Head Of The Class

Head Of The Class
28. Jangan Suka Dia


__ADS_3

Selesai kelas matematika yang lamanya sampai 4 jam, anak-anak kelas X-IPA I segera keluar dari kelas dan berjalan berbondong-bondong ke kantin untuk memulihkan energi mereka.


Tapi tidak sedikit di antara mereka, yang lebih memilih istirahat di kelas dan tidur siang. Karena kepala mereka terasa hampir pecah, dari pada perut mereka yang merasa kelaparan.


"Bagaimana kelas pertama yang dipimpin ketua kelas kita? Pengalaman yang gak bisa dilupakan, kan?!" celetuk Elma, berjalan di samping Lian yang sangat berjalan bersamaan dengan Andre.


Lian menoleh padanya. Seorang gadis yang tiba-tiba berjalan berdampingan dengan dirinya, dan menunjukkan sikap sok akrab dan sok asik.


Lian memandangnya aneh, tapi Elma tidak segera peka dan terus menempel pada Lian. Bahkan tahu mereka hampir bersentuhan satu sama lain, dan itu cukup membuat Lian merasa tidak nyaman.


Andre yang melihat itu, langsung memindah posisi Lian untuk berada di posisi awalnya sementara Andre berdiri di tengah-tengah kedua orang itu.


Elma mengurutkan keningnya dalam, menatap Andre dengan tatapan tajam. Tapi Andre pura-pura tidak peduli dan terus berada di tempat itu sambil mendapatkan tatapan berbeda dari kedua orang yang ada di sisi kanan dan kirinya.


Lian tambak bersyukur, karena Andre terlihat sangat peka dan sudah menolongnya. Untuk seorang teman yang baru mengenal beberapa jam yang lalu, mungkin Andre tipe orang yang bisa diandalkan. Dan Lian senang berteman dengan orang seperti itu.


"Lo ngapain berdiri disini sih, Ndre. Ganggu gue aja sumpah!" marah Elma, berusaha indah tempat ke samping Lian kembali.


Tapi tiba-tiba dari arah belakang, Vina sudah berdiri di tempat itu terlebih dahulu dan membuat langkah Elma hanya sampai di punggung Lian.


"Lo bisa main game RGP kagak?" tanya Vina, cukup membuat Lian terkejut karena seorang gadis tahu game seperti itu.


Vina yang melihat bagaimana ekspresi Lian, langsung terkekeh geli dan memandang Andre yang juga sedang menertawakan Lian.


"Lo enggak usah kaget kayak gitu, An. Vina memang cewek gamers. Gue aja kalah kalau lawan dia. Mangkanya, gue selalu minta dia jadi sekutu gue kalau lagi main bareng haha ...," celetuk Andre, membuat Lian menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.


"Lo yakin? Cewek kalem kayak Vina bisa main game RPG? Lo enggak salah bilang kan?" tanya Lian, masih terlihat bingung dan bodoh.


Andre menggelengkan kepalanya dan mereka mengobrol dengan seru tentang game dan bertanya hebatnya Vina saat bermain.


Lantas ketiga orang itu lupa dengan keberadaan Elma. Dan membuat gadis itu merasa marah dan kesal karena Andre yang telah mengganggu acara PDKT-nya pada Lian. Dan Vina, yang sudah merebut semua perhatian Lian darinya.

__ADS_1


Kedua tangan Elma sudah mengepal sangat kuat sampai-sampai melukai telapak tangannya karena cengkeraman kukunya yang berhasil menusuk sampai ke dalam permukaan kulit, dan membuat tangannya berdarah.


Greb ....


Kedua tangan Elma di genggam kuat oleh seseorang. Membuat pemilik tangan yang sempat terkejut karena adanya kontak fisik secara tiba-tiba itu, menoleh dan melihat ketua kelasnya yang tampak marah padanya.


Bukan yang marah karena perlakuan kasar Ellen. Tapi Elma malah terlihat pegang dan dominan takut saat melihat ekspresi wajahnya yang buruk.


"Ke-kenapa, Len?" tanya Elma, tegang.


"Lihat tangan lo!" celetuk Ellen, dengan nada dingin.


Kedua pandangan Elma langsung turun ke bawah dan melihat dua pergelangan tangannya yang sudah memiliki bercak darah, bahkan sampai mengotori beberapa kukunya.


"Ahk, pantesan gue ngerasa perih. Ternyata ada yang luka! Sorry, Len. Tadi gue kesal sampai enggak tahu kalau sampai lukain tangan gue. Sumpah, gue enggak masuk lakuin itu kok. Jangan marah ya? Maaf," cicit Elma, tampak sedih dan bersalah.


Padahal dia melukai dirinya sendiri. Tapi kenapa dia selalu merasa takut saat Ellen mengetahui sisinya yang ini?


Ellen menyugar rambut pendeknya ke belakang dengan kasar.


"Hahhh ... udahlah. Bukan waktunya lo minta maaf ke gue. Sekarang ayo pergi ke UKS buat obatin tangan lo. Aih, udah tahu kalau dua hari lagi kita bakalan ulangan. Tapi lo malah rusak tangan lo sendiri? Yang benar aja lo Elma!" ketus Ellen, memandang Elma dengan tatapan horor sambil membawanya pergi dari tempat itu.


Elma hanya bisa menundukkan kepala dan terus merasa bersalah. Walaupun tangannya terasa pedih, tapi hatinya yang sedang sakit karena ulah 3 orang tadi masih lebih mendominasi.


"Jangan pusingkan tentang cowok dulu. Lo tahu, nilai UTS kita lebih penting." Ellen melirik tajam ke arah Elma. "Gue gak mau lo sampai dipukuli orang tua lo, gara-gara nilai jelek. Lebih penting jangan mengecewakan mereka dulu! Daripada mengejar hal yang gak pasti buat masa depan lo."


Ellen masih menatapnya dengan tajam. Tapi setiap kalimat yang dilontarkan olehnya, memiliki arti yang begitu dalam untuk Elma.


Tidak ada bantahan dari lawan bicaranya. Elma hanya diam, mendengarkan dengan baik dan memperhatikan setiap gesture wajah Ellen saat memberinya peringatan keras.


"Ya, gue tahu. Maaf, Len." Elma semakin menunjukkan kepalanya, dan membiarkan Ellen membawanya pergi begitu saja.

__ADS_1


***


"Andre."


Andre menoleh, menatap sang Ayah yang tengah berdiri di mulut pintu kamarnya dengan membawa tablet besar yang memperlihatkan foto seorang wanita.


"Ini kamu, kan?" tanya Andra, memperlihatkan foto Andre yang di potret masuk ke dalam rumah Ellen bersama dengan teman-temannya.


Andre mengambil tablet itu dari tangan Andra. Melihat dirinya yang terpotret dengan jelas di dalam layar besar tablet tersebut.


"Jangan bilang, kalau Ayah letakkan beberapa mata-mata untuk ikutin aku. Enggak kan?" Andre menatap tajam pada sang Ayah. Begitu pula dengan sebaliknya.


Andra juga memandang putranya dengan sengit. "Kamu tahu gadis ini?" tanyanya, menunjuk sebuah foto perempuan berambut pendek sebahu.


Andre mengangguk kecil. "Itu ketua kelas di kelas aku, Yah. Ada apa? Ayah punya masalah dengannya?" Andre tersenyum miring. "Enggak mungkin, kan? Dia hanya seorang gadis yatim piatu. Gak mungkin kalau Ayah yang punya pengaruh kuat di dunia bisnis, sampai bersinggungan dengannya, kan?!"


Andra diam, membuat kerutan di kening putranya terlihat sangat jelas. "Kamu tahu identitas sebenarnya dari ketua kelasmu ini?"


Andre memutar otaknya, mengingat semua hal yang dikatakan teman-temannya tentang Ellen. "Yang Andre tahu, dia gadis yatim piatu yang tinggal di rumah besar karena harta warisan orang tuanya yang berlimpah. Dan- mungkin beberapa koneksi yang menakutkan di dunia pendidikan?"


Andre terlihat tidak yakin. Tapi itu malah mengundang senyuman sinis dari sang Ayah.


"Kenapa? Jangan buat Andre penasaran dan nilai ulangan UTS Andre berantakan karena itu. Ayah bisa bilang alasannya sekarang, kan?" tanya Andre, sedikit memaksa.


Andra menggeleng pelan. Tapi ekspresi tegas dari lelaki itu, membuat Andre terdiam.


"Tidak. Ayah tidak bisa mengatakannya padamu. Tapi hanya satu hal yang Ayah minta sama kamu, Ndre. Jangan-pernah-suka sama-gadis-ini!" ucap Andra, seakan penuh penekanan.


Setelah itu Andra keluar, tanpa menjelaskan apa pun lagi pada putranya.


Andre mengerutkan keningnya dalam. "Apa maksudnya? Buat orang makin penasaran deh!" pekiknya, terlihat kesal dan jengkel.

__ADS_1


__ADS_2