
Turun dari mobil merah menyala milik William, Ellen sudah mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya.
Tapi seperti biasa, Ellen tidak pernah peduli dengan itu dan hanya fokus pada William.
Membalik tubuhnya dan menatap William yang duduk tenang di kursi kemudi. Ellen tersenyum dan berterima kasih padanya.
"Terima kasih karena sudah mengantar," ucap Ellen, pada William yang sudah repot-repot menjemputnya di rumah dan mengantarkannya ke sekolah sekalian dia berangkat ke kantor.
"Bukan masalah yang besar, Nona. Nanti setelah pulang sekolah, saya akan menjemput Anda di depan gerbang. Tolong jangan naik angkutan umum dulu, setidaknya sampai stamina Anda pulih dengan benar," ucap William, tanda khawatir.
Ellen diam beberapa saat, seakan berpikir dan sedikit merasa sungkan karena harus merepotkan William secara terus-menerus.
"Em ... mungkin lebih baik gue panggil sopir taxi saja. Jarak kantor dan sekolah cukup jauh. Gue merasa kasihan kalau Pak William harus jemput gue bolak-balik. Jadi tidak perlu menjemput. Gue bakal akan naik taksi saja! Selamat bekerja dan terima kasih sudah mengantar," ucap Ellen, hari jalan cepat meninggalkan mobil William sambil melambaikan tangannya.
William yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya pelan dan melihat jadwal sekolah Ellen yang sudah berhasil dia dapatkan dari wali kelasnya.
"Saya tetap akan menjemput Anda, Nona! Sampai nanti juga," teriak William, membuat mulut Ellen mencebik kesal mendengar suaranya dan melihat tingkahnya.
"Cih ... padahal udah gue bilang gak usah. Masih aja ngeyel! Dasar kepala batu."
"Kayak lo!" sambar seorang anak lelaki, yang mendengar ucapannya.
Ellen menoleh ke arah kiri, dan mendapati Farel tengah berjalan di samping Ellen dengan menyamakan langkah mereka berdua.
"Sudah sembuh?" tanya Farel, meletakkan punggung tangannya di apa kening Ellen.
Beberapa anak di sekitar mereka yang melihat penampakan itu, langsung berbisik-bisik dan mencoba untuk menyebarkan sebuah gosip.
Ellen segera menurunkan tangan Farel dari keningnya dan berbisik, "Jangan mengundang banyak perhatian. Lo tahu gue enggak suka!" celetuknya, berjalan satu langkah lebih cepat dari Farel.
__ADS_1
Farel hanya mengikutinya dan tidak lagi menyamakan langkah mereka. Tapi itu justru membuat orang-orang memiliki anggapan yang lebih gila lagi.
"Ahh ... sepertinya, apa pun yang gue lakukan. Gosip tentang gue sama lo bakalan ke sebar deh. Lihat aja muka cabe-cabean masa kini! Udah cabe-cabean, lambe turah pula. Heran gue, sikap jelek kok double-double," celetuk Ellen, mengundang tawa Farel.
Farel terus terkekeh geli sampai mereka tiba di depan kelas. Anak-anak yang menyambut kedatangan Ellen, sempat mengalihkan fokusnya pada Farel yang tertawa sangat bahagia.
Itu kembali mengundang bahan gosip. Dan sekarang, Ellen benar-benar menyerah untuk mencegah gosip itu menyebar.
Ellen memang tidak biasa bersikap ramah pada seseorang. Apalagi menjadi alasan seseorang untuk tertawa seperti yang dilakukan Farel saat ini.
Mangkanya, banyak orang yang salah paham dengan kelakuan mereka berdua hari ini.
"Baru aja masuk hari ini, tapi udah jadi bahan buat gosip anak-anak. Hahaha ... gimana rasanya jadi gue? Enak enggak?!" celetuk Lora, disertai tawa yang menyebalkan di akhir kalimatnya.
Ellen hanya memutar bola matanya malas dan perhatiannya tertuju pada suatu bangku yang kosong.
Sia-sia mereka mencoba mengalihkan perhatian Ellen dari kesadaran tentang kepergian Yani.
Mereka semua tahu dengan baik bagaimana kerasnya usaha Ellen untuk menjaga Yani saat gadis itu terkena masalah.
Tapi melihat Yani yang memilih pergi tanpa berpamitan pada mereka, ataupun mengucapkan satu patah kata kepada Ellen yang sudah menolongnya. Semua anak di kelas itu serempak merasa kesal dan marah pada Yani.
Orang-orang tahu kalau kelas X-IPA I sangat menyayangi ketua kelas mereka. Karena itu, sudah banyak gosip yang beredar tentang kebencian mereka kepada Yani.
Karena di kelas mereka juga ada lambe turah, mangkanya berita itu cepat menyebar luas dan tidak sedikit orang merasa kesal dengan perlakuan Yani yang dinilai tidak tahu diri.
"Gue dengar dari wali kelas, kalau hari ini ada anak baru yang masuk. Katanya laki-laki. Gue rasa posisi bangku Yani terlalu ke tengah buat anak laki-laki yang sikapnya badboy. Kalian sependapat enggak? Ada yang mau pindah tempat??" tanya Ellen, seketika membuat anak-anak di dalam kelas itu terkejut bukan main.
"Murid baru lagi? Andre belum dua minggu pindah ke sini. Sekarang udah ada lagi?!" pekik Vina, tidak percaya dengan fakta itu.
__ADS_1
Ellen menggaruk kepala bagian belakangnya yang terasa sedikit gak tahu sambil memperlihatkan ekspresi masam.
"Gue juga mikirnya kayak gitu. Tapi karena berhubung pamor sekolah kita yang bagus dan adanya kelas ini menjadi salah satu kelebihannya. Jadi pas ada satu bangku kosong, kayaknya sekolah langsung pasang iklan dan banyak yang mendaftar buat masuk kelas ini." Ellen menghela napas panjang.
"Tapi kalian juga tahu kan? Kalau orang yang masuk ke kelas ini gak sembarang siswa. Bukan cuma otak dan latar belakang yang penting. Tapi mental mereka buat tempur sama materi yang lebih banyak tiga kali lipat dari kelas lainnya, juga penting. Jadi di antara 100 siswa yang mendaftar, ada tiga orang yang masuk. Tapi dua yang lain gugur karena latar belakang merekalah yang dinilai tidak pantas," lanjut Ellen, menjelaskan cukup panjang.
Teman-teman yang menyimak, merasa sedikit penasaran tentang "latar belakang" yang dinilai tidak pantas itu.
"Maksudnya gimana nih? Latar belakang ya enggak pantas? Dia kurang kayak buat bayar spp??" tanya Karina, dengan wajah polosnya.
Ellen menggelengkan kepalanya kuat. Seakan menentang keras hal tersebut. "Kasus pembunuhan dan pembullyan di sekolah lama mereka. Salah satu di antara mereka pernah masuk penjara anak dan yang satunya lagi, punya banyak catatan merah dari guru-guru. Dengan kata lain, moral mereka enggak pantas ada di sini! Bahkan Grisel, Arnold dan Dika yang kalian nilai sebagai anak paling bandel dan akal di kelas ini, enggak ada apa-apanya sama mereka."
Glek ....
Semua siswa menjadi tegang. Mau yang sudah mendengar semuanya, atau yang baru datang dan hanya mendengar kalimat terakhir dari penjelasan panjang Ellen.
Mereka sangat yakin, kalau yang mencari identitas sebenarnya dari para murid itu adalah Ellen sendiri. Karena jika pihak sekolah yang menentang itu secara langsung, orang tua dari anak-anak itu pasti bisa menyuap kepala sekolah dan tetap memasukkan anak mereka ke dalam kelas ini.
Tapi berbeda kalau Ellen yang langsung berbicara. Dia tidak main di lingkungan sekolah lagi kalau menyangkut tentang keamanan anak-anak kelasnya. Tapi pasti dia berdiskusi secara langsung dengan wakil menteri pendidikan, yang merupakan kenalan bisnisnya.
Mengerikan, bukan? Tapi itulah usaha terbaik Ellen untuk melindungi anak-anak berprestasi di tingkat internasional. Seperti anak-anak di kelasnya.
Mereka memang terlihat seperti anak yang sombong dan banyak gaya. Tapi mereka semua bukan tipe orang yang seperti "tong kosong".
Mereka mempunyai isi yang berat pada otaknya masing-masing. Jadi karena itulah, orang yang menjadi ketua kelas mereka sama menakutkannya, dengan identitas asli terbentuknya kelas yang hanya berjumlah 20 orang itu.
"Jadi buat yang ini juga. Gue harap kalian bisa memperlakukan anak baru ini sama baiknya dengan Andre. Mengerti, kan?!"
"Ya, bisa diusahakan."
__ADS_1