Head Of The Class

Head Of The Class
12. Upaya


__ADS_3

"Calon istri?!" tanya Ellen, membuat tiga orang lelaki yang berkumpul di ruang tamu menoleh ke arah tangga dan menatapnya dengan tatapan terkejut.


Lain halnya dengan Ellen yang tampak tenang, saat melihat posisi waspada yang di tunjukkan tiga orang lelaki berpakaian serba hitam itu.


"Ha, kalian sudah masuk ke rumah ini tanpa permisi. Dan kalian juga, yang memasang pertahanan sekuat itu. Hahaha, kalian baik-baik saja? Kalian takut pada gadis kecil berusia 17 tahun sepertiku??" Senyuman Ellen terbit dengan sempurna. "Memalukan. Padahal kalian sudah bertiga dan aku sendiri. Tapi kalian tetap waspada? Haha, memalukan sekali!" cibirnya, penuh tekanan.


Ellen sampai di lantai 1. Dia mendekati 3 orang lelaki itu dengan jarak yang semakin terkikis.


"Jika Anda sekalian mengatakan siapa yang meminta kalian datang kesini untuk mencari teman perempuan saya, mungkin saya akan membiarkan kalian bertiga keluar dari pintu itu tanpa luka. Tapi jika kalian tidak menjawab dan memilih perkelahian fisik, saya dapat pastikan ambulance yang menjemput kalian bertiga!" ancam Ellen, membuat tiga orang lelaki itu bertindak semakin waspada.


"Maaf karena kami telah masuk sembarangan, Nona. Kami menyusup ke rumah Anda karena ingin memastikan keberadaan seseorang. Jika Anda bisa bekerja sama dengan kami, kami juga tidak akan melakukan perkelahian fisik pada Anda. Tapi jika sebaliknya-" perkataan lelaki itu tergantung, sorot mata tajam sudah menyertai pandangannya. "kami akan melakukan hal buruk pada Anda!" tegasnya, tak kalah menakutkan dengan Ellen.


Lelaki tampan yang berdiri di tengah barisan, di antara kedua temannya itu, memang terlihat sedikit berbeda dari dua teman orang yang lainnya.


Wajahnya yang tampan dan sorot matanya yang dingin, memang membuat lawan bicaranya mudah mati kutu.


Tapi itu tidak berlaku kepada Ellen. Karena di dunianya yang keras dan menakutkan, tatapan seperti itu seakan menjadi makanan sehari-harinya.


Jadi bukannya terlihat takut, Ellen malah menertawakan ancaman dari salah satu musuhnya itu.


"Hahaha, lucu sekali. Yang menyusup ke rumah ini siapa, yang bersalah siapa, yang di ancam siapa? Koyol! Dari pada bekerja sama dengan kalian, lebih baik aku menghabisi kalian!" ucap Ellen, tampak dingin dan sadis.


"Majulah kalian bertiga. Aku bukan seorang gadis yang lemah sampai-sampai kalian harus mengalah saat kita berkelahi! Lepaskan semua kemampuan kalian, maka aku juga akan melakukan hal yang sama!"


Setelah mengucapkan hal itu, banyak suara yang membuat lima orang teman Ellen yang sedang tertidur, menjadi sedikit terganggu dan bangun dari tidurnya secara paksa.

__ADS_1


Satu persatu dari mereka keluar dari kamarnya masing-masing dan melihat apa yang terjadi di lantai 1.


Dan betapa terkejutnya mereka berlima, saat melihat Ellen sudah menunjukkan 3 orang lelaki berpakaian hitam dan mengikat kedua tangan ketiga orang lelaki itu dengan tali pramuka.


Dika dan Agustin, sebagai cowok langsung turun ke lantai 1 dan menghampiri Ellen dengan langkah cepat dan kesadaran yang di paksakan sadar sepenuhnya oleh otak mereka. Mengingat situasi di rumah itu sanggatlah genting.


Yani yang melihat wajah tiga orang lelaki berpakaian hitam itu, langsung terdiam kaku karena dia benar-benar tahu siapa mereka.


Sia dan Grisel, menoleh ke arah Yani yang tampak terdiam tanpa bisa merespons apa pun.


"Yan, ini orang-orang yang kejar lo?!" tanya Ellen, setengah berteriak dari lantai 1.


Yani mengangguk singkat dan segera turun setelah itu. Disusul oleh Sia dan Grisel, yang mengikuti langkahnya menuruni tangga.


"Lo gak papa? Gak ada yang luka kan, Len?!" tanya Dika, menatap tubuh Ellen dengan teliti dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Dika dan Agustin menghela napas lega, lalu pandangan kedua lelaki itu beralih pada tiga orang lelaki yang berhasil di lumpuhkan oleh Ellen dalam waktu beberapa saat.


Walaupun semuanya butuh proses, tapi untuk tubuh sekecil Ellen yang melawan tiga orang lelaki berubah dan bongsor, waktu yang digunakan oleh Ellen cukuplah singkat.


"L-lo yakin baik-baik aja? Lo lawan mereka sendiri? Berani banget," cicit Yani, mendekati Ellen dengan langkah ambigu.


"Ini salah satu alasan gue buat minta lo tidur di sini. Karena gue mengerti sedikit-banyak tentang ilmu pertahanan diri. Jadi menurut gue, dari pada di rumah sendirian dan di kawal yang kalau malam suka tidur karena kurang kerjaan. Mending lo menginap di sini karena setiap malam gue selalu bangun dan belajar, mungkin mata gue lebih awas dari dua satpam di rumah lo," papar Ellen, panjang-lebar.


Sia dan Grisel menghela napas panjang, jadi ini alasan kenapa Yani tiba-tiba dibawa pulang oleh ketua kelas mereka.

__ADS_1


"Bisa-bisanya ada kejadian kayak gini di rumah lo, Len. Dan bagaimana cara lo tahu kalau Yani di ikuti seseorang? Lo tahu sendiri atau ada anak yang bilang sama lo?" tanya Grisel, mulai menginterogasi Ellen.


Ellen menggidikkan tahunya samar dan berjalan mendekati telepon ke rumah yang ada di salah satu meja panjang, dengan lagi banyak yang ada di dekat televisi.


Dia memanggil polisi untuk datang ke rumahnya dan membawa tiga orang penyusup itu.


Sekitar 15 menit berlalu, para polisi baru datang dan berhasil membawa 3 orang pelaku masuk ke dalam mobil mereka.


Sementara 6 orang remaja yang kembali sendirian di rumah, sekarang tidak pergi untuk kembali tidur, melainkan duduk bersama-sama di ruang makan untuk berbicara.


"Karena kita semua udah tahu tentang masalah lo. Bisa enggak kira-kira lo ceritakan sisanya? Karena di sekolah, mungkin orang-orang seperti mereka bakalan balik buat awasi lo. Jadi ada baiknya, kalau anak-anak kelas juga tahu permasalahan lo, dan bantu buat jagain lo pas mau pulang sekolah. Terutama buat Dika, yang konteksnya satu perumahan sama lo. Mungkin pulang pergi ke sekolah, lo bisa bareng sama dia mulai besok," putus Ellen, berdiskusi.


Yani melirik ke arah Dika yang duduk di sampingnya. Tatapannya terlihat sedikit risik, tapi apalah daya? Dia benar-benar tidak bisa berkutik menghadapi masalah ini seorang diri. Terutama dirinya terbiasa di manja dan di jaga baik-baik oleh kedua orang tuanya.


Jadi saat kedua orang tuanya tidak berada di sini, dan dia mengalami masalah seperti sekarang, Yani benar-benar tidak berdaya.


"Em ... sebenarnya ada seseorang yang minta kedua orang tua gue buat terima lamarannya. Dia pengusaha besar, lebih besar dari perusahaan kedua orang tua gue. Tapi umur lelaki itu hampir terpaut 50 tahun dari gue. Lo bisa bayangkan sendiri, kan? Gimana perasaan kedua orang tua gue kalau sampai terima lamaran itu buat anak perempuan satu-satunya mereka."


Yani menundukkan kepalanya, setelah menjelaskan hal tersebut kepada teman-temannya, air matanya mulai tampak di permukaan mata dan Sia, Grisel dan Ellen terdiam dengan mulut yang tertutup rapat.


Tidak ada yang menyangka permasalahan Yani sanggatlah serius. Karena mereka kira, gadis itu sedang di kuntit oleh orang mesum yang sampai menyewa beberapa orang untuk menculiknya.


Tapi siapa sangka, kalau permasalahannya seperti ini? Dan yang bisa dilakukan oleh Ellen, sebagai ketua kelas yang mendapatkan tanggung jawab besar untuk menjaga anak-anak kelasnya, tentu dia akan memutar balik otaknya untuk memikirkan solusi yang terbaik untuk masalah Yani.


"Hem, gimana kalau mulai sekarang lo tidur di rumah gue aja? Setidaknya sampai kedua orang tua lo pulang?!" celetuk Ellen, membuat kelima orang temannya terkejut.

__ADS_1


"L-lo serius, Len?!!"


__ADS_2