Head Of The Class

Head Of The Class
8. Orang Tua


__ADS_3

"Masuk ke dalam kelas, Len. Aku akan bicara dengan Pak Redo," ucap Agustin, kepada Ellen yang masih tetap kesal begitu mereka sudah sampai di depan kelas.


Ellen mendengus, memindahkan tumbukan buku yang ada di tangan Agustin ke tangannya. "Oke, jangan lama-lama."


Agustin hanya mengangguk dan membiarkan ketua kelasnya masuk terlebih dulu darinya.


Klap ....


Agustin mengapa Pak Redo dengan tatapan lelah. "Astaga Paman, sudah berapa kali aku ingatkan? Jangan bertindak seperti itu di lingkungan sekolah. Apalagi Anda ingin melakukannya pada ketua kelas saya?" Agustin menatap murka. "Anda ingin bertengkar dengan kedua orang tua saya?!"


Pak Redo kenapa keponakannya dengan tatapan lelah. "Mamang apa yang aku lakukan kepada siswi itu? Aku bahkan tidak menyentuhnya. Jangan berprasangka buruk, Agustin!" tegurnya.


Agustin memutar bola matanya malas. "Semua yang Anda katakan pada saya, tidak bisa dipercaya. Masih banyak murid yang mengeluh tentang hal ini dan hal itu. Hahhh ... tiga orang istri saja tidak cukup? Anda mau menambah satu lagi?"


Wajah jutek dari Agustin membuat pamannya terdiam. Ya, walaupun Agustin hannyalah keponakannya. Tapi Redo dan 3 orang istrinya beserta anak-anaknya, tetap menumpang di rumah Agustin. Dan tidak seharusnya dia membuat masalah dengan pemilik rumah.


"Baiklah ... baiklah, maafkan aku. Paman tidak akan melakukannya lagi. Kamu puas?"


Agustin mengangguk singkat dan masuk ke dalam kelas tanpa mengucapkan salam perpisahan.


Redo tidak mempermasalahkan hal itu dan meninggalkan latar kelas tersebut, kembali ke ruang guru untuk melanjutkan pekerjaannya.


Agustin masuk ke dalam kelas, menemui guru mapel pertama dan meminta maaf karena terlambat masuk ke dalam kelasnya.


"Baiklah, kamu boleh duduk Agustin," ucap sang guru, mempersilahkan.

__ADS_1


Agustin mengangguk singkat dan duduk di bangkunya dengan tenang, sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja.


Saat lelaki itu hendak memejamkan matanya, Karina mengetuk sudut meja dan membuat si empu mendongakkan kepalanya.


"Apa lagi?!" seru Agustin, dengan suara tidak bersahabat.


Karina mendengus, tanpa kesal tapi alasannya tidak dipahami Agustin. Sekarang saat percakapan mereka pertama kali, Karina sudah bersikap seperti itu.


"Kenapa?!" tanya Agustin, menarik wajahnya dan duduk dengan tegak. Menatap Karina yang duduk menghadap samping, menoleh padanya.


"Ketua kelas kenapa? Masuk-masuk mukanya sudah jutek. Pak Redo gak macam-macam sama dia akan?!" celetuk Karina, tampak khawatir.


Agustin menoleh ke arah Ellen, dia memang terlihat diam dengan wajah yang ketus. Tapi itu tidak membuat Agustin tanpa kasihan dan khawatir. Karena dia jelas tahu, kalau tidak ada hal buruk yang terjadi kepadanya.


Karina hanya mencibir dan memutar balik badannya, kembali menghadap pada papan tulis.


Setelah sisa hari mereka habiskan untuk belajar dengan bersungguh-sungguh. Dan bell pulang sekolah sudah berbunyi dengan sangat nyaring, dan membuat sebagian semangat yang tadinya sempat hilang karena diterpa banyaknya materi pelajaran, kini tiba-tiba telah kembali dan membuat semua murid di dalam kelas bersemangat.


Salah satunya adalah Ellen, dia selalu terburu-buru saat pulang sekolah. Dia mengemas barang-barangnya dengan cepat dan memimpin semua anak untuk memberi salam perpisahan kepada guru mapel terakhir dengan cepat, dan melarikan diri secepat kilat dari sekolah.


"Gue cabut duluan, ya?!" ucap Ellen, melambaikan tangan sambil berjalan cepat ke arah pintu.


Sia, Agustin, Tama dan Grisel menoleh padanya dan membalas lambaian tangan tersebut dengan senyuman yang bertengger di wajah rupawan mereka.


"Hati-hati di jalan, Ellen! Nanti malam kami akan pergi ke rumahmu untuk mengerjakan tugas. Jangan sampai pulang larut!" teriak Sia, dari balik jendela yang tembus pada lorong.

__ADS_1


"Ya!!" jawab Ellen, sambil melambaikan tangan dan meninggalkan lorong kelas mereka dengan cepat. Seperti seseorang yang sedang dikejar waktu.


"Dia kenapa lari-larian kayak gitu kalau mau pulang sekolah? Ada acara? Tapi kok setiap hari?" tanya Andre, menatap pada Ben yang masih duduk di tempatnya.


Ben memang memiliki satu kebiasaan, yaitu menunggu kelasnya sepi, baru dia akan beranjak dari bangkunya. Itu dia lakukan agar tidak bersisipan jalan dengan banyak orang, di depan gerbang nanti. Karena Ben, sangat benci dengan keramaian.


"Ellen? Setelah pulang sekolah dia pergi ke tempat kerja. Aku pernah mendengar, kalau waktu shift kerjanya sangat mepet dengan waktu bell pulang sekolah. Hahhh ... itulah kenapa dia selalu terburu-buru saat bel pulang sekolah sudah berbunyi. Yah, wajar saja. Dia wanita yang menghidupi dirinya sendiri. Jadi semua anak di kelas ini, sangat menghargainya walaupun sering terlihat serampangan. Menurut kami dia orang yang hebat. Dan aku yakin kamu juga berpikir seperti itu, kan?!" jelas Ben.


Ben menatap lawan bicaranya dengan tatapan datar. Bukan karena mencoba bersikap dingin pada Andre. Tapi hanya sedikit malas untuk melakukan apa pun saja.


Tapi lawan bicaranya terlihat bingung dengan arah pembicaraan mereka. Mungkin karena Andre masih belum tahu kalau Ellen adalah seorang yatim piatu.


"Maksudnya bagaimana? Menghidupi dirinya sendiri? Selalu bagaimana dengan kedua orang tuanya? Mereka tidak membiayai Ellen? Dia kan masih terlalu kecil untuk bekerja," celetuk Andre, sambil mengumbar ekspresi polosnya.


Ben menoleh ke arah Tama, yang sudah berdiri di dekat mereka dengan tatapan lurus dan dalam. "Bukannya gue udah bilang kalau lo harus jelaskan apa saja tentang Ellen sama dia?"


Tama menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal, dan membuat beberapa anak kelas mereka yang mendengar pembicaraan keduanya, menghampiri dan ikut bergabung bersama 3 orang lelaki itu.


"Bahas apa?" tanya Grisel, bertanya terlebih dahulu karena dia tidak mengerti pembahasan apa yang mereka bahas sampai Ben mengeluarkan ekspresi serius.


"Gue belum bilang ke Andre kalau ketua kelas kita yatim piatu. Sorry, mungkin tadi pagi dia enggak sengaja singgung perasaan Ellen tentang pembahasan orang tua, karena gue enggak bilang apa-apa ke dia. Sorry, Ndre. Gue lupa bilang kalau Ellen enggak punya siapa-siapa di tempat ini. Jadi gue mau minta sama lo, tolong jangan bahas hal yang berkaitan dengan keluarga di depan dia." Tama menjelaskan. "Walaupun Ellen enggak pernah keberatan ataupun merasa tersinggung dengan pembahasan itu. Tapi semua anak kelas di tempat ini sepakat, enggak akan perlakukan dia seperti orang yang rendahan hanya karena enggak punya orang tua. Gue harap lo mengerti."


Andre yang mendengar itu hanya diam, menata beberapa anak yang memandangnya dengan tatapan seperti sedang memohon.


"Ah, jadi ini alasan Tama marah ke gue tadi pagi? Karena Ellen enggak punya orang tua, jadi kita enggak boleh bahas tentang orang tua kita di depan dia?" Andre menyugar rambutnya kasar. "Gak masuk akal sama sekali!" batinya, tak bisa mengerti.

__ADS_1


__ADS_2