
"Ellen lo yakin enggak papa?" tanya Andre, mengawasi ketua kelasnya, yang terus menyeka darah dari hidungnya, tanpa mau di bawa ke UKS.
Ellen mengangguk dan meletakkan tumpukan tisu yang hampir menutupi mejanya, ke dalam kantung plastik kecil.
"Iya, gue gak papa kok. Memangnya kenapa? Hari ini gue kelihatan sakit banget? Padahal biasanya boro-boro ada yang perhatian, nawarin gue tisu aja enggak ada. Sekarang kalian kesambet apa nih? Sampai tiba-tiba perhatian?!" celetuk Ellen, kembali mengalihkan fokusnya pada buku pelajaran yang masuk terbuka di atas mejanya.
Andre dan Tama menatap ke mana fokus wanita itu jatuh, padahal dia lagi sakit. Tapi tetap masih mau belajar? Memang anak peringkat satu tidak bisa di sepelekan.
"Ya maaf, Len. Biasanya lo kayak gitu kan pas jam pelajaran. Mana ada anak di kelas kita bisa perhatian sama lo, kalau fokus anak-anak yang lain, udah tersita sama penjelasan guru? Ya mohon maap," celetuk Tama, menjelaskan.
Ellen memundurkan wajahnya sampai punggungnya bertemu dengan kepala kursi. Dia bersandar dengan kedua tangan yang sudah terlibat di depan dada, tanya tampak awas melihat dua teman lelaki yang duduk di bangku bagian depan mejanya.
"Kalian masuk buru-buru ke kelas, kan? Ada apa? Gak biasanya lo masuk terburu-buru kayak gitu, Tam. Kalau bukan ada informasi yang pengen lo tahu," ucap Ellen, seakan sudah hafal kebiasaan Tama.
Sedikit banyak, itu membuat Andre sedikit kagum dengan ketua kelasnya ini. Karena dari kemarin, saat dia terus memperhatikan Ellen, sepertinya wanita itu hafal dengan semua kebiasaan anak di kelasnya.
Tama mengukir senyuman tengil, tapi wajahnya tidak terlihat menyebalkan karena dia memiliki tipe wajah yang sangat tampan saat berekspresi apa pun.
Mungkin bagi Ellen, itu adalah satu-satunya hiburan sebagai ketua kelas karena memiliki teman-teman yang rupawan walaupun sikap mereka sangat merepotkan.
"Gue lihat ada banyak orang dari EO, yang datang dan pasang panggung di bagian halaman depan. Memang ada acara apa?" tanya Tama, menatap ketua kelasnya dengan tatapan lekat.
Ellen membulatkan mulutnya sambil mengangguk beberapa kali, tatapan wanita itu kembali fokus pada buku-bukunya. "Itu acara yang bakal dihadiri orang tua kita. Kedua orang tua kalian pasti udah dengar acara itu dan batal datang hari ini."
__ADS_1
Mendengar penjelasan itu, Tama langsung terdiam dengan menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak berani berbicara sepatah kata pun jika menyinggung tentang "orang tua". Apalagi di hadapan ketua kelasnya.
"Hem, kalau gitu Mama pasti udah tahu. Gue enggak harus bilang lagi sama orang tua, kan? Kalau besok ada acara?" tanya Andre, dengan wajah polosnya.
Lain halnya dengan Tama yang mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Andre. Dia langsung membulatkan matanya, menatap teman barunya dengan tatapan kesal, tapi lebih mengarah seperti memperingati.
Andre yang tidak paham dengan arti tatapan Tama, hanya diam dan berlagak tidak tahu tentang kode itu.
Tak bisa sebuah jawaban terlontar dari mulut Ellen, Tama yang tadinya terlihat marah dan kesal pada Andre, kini tiba-tiba terlihat lemas karena dia langsung menyandarkan punggungnya pada meja di belakangnya dengan tatapan sedih menuju ke arah Ellen.
"Ya, lo gak usah bilang kalau Mama lo lagi," jawab Ellen, dengan nada datar dan ekspresi tak acuh.
Tama menghela napas kesal. "Andre bego," batinnya, sedikit frustrasi dengan sikap Andre yang terlalu lugu. "Nanti pulang sekolah gue bakal bilangin deh."
Siapa lagi kalau bukan Lora dan Lena. Dua orang wanita yang memiliki nama hampir mirip, tapi wajah yang benar-benar berbeda.
Lora dengan kulit sawo matang dan wajah manis, sementara Lena memiliki kulit putih dan wajah cantik seperti boneka. Tubuh mereka sama-sama kurus dan cantik untuk dipandang, membuat siapa pun yang melihat keduanya merasa iri, walaupun penampilan mereka berdua terlihat sangat bentrok.
Ellen menggelengkan kepalanya ampun dan memasang headset di kedua lubang telinganya, hal itu karena dia berusaha berkonsentrasi untuk belajar dan tidak mengganggu kegiatan usil kedua teman perempuannya yang baru datang.
Ya, Ellen terlihat tidak suka keramaian. Tapi dia juga tidak pernah protes pada teman-teman yang berisik dan hiperaktif. Sebisa mungkin, dia tetap menghargai kebiasaan mereka dengan caranya sendiri.
"Len, tadi Emak gue titip ini sama lo!" celetuk Lora, memberinya sebuah kotak bekal yang sudah seperti kewajiban untuk Lora membawakan Ellen sarapan setiap pagi.
__ADS_1
Melihat kotak bekal menindih buku pelajarannya, Ellen yang baru memasang headsetnya kembali melepas kedua benda yang menutupi telinganya dan sedikit mendongak, untuk menatap wajah Lora yang berdiri di samping bangkunya.
"Makasih, Lor. Lain kali jangan bawakan gue makanan kaya gini lagi ya? Roti bakar udah cukup buat sarapan gue." Ellen memang mengatakan hal itu dengan wajah ketus, tapi tampaknya Lora tidak sakit hati dan malah memeluk ketua kelasnya dengan erat sampai dia merasa sedikit sesak.
"Apa cih?! Itu cuman masakan rumah, Emak gue yang buat sendiri. Bukan beli atau gimana-gimana. Lagian yang bungkusi juga gue sendiri, bukan Emak gue kok! Udahlah, stop minta gue enggak usah bawain bekal makanan buat loh. Makan aja kalau lagi gue bawain, oke?!" Lora melepaskan pelukannya dan menunjukkan dua jari yang membentuk bulatan kecil.
Ellen mendesah kasar dan menyimpan foto bekal itu ke bawah kolong mejanya. "Makasih."
Setelah dialog singkat itu, Ellen kembali memasang headsetnya dan kembali fokus belajar tanpa memedulikan keributan yang di sebabkan teman-teman sekelasnya, yang mulai berdatangan hilir-berganti.
Sementara tanpa disadari oleh Ellen, Andre masih duduk di tempatnya dan memperhatikannya dalam diam.
Entah sejak kapan kebiasaan itu berlangsung. Padahal dia bukan orang yang suka memperhatikan sekitar. Tapi untuk memperhatikan Ellen, entah kenapa Andre benar-benar betah. Apa karena dia unik? Atau Andre yang tidak paham dengan pemikiran, yang terlihat sok baik itu?
Bel berbunyi dengan sangat nyaring, membuat telinga menjadi pengang. Tanda pelajaran pertama akan segera di mulai. Tapi yang dilakukan oleh Ellen, bukan menata buku untuk pelajaran pertamanya tapi malah melihat sekeliling.
Andre mulai mengerutkan keningnya, kembali memperhatikan apa yang di lakukan ketua kelasnya tanpa seorang pun yang memedulikan kegiatan mencurigakan itu.
"Lo penasaran kenapa ketua kelas kita kayak maling? Celingal-celinguk gak jelas padahal barang yang enggak ada yang hilang?!" seru lelaki yang duduk di bangku sebelah Andre.
Andre menoleh padanya. "Apa?"
"Ketua kelas kita lagi absen anak-anak. Nanti kalau dia ada enggak lihat 1 orang aja, lo bisa lihat keributan apa yang bakal dia melakukan biar enggak ada seorang pun yang telat ikut pelajaran pertama di kelas ini!" jelas Ben, anak lelaki yang setengah bencong, walaupun sebenarnya dia bukan tipe lelaki yang bisa di remehkan.
__ADS_1
"Keributan? Memang keributan apa yang bisa di buat sama orang introvert kayak dia?" batin Andre, mulai menduga-duga.