
Pukul 09.00 malam ....
Ellen berlari kecil menuju ke rumahnya, dan saat dia sampai di kompleks perumahannya, dari ujung gang dia bisa melihat tempat orang temannya sudah berdiri di depan pagar rumahnya dengan ekspresi wajah bosan.
"Nah, tuh orangnya datang juga! Lama banget sih lo, dari mana aja?!" celetuk Sia, menata wajah Ellen yang cukup berpeluh karena terlalu lelah berlari dari tempat kerjanya ke rumahnya. Yang jaraknya hampir sekitar 1 km.
"Ah ... sorry, tadi ada pelanggan yang bawel banget pas gue mau tutup toko. Mangkanya gue terlambat. Maaf ya," ucap Ellen, sambil membuka kunci gerbang dan membiarkan keempat orang temannya itu masuk.
"Hahh ... masih ada aja ya pelanggan yang buat sibuk pegawai toko, ya?! Pasti lo kesal banget, kan?" ucap Grisel, memamerkan ekspresi sedih sambil memeluk pundak Ellen.
Ellen menggeleng pelan dan melepaskan pelukan Grisel dari bahunya. "Agak sih, tapi enggak capek banget. Kalian masuk aja dulu. Gue ke kamar dulu, ya? Mau mandi sama ganti baju. Gue agak gerah nih."
"Iya sana. Badan lo bau keringat banget sumpah," celetuk Sia, mengusir Ellen dari kerumunan mereka.
Sementara Agustin dan Dika, sudah duduk manis di sofa panjang yang ada di ruang tamu dan tidak berani masuk ke dalam rumah Ellen, seperti yang dilakukan dua teman perempuan mereka, Grisel dan Sia.
Walaupun mereka berempat sudah berteman cukup lama dengan Ellen. Tapi dari awal Agustin dan Dika tidak pernah bersikap tidak sopan kepada Ellen.
Terutama tentang izin masuk ke dalam rumah Ellen, lebih dari ruang tamu. Bagi mereka berdua, ruang tengah adalah batasan untuk mereka bisa masuk ke dalam rumah wanita yang tinggal seorang diri itu.
Mungkin jika Agustin dan Dika ingin pergi ke kamar mandi, itu pun mereka lakukan setelah meminta izin kepada pemilik rumah.
"Dik, lo bisa bantuin gue ambil piring enggak?" seru Sia, dari arah dapur.
Agustin dan Dika yang duduk tenang di ruang tamu sambil mulai mengerjakan soal-soal, kini menjadi bertukar pandang dan menatap bingung satu sama lain.
"Len, gue izin masuk ke rumah lo ya? Sia nih, ada-ada aja!" celetuk Dika, dengan suara yang sangat lantang.
Ellen keluar dari kamarnya dan mengangguk. "Masuk aja, Dik. Asal tangan lo gak panjang aja, gue gak papa kok!" celetuknya, mencibir.
__ADS_1
Dika hanya manyun dan segera bergegas pergi ke arah dapur untuk membantu Sia di sana.
Sementara Ellen turun ke lantai 1 dan duduk di ruang tamu bersama Agustin. Dan tak lama setelah itu, Grisel mendekat ke arah mereka setelah keluar dari kamar mandi ruang tengah.
"Lo belum makan kan, Len? Tadi gue pesan Go Food buat kita. Kita belum makan, dan gue pikir lo juga belum makan. Jadi gue pesan agak banyakkan dikit," jelas Grisel, sambil beranjak duduk di samping Ellen dan membuka buku pelajarannya.
"Ya, gue belum makan kok. Lo juga tahu, gue jarang makan malam karena malas masak," celetuk Ellen, mulai membaca barisan soal yang ada di halaman bukunya dan mulai mengerjakannya.
Grisel menganggukkan kepalanya dan menatap layar ponselnya yang berdering, karena ada telepon masuk dari ojek Go Food-nya.
"Gue ambil dulu di depan. Kayaknya orang yang sudah sampai. Gus, bantuin gue bawa dong. Gue pesan banyak nih!" ucap Grisel, langsung membuat Agustin bangkit dari posisi duduknya dan mengikutinya pergi keluar rumah.
Prang!!
Baru di depan pintu, tiba-tiba suara gaduh yang ada di dapur membuat tiga orang yang ada di ruang tamu menoleh ke arah belakang, arah di mana dapur rumah Ellen berada.
Tapi tidak ada yang menyahut dari dalam dapur. Adanya, Ellen malah berdiri dari tempatnya dan berjalan ke sana.
"Lo ambil pesanan lo aja, Sel. Gue yang bakal cek di dapur," ucap Ellen, berjalan pergi.
Grisel pun menurut, dan segera keluar rumah bersama Agustin untuk mengambil pesanan makanan mereka.
Ellen melihat satu piring pecah di dekat pantry dapur, dengan Sia dan Dika yang terduduk di lantai sambil memegangi kaki mereka yang berdarah.
"Lah? Kalian berdua luka?" tanya Ellen, melihat kedua temannya yang tersungkur di atas lantai sambil merintih kesakitan.
Sia dan Dika menoleh ke arah Ellen dengan tatapan sedih. Kepala mereka berdua mengangguk, seakan tengah mengadu kepada ibu mereka dengan menunjukkan ekspresi sok imut.
Ellen menghela napas kasar, berjalan mendekati salah satu laci dapur dan mengambil dua buah handuk putih, lalu melemparkan dua benda itu pada kedua temannya.
__ADS_1
"Jangan di biarkan darahnya jatuh ke lantai. Pakai itu buat perban sementara. Gue mau bersihkan pecahan piringnya, baru kalian nanti lewat," ucap Ellen, lalu berjalan pergi ke sudut ruangan.
Ellen mengambil sapu dan tembikar, membersihkan pecahan piring dari permukaan lantai sampai benar-benar bersih.
"Nah, sekarang kalian berdua boleh lewat." Ellen memberikan dua buah sandal rumah kepada dua orang itu dan membantu mereka berdiri.
Grisel dan Agustin datang lalu terkejut melihat keadaan kaki kedua orang temannya.
"Loh? Kenapa kok bisa berdarah?" tanya Grisel, mendekati Sia dan membantunya berjalan keluar dari dapur.
Agustin juga melakukan hal yang sama. Sia dan Dika dibawa ke ruang tengah, lalu di minta duduk di sofa panjang yang ada di sana.
Ellen mengambil kotak obat, dan bergegas pergi ke ruang tengah untuk menyusul teman-temannya
"Gak tahu tuh, tadi piring gue udah pecah pas gue ke sana! Haahh ... gak seharusnya gue biarkan dua kunyuk ini pergi ke dapur sendirian. Mana yang mereka pecahkan itu piring Mama gue lagi. Untung orangnya udah enggak ada, coba aja kalau masih ada! Oh udah jadi daging giling kalian berdua," celetuk Ellen, ketika membuat atmosfer di sekitar mereka menjadi suram.
Empat orang teman Ellen yang tadinya tidak merasa bersalah karena itu hanya piring dan mereka bisa menukarnya dengan yang baru. Kini setelah mendengar fakta tersebut, langsung terdiam kaku dengan kepala yang sudah menunduk dalam.
"Ma-maaf, Len. Habis tadi piringnya cantik banget. Jadi gue minta Dika buat ambilkan. Karena gak berdebu, gue cuci dulu. Eh kok tiba-tiba jatuh karena tangan gue licin. Sorry ya, Len," cicit Sia, dengan air mata yang sudah menggenang di permukaan matanya.
Ellen diam beberapa saat dan fokus mengobati kaki Sia dan Dika secara bergantian.
"Hemm ... gak usah terlalu terbebani. Malah gue berterima kasih sama kalian berdua. Kalau kayak gitu permasalahannya, gue jadi enggak merasa bersalah harus buang barang peninggalan mereka, kan? Karena lihat barang-barang seperti itu malah buat gue ingat terus sama mereka." Ellen menghela napas kasar, dan berkata, "Mau di buang banyak kenangannya. Mau di simpan rasanya berat. Jadi, thanks udah bantu gue buang barang tadi," papar Elen, tak terlihat sedih sama sekali.
"Hiks ... maaf, Len. Gue benar-benar gak sengaja. Sumpah," tangis Sia, memeluk Ellen yang tampak tegar, tapi pasti hatinya tetap terasa pedih, kan?
Ellen tersenyum sendu, balas memeluk Sia sambil menepuk-nepuk punggungnya. "It's oke, Si. Itu hanya kenangan. Cuma kenangan mereka kok ...."
Ellen menelusupkan matanya pada bahu Sia, menahan air mata yang nyaris terurai ke permukaan pipinya dengan usaha keras. "Gue gak papa."
__ADS_1