
"Gue mau ngomong! Serius banget ini. Mangkanya dengarkan."
"Hem ... mau ngomong apa?!" Ellen menatap Andre yang masih mempersiapkan diri, saat dia ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Ck ... lo jadi ngomong gak sih? Kalau enggak, gue mau balik sekarang!" cetus Ellen, dengan nada ketus.
"Gue suka sama lo!" ucap Andre, tak terduga.
Ellen membulatkan matanya terkejut, menatap lelaki itu dengan tatapan nanar. "Gak beres nih anak! Otak lu mampir ke mana? Lo gak salah bilang, kan?"
Andre memiringkan sedikit kepalanya. "Memangnya gue barusan bilang apa? Gue cuman mau minta maaf sama lo, kenapa lo jadi prasangka kayak gitu?!"
Ellen tidak bisa mengatupkan bibirnya, karena saking terkejutnya dengan kelakuan Andre.
Jelas-jelas Ellen mendengar Andre menyatakan perasaan suka padanya. Tapi kalimat kedua yang keluar dari mulut lelaki itu, malah membuat Ellen mengerutkan keningnya dalam dan menatapnya kesal.
"Terserah lo aja deh. Gue malas ngomong sama lo," cetus Ellen, berjalan pergi meninggalkan Andre yang masih tercengang.
Sementara tiga orang anak kelas mereka, malah berdiri di jarak 6 langkah dari mereka sambil menunjukkan ekspresi terkejut.
Tentu saja terkejut, mereka bertiga juga mendengar dengan jelas kalau Andre menyatakan perasaannya pada Ellen. Buktinya, Ellen sampai di buat kesal gara-gara sikap tidak jelas Andre.
Tapi ekspresi wajah Andre yang tampak tak bersalah, membuat ketiga orang itu menggelengkan kepalanya ampun dan menatap Ellen yang melalui mereka begitu saja, tanpa bertegur sapa terlebih dahulu.
Andre mendekat ke arah Tama, Sia dan Grisel yang sempat berlari mengejarnya, karena mengira Andre mengejar Ellen untuk mengajaknya ribut kembali.
__ADS_1
Tapi karena mereka bertiga malah melihat adegan tidak masuk akal, ketiganya hanya mampu diam di tempat sambil menunjukkan ekspresi terkejut.
"Kalian pada kenapa?" tanya Andre, membuat tangan Tama mengarah ke arahnya dan memukul kepalanya dari belakang. Plakk ....
"Heh goblok! Lo barusan bilang apa sama ketua kelas? Lo nembak dia? Yang benar aja lo jadi orang!" pekik Tama, malah membuat Andre menatapnya dengan aneh.
"Hah? Nembak? Gimana maksud lo? Gue nembak Ellen gitu? Kuping lo rada-rada ya. Ya kali gue nembak singa betina. Bukan malah di terima, adanya malah di makan abis gue adanya! Salah dengar kali lo," ucap Andre, sepertinya tidak sadar dengan apa yang sudah dia katakan kepada Ellen.
"Heh kutu! Kalau semisal Tama salah dengar. Berarti kita juga salah dengar dong. Lo gak punya otak ya?! Sampai gak bisa mengelola kata sebelum mulut berucap," sambar Sia, tampak judes dan julit.
Mungkin karena Andre baru saja menyatakan perasaan pada Ellen, pada sahabatnya! Mangkanya Sia di buat agak kesal karena itu. Apa lagi sekarang, Andre seperti pura-pura tidak menyadari kesalahannya.
"Lah, kenapa juga lo yang marah? Memangnya gue ngapain sih? Gue cuma mau bilang minta maaf sama Ellen. Enggak lebih! Gak mungkin gue suka sama anak itu. Tiap hari omongannya pedes banget kayak habis sarapan sama cabe! Ya kali gue doyan," pekik Andre, berusaha membela dirinya.
Tapi tiga orang di depan Andre saat ini, malah terlihat jauh lebih kesal dari sebelumnya. Dan Andre yang tidak menyadari kesalahannya, tetap tidak mau mengaku salah dan memilih untuk pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Kayaknya dia berani mengusik ketenangan ketua kelas. Bagaimana kalau kita beri pelajaran?!" celetuk Grisel, menoleh pada Sia dan Tama yang berdiri di sisi kananya.
Tama langsung menggelengkan kepalanya antusias. Dia menolak dengan tegas. Karena dia tidak ingin ikut campur masalah perempuan.
"Sorry aja nih, pren! Gue enggak mau ikut-ikutan kalau urusannya kayak gitu. Gue mending cari aman biar nggak kena marah sama Ellen. Coba kalian pikir baik-baik lagi deh. Sebentar lagi kita ulangan, jangan buat ulah macam-macam yang mengundang amarah Ellen! Lo juga tahu kan, akibatnya kalau buat anak itu marah?" papar Tama, sekedar memperingatkan.
Kedua wanita yang berdiri di sampingnya, tiba-tiba langsung terdiam dan seakan berpikir keras.
"Hem ... kayaknya kita memang gak bisa balas kelakuannya Andre deh, Si. Bener kata Tama. Bentar lagi kita ujian, lebih baik gak usah mancing emosinya Ellen! Gue lebih takut di depak dari klub belajarnya daripada gak belain Ellen gara-gara Andre," cicit Grisel, mengolah senyuman masam.
__ADS_1
Sia menghela napasnya susah dan membuang muka dari kedua temannya. "Ck ... surah kalian aja deh. Malas banget gue sama kalian berdua! Temannya kesusahan, kalian malah gak mau bantuin. Teman macam apaan tuh?!" pekik Sia, tampak jengkel.
"Lah malah ngambek dia," pekik Grisel, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ampun dan mengejar langkah Sia.
Begitu pula dengan Tama yang mengejar langkah kedua teman wanitanya itu, kembali ke kelas.
***
Steven menatap tak paham kelakuan pegawai perempuannya, yang terkadang menggelengkan kepalanya kuat dengan kening yang berkerut dalam, dengan tatapan aneh.
Setelah menyusun barang-barang, Steven berjalan mendekati kasir dan berdiri di depan Ellen.
Kedua tangan Steven sudah dia lipat di depan dada. Kedua matanya yang memicing, membuat lawan bicaranya mengerutkan kening semakin dalam.
"Kenapa lihat gue kayak gitu? Punya salah apa gue sama lo, Bang?!" celetuk Ellen, mulai mendisplay ulang beberapa kotak rokok yang sudah berkurang di rak yang ada di bagian belakang meja kasir.
"Aneh aja. Gue enggak pernah lihat lo kayak gini! Berpikir serius padahal enggak lagi megang buku. Kenapa? Lo punya masalah apa di sekolah? Loh gak mau ceritain masalah lo sama abang lo yang paling ganteng ini??" celetuk Steven, ke lewat pede.
Ellen memutar bola matanya malas dan berjalan pergi meninggalkan tempatnya. Masuk ke dalam gudang untuk mengambil beberapa kardus rokok yang harus di isi kembali.
"Kalau gue punya kenapa? Kalau gue enggak punya juga kenapa?" Ellen menatap wajah Steven dengan tatapan tak bersahabat. "Memangnya lo bisa bantuin apa kalau gue sampai cerita? Cuman kasih saran yang belum tentu lo juga bisa lakuin itu, kan?!" lanjutnya, malah membuat lawan bicaranya merasa sangat tidak nyaman.
"Lah anjir, padahal gue cuman mau bantuin doang. Kenapa malah gue yang kena sengak?! Sehat lo Mbak," celetuk Steven, mulai tampak sedikit kesal walaupun dia tidak memperlihatkan yang dengan jelas.
Berbeda dengan lawan bicaranya, yang malah menghindari tatapan Steven secara terang-terangan dan tidak menggubris setiap perkataannya.
__ADS_1
Mendenguskan napas kasar, Steven memilih pergi meninggalkan toko dan mendinginkan suasana hatinya. Dari pada dia mengajak bertengkar remaja labil yang sedang banyak pikiran.
"Huff ... untung di real life-nya, gue enggak punya adik perempuan! Kalaupun ada, ogah banget gue dekat-dekat. Adanya malah, belum punya anak aja, muka gue udah keriput!" pekik Steven, berjalan meninggalkan toko.