Head Of The Class

Head Of The Class
16. Misterius


__ADS_3

"Kalian ingin bertengkar denganku lagi?!" celetuk Ellen, mengeluarkan aura membunuh.


Tiga orang yang ada di depannya, menangkap Ellen dengan tatapan setengah takut. Rasa nyeri di tubuh mereka, seakan tidak bisa berbohong tentang betapa menakutkannya gadis 17 tahun itu saat menghajar mereka kemarin.


"Kami tidak memiliki urusan dengan Anda. Jadi bisakah Anda bekerja sama? Karena orang yang menginginkan Nona Yani untuk pulang adalah kedua orang tuanya. Beliau sudah menunggu Nona Yani di rumah."


Ellen mengurutkan keningnya. Dia tampak bingung setelah mendengar penjelasan para lelaki itu.


"Yani di minta pulang oleh kedua orang tuanya?" tanya Ellen, seakan tidak percaya dengan hal itu.


Salah seorang dari ketiga orang di depan Ellen, mengangguk. Mengiyakan pertanyaan tersebut dengan gerakan tubuhnya.


Ellen menoleh kepada Yani. Dia memperhatikan ekspresi wajah wanita itu beberapa saat, sebelum kembali menatap tiga orang lelaki di depannya.


"Begitu?" Ellen menaikkan sebelah alisnya, seakan tidak percaya dan setengah percaya pada tiga lelaki itu.


"Anda ingin mengobrol langsung dengan mereka? Kami akan menelepon mereka, jika itu bisa mendapatkan kepercayaan Anda."


Kelakar tiga lelaki itu mulai meyakinkan. Membuat iklan sedikit bingung harus merespons bagaimana.


"Kalau memang benar begitu, sebaiknya aku akan menelpon mereka! Toh, Paman dan Bibi tidak mungkin tidak mengangkat teleponku," ujar Tama, saat berada di belakang punggung Ellen.


Ellen menoleh padanya, entah sejak kapan Tama ada di sana. Tapi, perkataan Tama sangat membantu Ellen di saat dia sedang bingung.


Keputusan yang tepat di saat yang tepat. Ellen sempat lupa kalau Tama adalah sepupu Yani. Padahal kedua orang itu cukup dekat dan sering Ellen lihat bersama-sama.


Tapi bagaimana dia lupa? Kalau Tama adalah sepupu Yani? Apa ini salah satu respons bodoh di saat otak manusia sedang bingung?


Tama mencoba menghubungi kedua orang tua Yani. Dan itu membuat tiga orang di depan mereka tampak bingung dan panik.

__ADS_1


Sudah Ellen duga, tiga orang lelaki itu pasti berbohong. Kemarin saja Ellen mendengar, kalau orang yang meminta di bawakan Yani, adalah seseorang yang memiliki niat jahat terhadap keluarganya.


"Hahhh ... hentikan itu, Tama. Gue tahu kalau mereka berbohong. Gue tahu siapa orang yang suruh mereka bertiga datang ke sini dan bahwa Yani. Aihh ... padahal gue gak pingin bertindak tegas hari ini. Tapi kalian bertiga terus mengusik ketenangan orang-orang di sekitar gue!" celetuk Ellen, mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang di sana.


Tama telah menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Dia hanya memperhatikan, apa yang di lakukan Ellen dengan teleponnya.


"Halo, Miss. Ada yang bisa saya bantu? Tumben sekali Anda menghubungi saya," ucap seorang wanita, dari seberang.


"Tasya, bisakah kamu membantuku? Aku harap kamu bisa melakukan hal ini secepat mungkin. Jadi bersiap-siaplah untuk pekerjaan extra," ucap Ellen, membuat wanita di seberang sana menutup laptop dan duduk dengan tegak.


"Saya siap mendengarkan Anda, Miss. Anda bisa menyampaikan pesannya sekarang," ucap wanita di seberang sana, di dengar jelas oleh Tama dan 3 orang lelaki yang ada di depan mereka.


"Bantu aku mencari informasi tentang seseorang. Dia berusaha mengusik kehidupan temanku. Tolong cari orang yang sedang bermusuhan dengan keluarga Ayani De Flore. Dia nama temanku, kamu bisa mencari informasi tentang lelaki berusia 67 tahun yang berusaha menyita saham sebagian dari perusahaan keluarga itu, kan?!"


Tama membulatkan matanya kaget, begitu juga dengan 3 orang lelaki di hadapan Ellen. Mereka tampak resah. Mereka tidak tahu, kalau orang yang sedang ada di hadapannya adalah musuh yang lebih mengerikan dari pada Tuan mereka.


"Entahlah, kau pikir aku tahu?" sahut temannya yang lain.


Ellen menghela napas panjang dan menutup teleponnya. Ketika orang lelaki itu kehilangan berita di akhir pembicaraan Ellen. Mereka tidak tahu apa yang di sampaikan gadis itu di akhir, sebelum dia menutup teleponnya. Lantas, itu membuat mereka semakin resah.


"Lebih baik kalian kembali ke rumah masing-masing. Mulai besok, perusahaan kalian akan menjadi perusahaanku!"


Deg ....


Ketiga orang lelaki itu terdiam kaku, dia menoleh ke arah Tama yang juga menjadi sakti pembicaraan di sana.


Dan saat mereka melihat respons Tama, sepertinya Ellen tidak sedang membual atau berbohong tentang pengalihan kekuasaan perusahaan yang di miliki Tuan mereka.


"A-apa? Lalu bagaimana dengan kami? Kami memiliki keluarga yang harus di nafkahi. Anda tidak kasihan pada-"

__ADS_1


"Oke, hentikan basa-basi itu. Jika kalian bisa melakukan suatu permintaanku, aku tidak akan memecat kalian dari perusahaan itu! Asalkan, tugasnya aku berikan pada kalian berjalan dengan baik. Bagaimana? Kalian mau mencobanya?!"


Glek ....


Tiga orang lelaki itu menelan ludahnya susah, menatap satu sama lain sebelum akhirnya memutuskan setuju dengan rencana Ellen.


"B-baiklah, kami akan mendengarkan permintaan anda. Tapi tolong tepati janji Anda, untuk membiarkan kami berada di perusahaan itu nanti!" ucap salah satu orang, di antara mereka bertiga mewakilkan penyampaian jawaban tersebut.


Ellen menganggukkan kepalanya antusias. Dia tampak senang dengan senyuman sinis. "Bagus. Aku sudah menduga, kalian bukanlah orang bodoh!"


Setelah beberapa saat berlalu, Ellen dan Tama kembali ke dalam rumah dan menemui 5 orang temannya, yang terus menunggu mereka di depan pintu dengan menunjukkan harap-harap cemas.


"Kalian baik-baik saja? Kenapa wajah Tama tidak terlihat baik?" cicit Yani, maju satu langkah dari tempatnya berdiri dan menemui Ellen serta Tama yang mendekati mereka.


"Tidak ada hal yang perlu lo khawatir kan, Yan. Gue udah urus semuanya. Lo tenang aja!" celetuk Ellen, berjalan melalui mereka dan masuk ke dalam rumah, meneruskan pekerjaannya yang tertunda.


Sementara kelima orang temannya, malas sekolah fokus pada Tama yang masih terlihat syok, dengan apa yang di lakukan Ellen pada orang-orang itu tadi.


"Membeli perusahaan? Hah ... bahkan kedua orang tua gue belum tentu bisa lawan perusahaan itu. Tapi dengan seenak jidat, Ellen mau membeli perusahaan itu?" batin Tama, sambil menatap Ellen yang fokus mengerjakan mading di dalam rumah. "Ini gila banget sih. Gue gak tahu apa perusahaan yang dia pegang selama ini. Tapi kalau skalanya sampai bisa mengalahkan perusahaan itu, berarti perusahaan Ellen lebih besar, kan?!"


Tama menggelengkan kepalanya kuat dan membuat 5 orang temannya mengerutkan keningnya dalam.


"Heh ... lo kenapa? Pusing?!" celetuk Sia, membuat fokus sama kembali dan mengarah tepat padanya.


"Enggak. Tapi gue mau bilang sama kalian! Mulai sekarang, jangan pernah macam-macam sama ketua kelas. Aih ... bulu kuduk gue masih merinding aja sampai sekarang. Astaga, gue gak percaya dia bisa lakuan hal yang itu sama mereka," keluh Tama, sambil mengusap-usap kedua bahunya sendiri.


Lantas respons seperti itu, malah membuatku 5 orang temannya bingung dan mulai menerka, tentang apa yang dilakukan oleh Ellen, sampai dia sangat percaya diri dan mengatakan Yani tidak perlu khawatir.


"Misterius!" batin Andre, diam-diam kembali mencuri pandang pada Ellen.

__ADS_1


__ADS_2