Head Of The Class

Head Of The Class
22. Teman Kecil


__ADS_3

Setelah pulang sekolah, semua anak X-IPA I langsung meluncur ke rumah sakit dengan mobil pribadi mereka masing-masing.


Tak ada acara bergantian. Tak ada anggota yang absen juga untuk berangkat ke sana. Semua anak ikut, termasuk yang sedang izin acara keluarga seperti Elma dan Lena. Mereka langsung ikut bergabung saat mendengar berita ini dari grup chat anak kelas mereka.


"Ellen Berenice, ada di kamar berapa dia, Sus?" tanya Retta, pada Suster yang menjaga meja resepsionis.


Wajah Retta sudah pucat. Bahkan tak sedikit anak yang menunjukkan reaksi berlebihan seperti menangis dan risau sampai keringat dingin mereka keluar.


Suster yang melihat reaksi mereka yang lebih cemas dari pada bapak-bapak saat mengetahui istrinya akan melahirkan itu, memilih mencarikan kamar yang di minta Retta dengan segera.


"2D di bagian lorong Mawar," ucap sang suster, dengan suara ramah.


Retta dan yang lainnya langsung bergegas. Mereka berlari dengan sekuat tenaga, tak peduli dengan citra publik mereka di mata orang-orang rumah sakit.


Kini rasa khawatir yang mereka rasakan lebih mendominasi dari pada rasa malu dan akal sehat mereka.


Tak ada seorang pun yang khawatir. Mereka semua mengkhawatirkan kondisi Ellen lebih dari Ellen yang mengkhawatirkan kondisi dirinya.


Brak!


Retta membuka pintu dengan kuat, membuat Ellen menoleh ke arahnya dengan tatapan berkerut.


Teman sekelasnya datang semua, dengan wajah panik dan pucat mereka. Tampaknya Ellen tahu ala yang sudah terjadi di sini.


"Hah ... padahal gue cuma tidur sekitar 36 jam! Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kata dokter, gue juga sudah boleh pulang setelah infusnya habis," jelas Ellen, membuat anak-anak di depannya langsung menangis.


Entah kenapa, tapi wajah Ellen yang berusaha tegar membuat hati mereka terasa ngilu dan membuat mereka terharu sampai lupa kalau punya malu.


Mereka menangis, membuat kedua bodyguard dan Ellen sendiri bingung harus berbuat apa. Terlebih lagi saat melihat Retta yang tampak kalut dalam tangisnya, seakan tak bisa membendung rasa sakit hati dan menumpahkan semuanya lewat tangisan.


"Cengeng lo Ret, jatuh dari lantai tiga aja gak nangis. Lihat gue gini–"

__ADS_1


"Diam gak congor lo itu! Eneg banget gue dengar lo ngomong. Gak usah sok menghibur deh!" sambar Retta, mengusap air matanya dengan kasar, tapi tampaknya tak mempan. Karena air matanya terus menetes tanpa bisa dia kendalikan.


Ellen diam, mengatupkan bibirnya beberapa saat dan menundukkan kepalanya. Menunjukkan reaksi sedih yang membuat Retta sedikit bersalah karena telah membentaknya.


"Sorry, gue gak maksud marah sama–"


"Gue yang minta maaf." Ellen mendongak, menatap mereka dengan senyuman miris. "Maaf ya, gue gak bisa lindungi Yani dengan baik. Di sampai gak bisa jalan gitu. Maaf, guys."


Retta mengatupkan bibirnya rapat. Lidahnya terasa kelu bahkan untuk sekedar membentak Ellen dalam satu kata.


Mereka tak mengerti, seberapa besar tanggung jawab yang di bebankan kepada Ellen dari kedua orang tua mereka, sampai-sampai membuat gadis itu lebih merasa bersalah saat salah satu di antara mereka terluka dari pada kehilangan nyawanya.


Rasa ranggung jawab yang tidak pernah masuk akal untuk teman-temannya. Tapi karena hal itu juga, mereka semua jadi tenang dan lebih fokus belajar dan meraih apa yang di harapkan kedua orang tua mereka.


Tanpa mereka sadari, ternyata rasa nyaman itu membuat Ellen membendung beban seberat ini sampai membuat mereka ikutan sesak, padahal tak pernah ikut merasakannya.


"Udahlah, Len. Gue makasih karena lo gak biarkan gue di bawa mereka. Leher lo bahkan tersayat gara-gara itu! Gak seharusnya lo khawatirkan gue. Harusnya lo yang khawatirkan–" Yani tak bisa meneruskan ucapannya. Hatinya pedih, terlebih lagi saat mengingat Ellen yang membawanya ke rumah sakit. Padahal dia mengalami luka 3x lipat lebih parah darinya. "Maafin gue ...."


Ellen tersenyum dan memejamkan matanya. "Bagus. Karena ini liburan buat gue sari buku dan pena. Gue mau istirahat ...."


Setelah itu, tak sampai satu detik. Ellen benar-benar tertidur pulas dan membuat teman-teman kembali menangis karena sedih, iba dan stres melihat kondisinya.


"Kayaknya kita gak bisa diam aja! Ketua kelas kita terluka gara-gara itu, kan?" Retta menatap Yani dengan tatapan tajam.


Yani mengangguk singkat. "Ya! Kalau gue hilang masalah ini ke bokap dan nyokap gue, mereka pasti mau bantu."


"Sip! Kalau gitu, kita eksekusi mereka?!" kompor Retta, menatap dingin pada teman-temannya.


***


"Bagaimana keadaan anak kami, Dok?" tanya seorang wanita, membuat suaminya menoleh padanya dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Mungkin kata "anak kami" yang di lontarkan sang istri, membuatnya tak senang. Karena "anak kami" yang di maksudkan istrinya, bukanlah anak mereka. Melainkan seorang anak yatim piatu yang sering membuat mereka susah.


"Keadaannya buruk, Nyonya. Dia juga datang dengan membawa seseorang. Padahal keadaannya sudah sangat parah, tapi bisa-bisanya dia kuat menggendong seseorang ke sini. Saya tidak menyangka kalau gadis kecil sepertinya bisa sekuat itu," ucap sang dokter, membuat kedua orang itu menghela napas sedih.


Sementara di luar ruangan, gadis berusia 10 tahun, yang katanya dalam kondisi buruk, hanya bisa duduk di kursi besi di depan ruangan itu, dengan mengayunkan kedua kaki kecilnya.


Perasaannya mulai berkecamuk. Rasa khawatir yang mendalam dan rasa resah yang membuatnya gundah, membuat kedua bibirnya terkatup rapat. Tak berani mengeluh atau sekedar merintih kesakitan.


"Ada yang salah?" tanya seorang wanita berusia 16 tahun, membuat gadis itu mendongak dan menatapnya.


Wajah pucat di kulit putihnya, membuat penampilan wanita itu tampak menyeramkan. Tapi gadis kecil itu tak takut dan malah mengulas senyuman masam.


"Tidak ada, Kak. Bukannya Kakak yang kenapa-napa? Wajah Kakak pucat sekali," ucap gadis kecil itu, menatap lekat wajah Ellen.


Ellen menangkul kedua pipinya dan menatap ke jendela, memandang dirinya dari pantulan kaca yang tampak samar memperlihatkan dirinya. "Benarkah? Itu karena gue sakit. Tapi lo, sakit apa?"


Ellen duduk di sampingnya, membuat gadis itu tampak terkejut karena pembicaraan mereka yang berlanjut. Padahal mereka tak saling kenal.


"Bukan penyakit yang bisa di ceritakan. Kalau Kakak, kenapa dengan lehernya?" tanya gadis itu, melihat perban panjang yang hampir menutupi sebagian besar area leher depan Ellen.


Ellen menyentuh perbannya dengan lembut dan tersenyum. "Bukan sesuatu yang bisa di ceritakan juga," balasnya, membuat gadis kecil itu mengerutkan keningnya dalam.


"Kakak meniruku?"


Ellen mengangguk. "Biar impas. Tapi kalau nama, boleh tahu, kan? Agak bosan kalau gak punya teman di sini. Nama gue Ellen. Kalau lo siapa?"


"Irena. Panggil saja Iren, semua orang memanggilku begitu," ucap gadis bernama Irena, dengan wajah yang kembali menunduk sedih.


"Baiklah, Irena. Gue panggil begitu saja. Toh, lebih cantik Irena dari pada Iren aja. Gak papa, kan?"


Irena mengangguk singkat, tapi wajahnya terlihat senang. "Boleh!"

__ADS_1


__ADS_2