
Klek ....
Ellen masuk ke dalam kamarnya dan menemui satu sosok lelaki yang duduk di sofa dengan mengerjakan buku soalnya dengan tenang.
Tanpa menoleh ke arah Ellen, lelaki itu berkata, "Dari mana?"
Ellen tak menjawab, dia berjalan ke arah ranjang dan naik ke sana, tanpa berpaling dari sosok itu.
Kedua manik mata mereka bertaut, membuat Ellen bisa melihat wajah menyebalkan yang kini terpampang jelas di depan sana.
"Kenapa gak jawab?" tanya Andre, menutup bukunya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
"Harus?" sahut Ellen, sambil menaikkan sebelah alisnya ke atas.
Andre menghela napas, berjalan mendekat dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang Ellen.
"Kalau pertanyaan harus ada jawaban. Karena gue yang tanya, lo yang harus jawab. Karena di sini kita hanya perdua aja. Paham?"
"Gak!" sambar Ellen, tak acuh.
Andre mendengus kesal dan menjitak kepalanya yang terluka, tanpa sengaja. Membuat lukanya sedikit terbuka dan cairan merah merembes di sana.
"E-eh? Len berdarah lagi Len!" pekik Andre, bangkut dari duduknya dengan gelagat panik.
Tapi dengan tenang Ellen malah mengambil tisu dan meletakkan lembaran putih itu di atas lukanya, membuat cairan merah merembes di sana dengan baik.
"Panggilkan dokter gih. Gue pusing lagi!" ucap Ellen, meminta.
Dengan secepat kilat Andre keluar dari sana dan tak sengaja berpapasan dengan Steven, yang ada di depan pintu masuk.
Sepertinya hendak mengetuk pintu, tapi niat itu dia urungkan karena Andre sudah terlebih dahulu membuka pintu.
"Kenapa lo?" tanya Steven, melihat wajah pucat dan ekspresi panik yang di tunjukan lawan bicaranya.
"Ellen berdarah, gue cari dokter dulu!" jawab Andre, sambil mengambil langkah untuk meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Ellen menggeleng-gelengkan kepalanya ampun dan menatap wajah Steven yang masuk ke sana sambil menutup pintu.
"Lebay, kan?!" seru Ellen, langsung di sambut anggukan kepala dari Steven.
"Sini gue obati. Kebetulan gue bawa perban di tas," jelas Steven, berjalan mendekatinya sambil memindahkan tas ransel full muatan itu ke bagian depan dada.
"Makanannya buat lo." Steven mengeluarkan kotak P3K dari sana dan mulai mengobati luka Ellen dengan baik.
Seperti yang di harapkan dari mahasiswa kedokteran. Dia sangat cekatan dan tenang saat menghadapi situasi darurat.
"Di mana pasiennya?" tanya seorang dokter jaga, berjalan masuk ke dalam ruangan itu dengan muka bantalnya.
Jika di lihat dari kondisinya, sepertinya lelaki itu di bangunkan dengan paksa oleh para suster karena Andre. Jadi wajahnya yang mengantuk itu terlihat sangat jelas bagi Ellen dan Steven.
"Tidak ada luka yang besar, saya sudah mengganti perbannya. Anda bisa memeriksanya," ucap Steven, membuat sang dokter berfokus padanya.
"Oke, saya akan periksa keadaan pasien terlebih dahulu." Dokter itu berjalan mendekati mereka dan memeriksa keadaan Ellen.
Benar kata Steven, lukanya sudah di atasi dengan baik. Bahkan sangat rapi sampai membuat sang dokter memandang Steven dengan tatapan aneh.
Padahal seharusnya dokter itu menegur Steven karena sudah berlaku seenaknya pada sang pasien. Tapi sang dokter malah bermurah hati dan menyemangati Steven dengan tulus.
"Baik, senior. Semoga kita bisa bertemu lain kali!" ucap Steven, menundukkan kepalanya dan membiarkan sang dokter keluar dari ruangan itu.
Steven memandang ke arah Ellen, menatap apa yang tengah di lakukan wanita muda berusia 16 tahun itu.
"Bagaimana? Lo udah merasa baikkan?" tanya Steven, mendudukkan dirinya di tepi ranjang Ellen.
Ellen mengangguk singkat dan memandang kembali ke arah Andre yang kembali duduk di tempat semula, kursi samping ranjangnya.
"Gue udah baikkan, tapi kenapa lo datang lagi hari ini? Bukannya kemarin udah bareng sama anak-anak? Kenapa datang–"
"Jadi gue gak boleh datang nih? Gue datang juga bawa buah tangan, kenapa gue gak boleh jenguk?" tanya Andre, membuat Ellen merasa sedikit tidak nyaman dengan kehadirannya.
Steven hanya memperhatikan kedua remaja itu secara bergantian, tanpa melakukan apa pun. Dia murni hanya memperhatikan mereka sebagai penonton bukan sebagai memihak satu kubu.
__ADS_1
"Memang lo bawa apa sampai bisa sombong kayak gitu?!" celetuk Ellen, terlihat tidak senang.
Dari awal Ellen memang tidak suka dengan kehadiran Andre sih. Jadi, Andre pun dapat memahami perasaan dan gelagatnya yang selalu terlihat kesal saat berhadapan dengannya itu.
"Tuh ...." Andre menunjuk ke arah satu keranjang besar berisikan buah-buahan yang diletakkan di atas nakas, tempat berada di samping kanan ranjang Ellen.
Ellen dan Steven menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Andre. Dan mereka memang benar melihat keranjang besar berisi buah-buahan yang beraneka ragam.
"Lo gak punya pisau di sini? Kalau ada di mana? Sini gue kuupaskan," ucap Steven, beranjak dari tempatnya dan mencoba mencari pisau di beberapa laci yang ada di dekat sana.
"Sepertinya di simpan di bawah kolong meja sama Dika. Tadi pagi dia ke sini. Tapi bukan pisau deh, cuma cutter," ucap Ellen, memberi tahu.
Steven mengangguk dan menuju ke arah yang telah di tunjukkan Ellen. "Lo mau buah apa?" tanyanya, setelah menemukan benda yang dia cari.
"Apel aja deh, gue gak terlalu suka yang lain. Lo bisa bawa balik ke tempat kos lo, kalau mau." Ellen kembali menatap Andre yang tampak diam memperhatikannya.
Ellen menaikkan sebelah alisnya aneh. "Kenapa lo?" tanyanya, membuat Andre menggelengkan kepalanya pelan dan mencoba mengalihkan perhatiannya pada benda lain.
"Kemarin gue lihat mantan pacar lo di depan rumah lo." Steven berujar, membuat dua remaja itu terkejut bahkan ada yang sampai melebarkan matanya dengan tatapan tak ramah.
"Alden? Lo yakin, Bang? Kayaknya gak mungkin kalau anak itu bisa di sini. Dia kan udah pindah ke LA beberapa bulan yang lalu. Bahkan 2 hari yang lalu gue masih lihat foto dia di sana kok," ucap Ellen, seakan tak ingin mempercayai perkataan itu.
Tapi Andre yang mendengar percakapan itu hanya diam dan berusaha menahan rasa gejolak yang tak dia tahu penyebabnya ini.
"Jadi lo pernah punya pacar?" tanya Andre, membuat pembicaraan Steven dan Ellen berhenti seketika.
Ellen menoleh pada lelaki itu dan memperhatikan wajah Andre yang tampak kesal dan aneh. "Kenapa? Cemburu? Kemarin lo kan habis nembak gue?!"
Andre mengerutkan keningnya dalam dan menatap Ellen dengan tatapan tajam.
Keduanya saling beradu tatapan sengit beberapa saat. Seakan tak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya Andre menghela napas lelah dan malingkan wajahnya.
Tampak kesal, Andre hanya mencoba mencari pelampiasan ke arah lain dan berusaha tak mendengarkan pembicaraan Steven dan Ellen lagi.
Steven memicingkan matanya ke arah Andre yang terlihat bad mood di sana.
__ADS_1
"Hem ... roman-romannya gue mencium bau new bucin nih, hehehe ... perpaduan yang gak masuk akal. Tapi pasti tambah seru, hahaha!"