak ruang, di kelas tersebut sampai di masukkan piano dan ada satu buah gitar listrik yang menemani alat musik besar itu.
Kelas elite memang selalu berbeda. Mangkanya, anak-anak yang bisa masuk ke dalam kelas itu sangat di batasi dan di saring dengan ketat.
__ADS_1
"Lo tanya kenapa kita semua apa kayak mengeluh saat Ellen memimpin kelas, kan?!" tanya Ben, membuat Andre dan Lian menganggukkan kepalanya antusias.
"Ya, memangnya kenapa?" tanya Lian, setelah Ben dan Grisel juga berkenalan dengan dia.
"Kalau biasanya kita memang benci sama guru kimia, matematika, sama fisika. Gue jauh lebih benci sama pelajaran yang dipimpin sama Ellen. Bukan cuman enggak bisa tidur atau menghela napas! Tapi dia lebih mengerikan dari guru BK kalau memimpin kelas. Lo bakal ngerasain itu bentar lagi. Dan gue jamin! Pas istirahat, lo bakal habis tiga piring sekaligus buat kembalikan semua tenaga loh yang terkuras di dalam kelas ini!" celetuk Ben, membuat Andre dan Lian saling menatap dengan tatapan yang aneh.
"Gue udah sering belajar bareng sama Ellen. Menurut gue, dia tutor yang hebat. Gue gak percaya sama omongan lu ah!" celetuk Andre, mulai mengeluarkan peralatan belajarnya untuk jam pertama.
Dan pandangan dari Andre serta Lian, sudah berpindah pada Ellen yang tengah menulis sebuah soal yang entah kenapa tidak mereka mengerti.
"Len, lo enggak salah kasih materi sama kita kan?" tanya Kirana, lagi-lagi membuat ulah pada orang yang sedang berdiri di depan.
Ellen yang sedang menuliskan beberapa soal, langsung menoleh kepadanya dan mengulas senyuman lebar.
"Buat soal nomor satu sampai 5 memang dari Pak Guru, tapi kalau soal 6 sampai 10. Beliau minta gue yang buat sisa soal." Ellen kembali mengulas senyum, dan berkata, "Selamat mengerjakan guys!"
Senyuman cantik yang ditunjukkan oleh gadis berambut pendek itu, memang terlihat sangat menawan. Terutama di mata orang-orang yang sedang jatuh hati padanya. Termasuk Andre dan Lian.
Tapi di luar itu, senyuman itu memiliki arti yang sangat kuat dalam perbuatan "tercela".
Ya, tercela! Sangat tercela karena soal yang diberikan oleh Ellen memiliki tingkat kesulitan dua kali lebih sulit dari level soal yang biasanya mereka kerjakan.
Ben menoleh pada baris tempat Andre dan Lian berada. "Bagaimana? Pendapat lo masih enggak berubah setelah lihat kelakuan dia di depan sana?" ucapnya, sambil mengulas senyuman palsu yang terlihat terpaksa.
__ADS_1
Andre menoleh dan menatapnya dengan tatapan masam. "Hahaha ... bocah Daj*al!!" teriaknya, sangat frustrasi dan mewakilkan kekesalan teman-temannya.
"Ahhh ... Ellen, sialan lo!!" sahut yang lainnya, ikut murka.