Head Of The Class

Head Of The Class
30. Serangan


__ADS_3

"Ellen, hari ini lo ada acara?" tanya Andre, mendekati meja Ellen.


Ellen yang sedang mengemas barang-barangnya dan hendak pulang, menoleh pada lelaki itu dan memandangnya cepat lama. "Em ...." Ellen menggantung kalimatnya, menoleh pada Lian yang sudah menunggunya di depan kelas. "Gue mau pergi sama Lian ke toko buku. Kenapa?"


Andre yang mendengar kata itu langsung terdiam, dan menoleh pada Lian yang sudah menunggu Ellen di depan kelas. "Gue boleh ikut? Kayaknya buku tulis di rumah gue habis. Gue harus beli itu," ucapnya, mencari alasan.


Ellen mengangguk dengan gampangnya dan membuat Andre tersenyum. "Oke, makasih. Terus kalian mau naik apa? Motor atau mobil?? Kebetulan hari ini gue bawa mobil. Mau naik kendaraan gue aja??"


Ellen dan Andre dari jalan mendekati Lian yang sudah menunggu di depan kelas.


"An, Andre mau ikut. Gimana kalau kita nebeng mobil Andre aja? Lo enggak bawa kendaraan, kan? Jadi kita enggak perlu panggil taksi," ucap Ellen, mendapat tangguhkan kepala dari Lian dengan mudah.


"Oke, gue enggak masalah kok. Naik apa aja yang penting kita sampai ke toko bukunya," sahut Lian, membuat Andre kegirangan di dalam hati.


"Ya udah, sekarang kita berangkat??" tanya Lian, seperti sedang di kejar waktu.


Ellen dan Andre mengangguk dan kepalanya setuju dan segera pergi meninggalkan kelas dan pergi ke tempat tujuan mereka.


Mungkin sekitar 20 menit perjalanan, ketiga remaja itu sampai di tempat tujuan mereka. Sebuah toko buku besar yang ada di dalam Mall, di pusat kota.


"Lo mau cari buku apa, An?" tanya Ellen, begitu mereka berhasil masuk ke dalam ruangan besar beraroma kertas dan tinta itu.


"Gue cari buku mata pelajaran yang ini. Kira-kira lo masih ingat tampangnya enggak? Malas banget gue cari buku di tempat seluas ini. Rasanya udah kayak lari memutari lapangan!" pekik Lian, terlihat anggan.


"Iya, gue ingat kok. Lo tenang aja. Sekarang ikut gue ke arah sana," ucap Ellen, membimbing langkah Lian pergi menuju ke arah salah satu rak buku yang ada di bagian ujung. Dan tempatnya cukup jauh dari pintu masuk.


"Ndre, karena buku tulis bagiannya di depan. Gue antar Lian dulu ya? Biar cepat aja. Soalnya bentar lagi gue harus masuk kerja," celetuk Ellen, tak melupakan keberadaan Andre.

__ADS_1


Andre hanya mengulas senyuman masam dan melambaikan tangan, seraya membiarkan kedua temannya pergi.


Menghela napas kasar, Andre berjalan ke arah buku tulis yang diletakkan di meja panjang dan besar, yang ada di bagian depan, dekat kasir.


Andre memilih dengan tenang, sampai akhirnya dia melihat seorang lelaki masuk ke dalam buku-buku itu dengan pakaian serba hitam dan topi yang menutupi separuh wajahnya.


Tapi Andre bisa melihat dengan jelas kalau itu adalah kakak lelakinya, Ady. Lelaki yang jarang sekali keluarga rumah kalau tidak di minta oleh kedua orang tuanya untuk membelikan sesuatu.


Tapi anehnya, penampilan Ady hari ini sangat mencurigakan. Topi serta pakaian serba hitam yang terlihat seperti orang tidak merawat dirinya dengan baik.


"Abang ngapain pakai baju kayak gitu ke sini? Basipun kelihatannya kasual, tapi ini terlalu mencurigakan, kan? Terlebih gue ingat omongan Ayah kemarin malam. Apa jangan-jangan-"


Lamunan Andre terdiam sampai titik itu. Dia menoleh ke arah tempat kedua orang temannya pergi. Dan di sana juga abangnya pergi.


Firasatnya semakin kuat. Padahal Andre bukan cenayang. Tapi Andre terlihat sangat yakin kalau Ady akan melakukan sesuatu yang buruk pada kedua kelasnya.


"Duh ... ke mana situ dua orang pergi? Kenapa enggak ketemu-ketemu?" batin Andre, mulai merasa semakin cemas.


Andre semakin mempercepat langkahnya. Membuat beberapa orang melihat padanya, yang sedang berlarian di sekitar mereka.


"Mas, tolong jangan lari-lari," tegur salah satu pegawai tokoh buku itu, saat Andre pergi ke arah tempatnya berdiri.


Tapi Andre tidak menghiraukan permintaan tersebut dan terus melakukan aktivitasnya tanpa gangguan.


Orang-orang juga hanya melihatnya tanpa ada yang menegur. Mungkin mereka sadar dengan ekspresi wajah Andre yang terlihat pucat dan khawatir.


"Ndre, lo cari apa?" celetuk seorang perempuan, berjalan cepat menghampiri Andre dari belakang dan membuat langkah Andre terhenti di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang sedang mengantre di kasir.

__ADS_1


Andre menoleh dengan cepat, menatap wajah Ellen yang terlihat bingung. Begitu juga dengan Lian, yang menatap sosok Andre dari kejauhan.


"Kenapa lo?!" tanya Ellen, dengan suara yang sedikit menyentak.


Namun Andre tidak menghiraukan hal itu dan malah menghela napas lega. "Gak. Gue gak papa kok. Gimana? Buku yang dicari Lian udah ketemu? Lo mau gue bantu cari? Kayaknya gue enggak jadi beli buku deh, Nyokap gue baru WA kalau dia udah belikan gue buku baru," jelasnya, terlihat tergesa.


Ellen yang mendengar penjelasan itu hanya mengangguk dan mengajak Andre untuk pergi ke arah Lian.


Tapi belum ada tiga langkah yang mereka ambil, tiba-tiba seorang lelaki berlari dari arah depan dan menabrak tubuh Ellen, seraya suara rintihan terdengar dari mulut gadis itu.


"Eghh ...."


Wajah Ellen langsung terlihat kaget. Rasa sakit yang tiba-tiba terasa di bagian permukaan perutnya, membuat kedua kakinya tidak mampu berdiri dengan baik dan seakan memintanya berlutut.


Hampir saja jatuh, Andre sudah memeluk Ellen sambil berteriak meminta tolong. Ada juga beberapa orang yang mulai mengejar lelaki berpakaian hitam itu, termasuk Lian.


Andri tampak panik. Wajah Ellen benar-benar pucat. Dan itu membuatnya sangat frustrasi. Darah yang menembus ke permukaan seragamnya yang putih, membuat semua orang menjadi panik sendiri.


"Nona?! Anda baik-baik saja?!" teriak seorang perempuan berusia sekitar 23 tahun, menghampiri kedua remaja yang sedang ada di dalam kerumunan orang-orang, di dalam toko buku tersebut.


Tasya hanya berniat membeli beberapa pulpen dan notebook karena persediaannya sudah habis. Tapi siapa sangka kalau hari ini dia malah bertemu Ellen dengan keadaan mengenaskan.


Ellen yang belum sembuh secara total karena kecelakaan yang terjadi bersama Yani beberapa hari yang lalu, kini terlihat semakin lemas dan lunglai.


Pandangan Ellen sudah mulai kabur. Rasa sakit yang menjalar ke tubuhnya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Rasanya sangat sakit, sampai-sampai Ellen terbawa mimpi bertemu dengan seorang lelaki bertubuh tinggi dengan jubah hitam yang memegang sabit maut yang begitu besar.


"Bertahanlah, Nona. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Saya mohon, tolong bertahanlah!" gumam Tasya, sambil menggenggam tangan kanan Ellen dengan kedua tangannya erat-erat.

__ADS_1


__ADS_2