
"Jadi Elma hilang?" celetuk Lena, membuat wanita itu mengangguk antusias.
"Kayaknya sih gitu. Karena gue gak–"
"Siapa yang enggak ada?" tanya Ellen, memandang beberapa anak kelasnya yang terlihat kaget melihat kehadirannya.
"Elma hilang," celetuk Kirana, membuat Tama membekap mulutnya dan Kirana langsung melotot padanya. "Kenapa sih?!" marahnya, menghempas tangan Tama dari mulutnya.
"Menurut lo kenapa?" bisik Tama, melirik ke arah wajah Ellen yang langsung panik begitu mendengar berita itu.
"Dari kapan dia gak ketemu?" tanya Ellen, panik. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungi Elma.
"Em ... kayaknya sekitar sejam yang lalu. Gue bukannya ingin buat kalian panik sih. Tapi akhir-akhir ini rumah Elma itu selalu rame. Dia lagi banyak masalah sama keluarganya sampai sempat bilang stres juga." Wanita itu membuat suasana hati Ellen terlihat semakin runyam. "Gue takutnya, dia aneh-aneh," cicitnya.
Deg ....
Ellen mendadak pusing. Hari itu sangat panas, dan suasana di sekitarnya terlingat mengerikan. Ellen benci keramaian. Dan di tambah dengan berita hilangnya Elma, membuat kepalanya seakan ingin pecah.
"Ugh ...." Ellen merintih kesakitan dan membuat beberapa anak mendekatinya dengan tatapan cemas.
"Berdiri yang tegak, ketua kelas." Andre muncul dari belakangnya dan menggenggam kedua bahu Ellen. Tak membiarkan gadis itu terlihat lunglai di depan banyak orang.
"Ada masalah apa?" tanya Lian, dari sisi seberang Andre. Membuat Ellen juga menoleh padanya.
"Elma hilang."
Lian mengerutkan keningnya dalam. "Tadi gue lihat dia ada di atap sama Dika. Tadi gue rokok–" ucapan Lian terhenti saat kedua mata Ellen melotot mendengar dia mengucap kata rokok.
"Hehehe ... pokoknya gue lihat tadi dia ada di atas. Kalau lo gak percaya, coba lo pastikan lagi deh. Biar gak panik aja," ucap Lian.
Ellen menatap Andre, seakan meminta lelaki itu untuk menemani dirinya. Dan Andre yang paham, hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan mengantar Ellen ke sana.
Lian dan Grisel juga ikut. Ya, sebagai anak yang menemani Ellen dan petunjuk jalan mereka saja. Tak lebih dari itu.
"Di sana. Tuh, mereka ada–"
Terulang kembali adegan di mana Lian harus menghentikan perkataannya karena melihat tindakan yang membuatnya tercengang.
Ellen yang tadinya lemas, kini langsung lepas kendali karena dorongan amarah. Pemandangan di depan mereka sangat memuakkan. Dengan dua orang remaja yang mabuk dan tengah duduk di tepi pembatas rooftop.
Dua anggur merah di temukan di atas lantai oleh pandangan Ellen. Dan dia merasa benar-benar naik darah saat melihat semua itu. Terlebih lagi, Dika dan Elma sedang melakukan hal yang aneh-aneh di sana.
__ADS_1
"Kalian mau mati?!" teriak Ellen, membuat keduanya tersentak dan menoleh pada Ellen.
Dika langsung turun. Mengingat sikap Ellen yang mengerikan saat melihatnya berbuat seperti ini. Andre di paksa sadar oleh akal sehatnya.
"Len, ini gak seperti yang lo pikirkan. Gue–"
Elma menarik Ellen mendekatinya, mencengkeram dagu Ellen kencang dan tertawa terbahak-bahak melihat wajah Ellen yang masih terlihat sangat datar.
"Lo gak suka lihat gue sama Andre kayak gini?" tanya Elma, membuat raut wajah yang mengerikan.
Ellen masih tak mengeluarkan ekspresi kecuali sorot matanya yang tak berhenti menyusuri seberapa dalam manik mata Elma.
"Kenapa gak jawab!! Lo juga sepelekan gue?!" teriak Elma, mencengkeram kedua kerah baju Ellen dan Ellen mencengkeram ujung rok Elma, berusaha menahannya agar tetap seimbang dalam posisinya.
"Elma, lo sadar gak. Sama siapa lo ngomong?" tanya Ellen, menatapnya tajam nan menusuk.
Ckik ....
Elma mulai jegukan. Rasa takut mulai merayap pada dirinya. Menyusuri relung hatinya dan membuat buku kuduknya merinding.
Tapi karena pengaruh alkohol, dia tak sadar kalau dia sedang ketakutan dan malah bersikap konyol di depan semua orang.
Elma menjulurkan lidahnya, mengejek Ellen dan membuat Grisel, Lian, Andre dan Dika menepuk kening mereka ampun, melihat tingkah gila itu.
Dika langsung kalang-kabut mendengarnya. "Heh, lo ngomong apaan sih?! Udah gila lo. Sejak kapan gue suka sama–"
Ellen menoleh pada Dika, membuat nyali Dika yang sempat di kejutkan dengan celetukan Elma, langsung ciut mendadak.
"Lo suka sama gue?" tanya Ellen, baru menyadari jika banyak anak kelasnya yang suka dengannya.
Beberapa hari yang lalu dia mendapatkan pernyataan cinta dari Andre, lalu sikap Lian yang sangat lembut dalam memperlakukan dirinya. Kini di tambah dengan fakta Dika, sahabat baiknya, yang ternyata jatuh cinta juga padanya.
Lalu pikiran itu terbesit. "Kalau Dika suka Ellen. Lalu bagaimana dengan Elma yang sempat menyatakan suka pada Dika??"
Ellen bukannya salting karena tahu Dika menyukainya, tapi dia malah fokus menatap wajah Elma yang sudah terlihat semasam asam Jawa.
"Gue benci sama lo, Len!" teriak Elma, sambil menangis dan mengguncang tubuh Ellen dengan kuat sampai keseimbangannya goyah sendiri.
Ellen berusaha menahannya, Dika pun memperjuangkan hal yang sama. Mempertahankan tubuh Elma yang hampir keluar pagar pembatas rooftop itu.
Tapi bukan malah diam, Elma malah menarik Ellen ke arahnya, lalu mendorongnya ke samping dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Ellen keluar dari pembatas pagar, membuat Andre, Lian dan Grisel berlari secepat mungkin ke arah Ellen dan menggenggam tangannya.
Greb ....
Lian dan Andre, menggenggam tangan Ellen dengan kokoh sampai Ellen selamat dari maut.
Semua orang menghela napas lega. Dika pun segera menarik Elma turun dari atas pembatas dan segera beralih menolong teman-temannya.
Tapi adakah yang tahu? Apa yang di lakukan Elma saat kedua temannya sudah berjuang mempertahankan Ellen?
"Minggir kalian. Ganggu!" ucap Elma, saat mendorong Kirana dan Dika menjauh.
Wanita berwajah cantik dengan kesadaran tak penuh itu mendorong Dika dan Grisel menjauh dari Andre dan beralih pada Andre dan Lian yang masih memegangi Ellen di sana.
"Andre! Lian! Lepas tangan gue. Elma bakal dorong lo juga kalau lo sampai gak lepasin gue!!" teriak Ellen, membuat semua orang yang mendengar suaranya, panik bukan main.
Kerumunan orang mulai membentuk di bawah sana, memandang ke arah Ellen yang bergelantungan dari lantai 4 dengan Lian dan Andre yang berusaha mempertahankannya.
Tapi dari arah belakang Elma sudah berusaha mendorong keduanya untuk ikut jatuh dengan Ellen.
Grisel segera bangun dan berusaha menghentikan Elma. Tak peduli dengan kakinya yang terkilir. Tapi Dika tak bisa bangun karena dia pingsan setelah di dorong Elma dan kepalanya membentur kendi sampai berdarah.
"Ma, sadar lo gila! Lo ngapain!! Lo mau jadi pembunuh, HAH?!" teriak Grisel, berusaha keras menarik Elma.
Tapi entah kenapa Elma sangat kuat dan Grisel tak berhasil membantu mereka.
Ellen semakin panik, wajah Andre dan Lian yang sudah berkeringat karena sakit berusahanya menahan keseimbangan diri mereka dalam posisi itu, mulai goyah karena perlakuan Elma yang bar-bar.
Ellen berayun, melepaskan tangan kedua lelaki itu dengan kuat. Dia memilih terjun bebas dari pada pergi ke neraka dengan teman-temannya.
Ellen tersenyum melihat wajah Andre dan Lian yang panik karena Ellen mulai terjun ke bawah.
"Maaf," gumam Ellen, menangis di sela senyumannya.
Andre melompat, membuat Lian membulatkan mata terkejut dan suara jatuh kedua orang itu sanggatlah keras, sampai semua orang di lapangan mendengarnya dengan jelas.
PRAK!!
Kepala Ellen berdarah, semua penonton juga menyaksikan itu dengan jelas. Dua korban kehilangan nyawa dengan luka serius, di depan kedua mata kepala mereka sendiri. Dan saat melihat adegan itu, buku kuduk mereka langsung berdiri. Tatapan mereka tercengang sebelum ada beberapa orang yang memejamkan matanya. Tak ingin melihat kejadian mengerikan di depan mereka.
Tapi kedua mata Lian melihat dengan jelas, jika tubuh kedua temannya yang tak berdaya, langsung menghilang di detik berikutnya. Seakan-akan ada yang membawa mereka. Ada bayangan hitam yang pergi membawa keduanya.
__ADS_1
"Mereka hilang?"
TAMAT