Head Of The Class

Head Of The Class
21. Luka


__ADS_3

"Hari ini ketua gak masuk?" tanya Retta, dengan setengah menyolot.


Ben yang membawakan surat titipan dari Zero, hanya mengangguk pelan dan memberikan kertas itu pada sang wakil ketua.


Retta mengerjapkan matanya tak percaya. Selama 6 bulan mereka bersama, tak pernah ada kasus seperti ini.


Ellen sakit? Kebetulan atau bagaimana?


Retta menoleh ke bangku Andre dan menatap tajam pada orangnya. Membuat Andre mengerutkan kening dalam dan menatapnya tak paham.


"Kenapa lo?!" pekik Andre, menghampiri bangku Retta dan melihat apa yang telah terjadi di sana.


Sekedar info : Andre bukan orang yang pemalu, jadi selama 1 bulan dia sudah mengakrabkan diri dengan anak kelasnya dan cukup memiliki hubungan baik antar sesama sampai dia berani bersikap belagu seperti sekarang ini.


"Ellen sakit. Lo gak ada masalah sama dia, kan? Karena kemarin, gue dengar dari si Agus sama Grisel, lo ada apa-apa sama di Ellen." Kedua mata Retta menelisik dalam ke kedua manik Andre. "Lo gak buat dia stres sampai Ellen gak bisa masuk sekolah, kan?!" tanyanya, terkesan menuduh.


"Lah? Napa jadi gue yang jadi sasaran julid lo?!" Andre merasa sedikit bersalah, tapi dia berusaha tak memperlihatkan itu. "Kagaklah, gue gak punya masalah besar sama Ellen. Cuman gue lupa sesuatu aja kemarin! Tapi gak sampai bisa buat dia sakit kayak sekarang," jelas Andre, berusaha tak membuat Retta atau Ben salah paham.


Retta menggaruk rambutnya kasar sambil menerima surat yang dari tadi masih ada di tangan Ben, karena dia sangat enggan menerimanya.


Walaupun dia seorang wakil ketua kelas, tapi Retta di pilih karena dasar sikap iseng teman sekelasnya. Dan tanggung jawab itu menjadi seperti beban bagi anak bad girl seperti Retta.


"Jangan lupa, hari ini lo yang pimpin salam pagi dan pulang di depan guru. Jangan kabur lo! Gak ada anak yang mau berbagi tanggung jawab ketua kelas sama lo!" pekik Ben, membuat Retta mencibir kesal.


"Iya iya, sana balik ke bangku lo. Gue kasih sekretaris dulu nih surat, kalian balik belajar aja. Jangan main-main. Bentar lagi kita ulangan!" celetuk Retta, seketika menjadi anak yang benar dan lurus.


Andre sempat kagum, mengingat orang seperti Retta yang tak pernah absen jam pelajaran pertama dan akhir, kini malah bersikap tegas selayaknya Ellen.

__ADS_1


"Apa mungkin dia di pilih karena dia anak kayak gitu?" gumam Andre, sambil berjalan ke arah bangkunya.


"Bukan, Retta bukan di pilih karena sifat itu!" sambar Kirana, orang yang duduk di bangku sebelah Andre dan kebetulan mendengar gumaman Andre saat lelaki itu melintas di antara bangku mereka.


Andre menoleh setelah duduk di bangkunya, memperhatikan wajah Kirana yang siap berbicara panjang untuk menjelaskan kesalahpahaman ini.


"Terus?" tanya Andre, menimpali perkataan Kirana tadi.


"Seperti yang lo tahu, kelas kita berjumlah 20 orang. Jauh lebih sedikit dari kelas lain, yang bisa di isi sampai 42 anak."


Andre mengangguk paham, karena itu memang benar adanya. Sebab keanehan sekolah ini hannyalah adanya kelas premium ini!


Bukan hanya jumlahnya muridnya yang sedikit. Tapi fasilitas dan penghuni kelas yang merupakan anak-anak orang kaya, seakan memang di pilih sesuai status derajat orang tua dan otak mereka saja.


Karenanya, tak sedikit rumor miring yang pernah Andre dengar tentang kelasnya, dari teman-temannya di kelas lain.


Tidak adil bagi mereka kalau mendapatkan citra buruk di mata murid yang lain, padahal mereka jauh lebih keras berusaha memperjuangkan nilai agar tidak turun, kan? Memang mulut netizen, kapan sih gak pedasnya.


Andre menghela napas panjang dan fokus kembali pada Kirana, yang masih setia menatapnya. "Terus apa?"


"Ketua atau wakil kelas di kelas ini gak boleh di pilih berdasarkan ketegasan dan kepintaran otak mereka aja! Mereka di wajibkan memiliki citra baik di depan guru atau murid yang lain. Itu semua di buat supaya gak ada anak yang berani usik kelas ini. Nilai adalah segalanya buat kita! Gak boleh ada yang turun, menetap di angka itu aja udah kayak toleransi dari para guru dan orang tua. Apa lagi kalau sampai turun? Kita pasti dapat bimbingan ekstra sampai harus pulang jam 07.00 malam tiap harinya. Aih, gue gak bisa bayangin itu terjadi ke kita. Pasti capek!" panjang Kirana, mulai sedikit keluar dari inti pembicaraan mereka.


"Jadi maksud lo gimana nih? Apa hubungannya sama kepilihnya si bad girl abad ini jadi ketua kelas?!" tanya Andre, masih terlihat bingung.


Tapi itu malah membuatnya mendapatkan jitakkan di kepala dan membuatnya mengeluh sakit.


"Duh, kenapa lo pukul kepala gue sih, Rin? Ellen tahu, di gorok lo!" kesal Andre, mengusap-usap bagian kepalanya yang berdenyut sakit.

__ADS_1


Lantas Kirana hanya mendengus dan tak menghiraukan keluhan itu. Dia kembali serius karena ingin kembali menjelaskan.


"Terpilihnya Retta sebagai wakil ketua kelas, ya karena dia di takuti banyak anak sekolah dan di hindari para guru. Alih-alih sikapnya yang baik dan terpuji kayak Ellen, sisi gelap Retta lah yang buat kita memilih dia jadi wakil Ellen."


Kirana menatap Retta yang masuk ke dalam kelas dengan seragam yang sudah rapi, seperti anak yang lain. Tidak seperti biasanya yang terlihat sangat tidak karu-karuan.


"Walaupun sangat berbeda sama si Ellen. Tapi kalau Retta yang pegang kelas ini, gak ada satu pun anak yang–"


Gubrak!


Kirana menoleh ke luar pintu, begitu pula dengan Andre dan anak-anak kelasnya yang lain. Mereka tampak memperhatikan seseorang yang berusaha bangun dari jatuhnya.


Dua tongkat pembantu jalan jatuh di sekitar tubuhnya yang tersungkur. Rambut panjang menutupi wajahnya, tapi anak-anak kelas X-IPA I dapat mengenali dengan baik, siapa gadis itu.


Sia yang merupakan anak dengan posisi bangku di dekat pintu, segera keluar dan membantu teman mereka Yani, yang entah kenapa memiliki penampilan kacau hari ini. Padahal dia sangat terkenal selalu menjaga penampilan dirinya.


"Yan, lo kenapa? Bangun-bangun!" ucap Sia, berusaha membantu Yani bangkit dan melihat bagaimana ekspresi wajah wanita itu.


Deg ....


Semua orang tercengang melihat wajah Yani yang bonyok dengan beberapa bekas luka pukul yang membiru di sekitar dagu dan pelipisnya. Bahkan sudut bibir yang menyimpan darah kering itu, membuat sebagian anak-anak di koridor menatap ngeri penampilannya.


Tapi Yani tampak tak peduli dengan tatapan kasihan yang terlontar dari mereka, karena tatapan kosongnya sudah mendominasi suasana, agar lebih mencengkeram bagi anak-anak kelasnya.


"L-lo kenapa, Yan?!" tanya Sia, tampak panik sambil menuntun Yani masuk ke kelas dan menghindarkannya dari tatapan julid para penonton.


"Ellen koma di rumah sakit. Gara-gara gue, kemarin malam dia hampir meninggal!" ucap Yani, membuat keheningan yang sudah menyesakkan itu, kini menjadi semakin mencengkeram.

__ADS_1


"Apa?!!!"


__ADS_2