Head Of The Class

Head Of The Class
31. Pulang


__ADS_3

Ellen membuka matanya perlahan lahan dan melihat beberapa orang yang sudah mengelilinginya.


"Lo gak papa?" tanya Sia, menatap wajah Ellen dengan tatapan cemas.


Ellen berusaha mengingat siapa mereka semua. Kepalanya terasa sangat pusing saat baru bangun tidur. Jadi dia sedikit lemot untuk mengingat siapa saja yang ada di hadapannya ini.


"Iya, gue gak papa kok. Bisa tolong ambilkan air? Kayaknya fokus gue agak ke ganggu karena terlalu lama tidur. Memangnya, gue udah tidur berapa lama?" tanya Ellen, sambil menerima pemberian air dari Steven.


"Lo udah tidur lebih dari seminggu!" celetuk Steven, membuat kedua bola mata Ellen membulat dengan sempurna.


"Yang bener aja lo. Jadi gue enggak ikut ulangan gitu? Gila banget! Dasar tubuh gak tahu diri. Udah tahu mau ulangan malas sakit. Begonya gue!!!" kelas Ellen, bahkan hampir memukul kepalanya sendiri karena saking kesalnya.


Sia langsung memukul kepala Steven, membuat sepupu lelakinya itu meminta maaf dan mengulas senyuman asam.


"Bohong-bohong. Lo baru tidur satu hari aja kok. Ulangannya besok, jadi lo masih bisa mengikuti," jelas Sia, membuat Ellen menghela napas lega.


"Hufff ... untung aja gue enggak ulangan sendirian. Memang gila lo, Bang. Bercanda lo enggak lucu sama sekali. enggak usah diulangi lagi!" marah Ellen, memukul bahu Steven dengan cukup keras.


Steven terkekeh geli dan meminta maaf sekali lagi. "Ya maaf atuh neng. Habis gue pengen lihat respons lo kayak gimana sih. Jadi gue kerjai aja, hahaha ... maaf kalau bercandaan gue buat jantung lo hampir lompat keluar," celetuknya, tampak sungkan.


Ellen menghela napas kasar dan menoleh ke arah lelaki yang dari tadi terus tertidur dengan kepala yang bersandar pada tepi ranjangnya.


Andre tampak tertidur dengan pulas dengan posisi duduk di samping ranjang Ellen, dengan kepala yang bersandar di tepi ranjang.


"Bocah ini enggak pernah absen kalau gue lagi di rawat. Kalau gue boleh tahu, sejak kapan anak ini di sini? Jangan-jangan dia menginap di sini lagi malam kemarin??" pekik Ellen, seakan tidak percaya.

__ADS_1


Tapi reaksi Sia dan Steven, membuat sebelah mata Ellen berkerut dengan ekspresi wajah yang terlihat jengkel.


"Bisa-bisa anak-anak yang lain bakal mengira kalau dia pacar gue. Hahhh ... sumpah, nyusahin banget jadi orang. Bisa gak sih kalau dia enggak usah kayak gini? Lebay banget kalau kasih perhatian." Ellen mengomel, membuat orang yang di bicarakan terbangun dari tidurnya dan memandangnya dengan tatapan terkejut.


Andre langsung menoleh ke arah jarum jam, sebelum kembali menoleh pada Ellen kembali. Lelaki itu terlihat cukup bersyukur, tapi juga terlihat kesal di saat bersamaan.


"Akhirnya bangun juga lo. Gak kurang lama tidurnya? Gak kurang lama juga buat khawatir orang? Bisa-bisanya lo tidur selama 56 jam. Hah ... gue bisa mati kalau lo enggak bangun!" celetuk Andre, membuat kening Ellen berkerut dengan dalam.


"Apa? Lo enggak menginap di sini semalaman, kan? Siapa tahu, mentang-mentang gue enggak bisa larang lo buat enggak tidur di sini. Lo nekat tungguin gue!" sinis Ellen, terlihat semakin jengkel.


Andre memutar bola matanya malas dan bangkit dari tempat duduknya. Dia membenarkan seragamnya yang sedikit berantakan dan mengambil tasnya di bagian bawah kasur.


"Bukan urusan lo. Berhubung lo udah bangun dan kue bisa tenang. Sekarang gue mau cabut dulu! Dah, sampai ketemu di sekolah." Andre berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, setelah meninggalkan kesan ok keren.


Ellen memeluk dirinya dan mengusap kedua bahunya secara kasar sambil berusaha menurunkan bulu kuduknya yang berdiri.


Padahal sekali pun, Ellen tidak pernah bersikap baik pada Andre. Tapi kenapa Andre terus berusaha mencari perhatiannya? Seperti seorang lelaki yang sangat ingin diperhatikan kekasihnya.


Memang perasaan Ellen saja? Atau Andre memang bertingkah aneh setiap berhadapan dengannya?


Ellen tidak tahu, yang jelas dia tidak pernah merasa nyaman melihat Andre seperti itu. Yang bisa dia lakukan, hanya berharap kalau Andre bisa tiba-tiba sedikit menjauh atau menjaga jarak darinya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin, kan?


Ellen menggelengkan kepalanya kuat, mencoba menghapus semua pikiran tentang Andre di dalam kepalanya.


"Bisa gila gue kalau kayak gini terus. Lo ada solusi enggak? Kira-kira biar Andre agak jaga jarak sama gue gitu?" tanya Ellen, tiba-tiba seperti gadis yang tidak pernah mengalami kecelakaan sama sekali.

__ADS_1


Bahkan Ellen seakan kehilangan rasa sakitnya. Pada saat ini, darah sedang kembali muncul di permukaan perban yang dipasang oleh para dokter.


"Lo gak papa?" tanya Sia, menuju ke arah perut Ellen sambil berekspresi masam.


Ellen menundukkan kepala, melihat ke arah mana cari telunjuk Sia mengarah. Dan saat itulah, Ellen baru bisa merasakan rasa sakit yang terasa sangat perih di bagian perutnya.


"Akhhh ... coba panggil dokter! Gila sakit banget. Kenapa dari tadi gue enggak kerasa sih?! Cuman gara-gara Andre doang, gue sampai enggak bisa rasain sakit kayak gini? Gila benar damage-nya tuh anak. Udah kayak obat penghilang rasa sakit!" pekik Ellen, masih bisa mengomel panjang.


Steven yang dari tadi diam dan memperhatikannya, hanya bisa menggelengkan kepalanya ampun melihat sosok adik perempuannya yang sepertinya sudah setengah gila.


"Pulang-pulang bakal gue bawa ke rumah ustaz biar di ruqyah. Siapa tahu setannya bisa hilang dan dia balik waras lagi," batin Steven, hanya memperhatikan kedua gadis yang ribut sendiri tanpa mau membantu mereka.


***


Steven menghela napas panjang dan melirik ke arah Ellen yang sedang duduk tenang di belakang kursi kemudi.


Sementara Sia baru saja turun dan meninggalkan mobil, setelah Steven pengantarnya pulang.


"Lo sudah minta salah satu sekretaris lo buat tidur di rumah? Kalau enggak ada yang mau, gue yang bakal tidur di sana." Steven melihat wajah lawan bicaranya dari kaca spion tengah. "Gue takut ada apa-apa sama lo kalau ditinggal sendirian."


"Enggak usah. Gue enggak panggil William atau Tasya ke rumah. Lo juga enggak perlu tidur di rumah. Gue udah panggil dua bodyguard gue biar standby di rumah beberapa waktu. Jadi lo enggak usah khawatir," jelas Ellen, tampak tak acuh.


Steven mendengus kasar. "Tetap aja. Masih harus ada orang yang berjaga dari dalam. Udah deh, kamar di rumah lo kan banyak banget. Biar gue yang tidur di sana. Lagian besok pagi gue harus ke kampus. Jadi pas lo berangkat ke sekolah, gue bakalan langsung berangkat ke kampus."


Steven melirik ke belakang secara langsung. "Gue bakal tidur di sana!" ucapnya, memberi tahu tapi seakan tidak ingin menerima bantahan dari pemilik rumah.

__ADS_1


Ellen memutar bola matanya malas dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Terserah lo deh. Gue mengalah!" celetuknya, tampak tak ikhlas.


Tapi Steven tersenyum dan mengangguk seraya menunjukkan ekspresi bahagia karena telah menang melawan debat dengan Ellen.


__ADS_2