
Tama sudah menunggu 30 menit lamanya, di depan rumah Andre. Seperti biasa, kedua anak remaja itu selalu berangkat bersama. Entah itu saling berhubungan dengan atau membawa motor masing-masing.
Mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Andre. Tama hendak menghubungi Andre. Tapi saat dia sudah menelpon lelaki itu, Andre tiba-tiba keluar dari rumah dengan wajah loyo.
Andre mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, memandang nama Tama yang tertera di sana.
Pandangan Andre beralih ke arah gerbang, melihat Tama yang sudah berada di sana dengan ekspresi masam.
Andre berlari kecil ke arah gerbang dan keluar dari pekarangan rumahnya. Tidak lupa, dia kembali menyimpan ponsel setelah menolak panggilan dari Tama.
"Sorry gue tadi ada masalah sedikit sama Bokap. Sorry, gue gak sempat ngabarin lo juga." Andri berusaha menjelaskan sembari Tama mulai menjalankan motornya meninggalkan area perumahan mereka.
"Masalah apaan lo sama Bokap? Tumben banget bertengkar. Biasanya yang cari ribut kan abang lo? Kenapa hari ini lo juga ikut-ikutan jadi anak bandel?" tanya Tama, beruntun.
Andre hanya menggelengkan kepalanya pelan dan fokus memandang depan. Memperhatikan jalanan yang berhasil mereka lewati tanpa hambatan.
"Panas ya?!" celetuk Andre, sambil menatap teriknya matahari di atas langit.
Tama memutar bola matanya malas dan melihat ke arah jarum jam yang terpasang di pergelangan tangannya. "Sekarang udah jam 07.00 pagi. Udah kesiangan banget ini! Lo sih pakai acara bertengkar sama Bokap terus pakai lama banget lagi keluarnya. Untuk gua bukan pohon, coba aja gue pohon. Udah jamuran kulit gue!" celetuk Tama, terlihat sangat kesal.
Wajah Tama yang bisa di lihat Andre dari pantulan kaca spion, hanya mengundang senyuman masam dari Andre.
Sekitar 15 menit akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah. Tentu saja, dengan penampilan ketua kelas mereka yang sudah berekspresi ketus.
Gerbang sudah hampir ditutup. Mungkin jika telat 5 menit lagi, mereka benar-benar akan terlambat. Tapi untungnya, Ellen berhasil menahan gerbang itu agar tidak ditutup oleh pak satpam.
__ADS_1
Andre dan Tama turun dari motor, melihat Ellen yang berjalan ke arah mereka dengan rahang mengeras. Tanda jika gadis itu benar-benar marah.
"Eits, kali ini benaran bukan gue penyebab utama kita berdua terlambat. Salahin Andre itu! Pakai bertengkar segala sama Ayahnya. Udah tahu mau berangkat sekolah, tapi malah bertengkar sama Bapaknya. Memang suka mengadi-adi aja nih orang," celetuk Tama, berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
Niat pergi untuk kabur, tapi tangan kanan Ellen sudah menahan tasnya. "Mau ke mana lo kunyuk? Mau kabur lo?!"
Tama menoleh pada Ellen yang sudah menunjukkan tatapan horor padanya. "Hehehe ... enggak, Len. Siapa juga sih yang mau kabur? Gue juga tahu kok, kita tetap harus menjalani hukuman. Iya enggak, Ndre?!" celetuknya, menatap Andre yang dari tadi diam di tempat yang sambil memperhatikan Ellen.
Tama terdiam cukup paket melihat tatapan Andre yang terlihat sangat fokus dan terlena dengan sosok Ellen yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa nih bocah?!" batin Tama, mulai curiga jika Andre memiliki perasaan yang merujuk pada romansa kepada ketua kelasnya ini. "Bisa bahaya nih kalau Ellen sampai tahun Andre suka sama dia. Bisa-bisa, Andre di keluarkan dari kelas secara paksa!" batinnya, lagi.
Ellen menoleh ke arah Andre yang dari tadi diam walaupun Tama sudah menegurnya. "Ngelamun apaan lo?" tanyanya, dengan suara ketus karena masih dalam keadaan marah.
Andre langsung mengedipkan matanya, kembali fokus dan tidak lagi bengong. "Hem? Lo ngomong apa barusan? Sorry, gue agak enggak fokus karna ada beberapa masalah.'
Tama menghela napas lega saat Ellen melepaskan cengkeraman tangannya. Dan segera mengajak Andre untuk mengikuti langkah Ellen, sebelum gadis itu marah lagi.
Mereka berjalan ke lantai 3, tempat semua kegiatan ekstrakurikuler berlangsung. Dan tempat yang dinilai paling kotor karena lorongnya banyak sampah berserakan akibat para murid yang kekurangan iman.
"Astaga, yang benar aja nih lorong. Kotor banget kayak pembangunan angker. Padahal lantai satu sama lantai dua bagus-bagus aja. Memang OB dan OG sekolah kita enggak pernah bersihkan lorong yang ini, ya?!" celetuk Andre, saking kagetnya melihat penampakan lorong yang sangat kotor itu.
"Lo gak tahu ya? Lorong ini baru dibersihkan kalau ada jatah buat anak-anak menerima hukuman. Jadi kalau nggak ada anak yang di hukum, lorong ini juga enggak bakalan di bersihkan. Kayak sengaja di biarkan kotor, biar hukuman buat anak-anak yang melanggar aturan bisa semakin jempol!" jelas Tama, dengan menerima sapu dan kemucing yang diberikan ketua kelasnya.
"Dah, jangan banyak omong dan cepat bersihkan sampai bersih. Nanti pas istirahat gue bakalan naik dan cek ini secara langsung sama guru kedisiplinan. Gue harap lo pada gak buat masalah lagi!" celetuk Ellen, memperingatkan mereka berdua sambil berjalan pergi kembali turun ke lantai 1.
__ADS_1
Andre dan Tama mendengus kasar. Melihat dua benda alat kebersihan yang masing-masing mereka genggam.
"Dah lah, memang kita yang salah. Bersihkan aja deh. Dari pada enggak selesai-selesai terus kita dapat hukuman baru, kan?!" celetuk Andre, mulai menyapu lorong tersebut dan memastikan semua debu yang ada di atas lantai terangkat dengan baik.
Tama menghela napas kasar dan segera melakukan hal yang sama. "Hahhh ... awas aja besok-besok kalau lo telat lagi kayak hari ini. Gue tinggalin!" pekiknya, masih jengkel.
"Iya-iya, maaflah. Gue gak bakalan ulangin lagi," sahut Andre, tanpa melihat lawan bicaranya sedang fokus untuk kerja bakti dadakan.
***
Lian bangkit dari bangkunya. Dia mendekati meja Ellen selepas menatap situasi kelas yang lumayan sepi.
"Len ... Len ... lo besok bisa ikut gue gak? Ke toko buku." Lian mendekatinya, membuat Ellen menoleh padanya dengan tatapan berpikir.
"Len? Lo gak mau?" tanya Lian, membuat Ellen terpaksa mengangguk padanya.
"Oke. Tapi gue gak bisa lama karena harus kerja." Ellen menatap jam tangannya dengan saksama, lalu berkata, "Mungkin sekitar 1 jam. Gak masalah?"
Lian menganggukkan kepalanya antusias. "Gak masalah. Itu lebih dari cukup kok. Ya udah, berarti besok lo pulangnya sama gue, ya? Soalnya gue lihat lo selalu di jemput sama Paman lo."
"Paman?" celetuk Ellen, mengingat tentang William yang sering menjemputnya akhir-akhir ini.
"Len, jadi besok lo pulang bareng gue, kan?" tanya Lian, kembali mengulangi pertanyaannya. "Kenapa sih, bengong mulu lo!" pekiknya, tampak jengkel.
Ellen menggeleng pelan. "Enggak. Iya, besok gue pukang sama lo. Ya udah, sana minggir! Gue mau lanjut belajar," usirnya, membuat bibir Lian mencebik kesal.
__ADS_1
Tapi Lian tetap menyingkir dari hadapannya dan tak mengira kalau seorang lelaki sudah memperhatikan mereka dari tadi.
"Apa-apaan anak itu?!" batin anak lelaki itu, mengintip dari balik jendela lorong kelas.