Head Of The Class

Head Of The Class
14. Mood


__ADS_3

Ellen meletakkan barang-barangnya dan pergi ke arah kasir. Stand by di tempat itu sambil menunggu Andre selesai berbelanja.


Namun langkah Andre masih tertahan di depan pintu, tapi Steven mendekatinya dan mempersilahkan Andre untuk masuk ke tokonya.


"Silakan masuk, pelanggan!" pinta Steven, dengan ramah.


Andre yang mendapati sikap seperti itu, langsung tersenyum dan mengangguk kecil, lalu berjalan masuk ke dalam toko untuk memilih beberapa barang yang di minta sang ibu untuk membelinya.


Andre memilih barang dengan cepat, lalu membawanya ke kasir dan berdiri tepat di hadapan Ellen yang sudah memasang wajah dingin.


"Maaf, lo pasti enggak nyaman gue tiba-tiba ke sini. Rumah gue di kompleks sebelah, baru aja pindah kemarin sore. Mangkanya gue ke sini buat belanja. Gue bukannya-"


"Hahh ... memang gue ngomong apa?" sambar Ellen, memotong perkataan Andre.


Benar saja, Andre langsung diam dan memandangnya dengan tatapan masam. Ellen memang tidak berucap apa pun, tapi Andre malah berbicara banyak hal dan membuat dirinya malu sendiri.


"O-oh ... sorry." Andre menutup mulutnya, segera membayar barang belanjaannya dan berlari keluar toserba sambil membawa barang-barangnya.


Wajahnya sudah memerah karena malu. Siapa juga yang tidak malu kalau berada di dalam situasi Andre? Dia pasti malu sampai-sampai ingin menyembunyikan wajahnya dibalik semak-semak gurun.


"Akh! Bego banget! Gue bego!" jerit Andre, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan berlari keluar toko.


"Datang lagi," sapa Steven, saat berhadapan langsung dengan Andre yang melewati dirinya begitu saja, dengan langkah secepat kilat.


Begitu Andre keluar dari tokonya, Steven yang sudah mati-matian menahan tawa. Kini tertawa terbahak-bahak dan membuat wajah Ellen semakin terlihat jutek.


"Hahh ... bisa enggak sih enggak usah di ledek? Padahal gue enggak maksud buat dia malu, tapi mulut gue yang otomatis judes kalau sama orang-orang sekolah, gak pernah bisa di kontrol!" keluh Ellen, menghela napas kasar beberapa kali dan berjalan keluar dari arena kasir.


Dia mulai melanjutkan pekerjaannya di bantu oleh Steven, selayaknya mereka bekerja setiap hari.


Steven memang masih muda, video baru berusia 21 tahun. 4 tahun lebih tua dari Ellen. Tapi jangan salah sangka, Steven sudah memiliki empat cabang toserba yang tersebar di kota. Dia cukup kaya, tapi tidak pernah pelit.

__ADS_1


Bahkan sekarang dia bekerja seorang diri di tokonya sendiri. Dan hanya memperkerjakan satu karyawan, yaitu Ellen.


Itu pun karena dulu, kedua orang tua Ellen adalah kenalan orang tuanya. Mungkin jika tidak, dia tidak akan pernah memperkerjakan karyawan di tokonya yang ini.


Jadi saat kedua orang tua Ellen sudah berpulang, Steven meminta Ellen bekerja bersama dengannya. secara pribadi.


Itu Steven lakukan agar Ellen tidak pernah kesepian walaupun dia di tinggal sebatang kara di tempat seluas ini. Ini salah satu upaya Steven untuk menjaga Ellen.


"Hahaha ... lo lihat tadi? Muka teman lo benar-benar lucu konyol banget sumpah wkwkwk."


Ellen yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya pelan, dan fokus menyusun barang-barang sebelum dia pamit pulang.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.30 malam.


Satu persatu teman Ellen mulai berdatangan ke rumahnya dan membuat dua bodyguard yang di perkerjakan Ellen mulai hari ini, langsung menghampiri mereka di depan gerbang dan menanyakan identitas mereka masing-masing.


"Eh? Kenapa juga di rumah Ellen ada bodyguardnya? Perasaan kasih pun gak ada bodyguardnya, keamanan di lingkungan rumah ini juga sudah cukup buat melindungi Yani di rumah. Ada-ada aja deh," cetus Dika, saat melihat Thomas dan Zero berjalan ke arahnya.


"Saya teman sekolah Ellen, Tuan Thomas, saya sempat di bilangin sama Ellen lewat chat kalau ada dua bodyguard yang bakal menjaga rumah. Dan dia juga mengirimkan foto kalian berdua," jelas Dika, sambil menunjukkan isi chatnya dengan Ellen.


Thomas mengangguk mengerti dan mempersilahkan Dika untuk masuk. "Baik, teman saya akan mengantar Anda ke dalam rumah."


"Oke, terima kasih." Dika berjalan masuk ke dalam rumah, bertemu dengan Yani yang ternyata sedang di dapur untuk memasak sesuatu.


Tapi Dika tidak masuk ke dalam dapur, melainkan stand by di ruang tamu sambil menegur Yani dari tempatnya.


"Lo mau makan malam, Yan?!" celetuk Dika, membuat Yani menoleh sejenak arah ruang tamu melihat siapa yang berdiri di sana.


"Eh, lo udah datang, Dik! Yang lain mana? Masa lo sendiri yang datang?" celetuk Yani, sambil berjalan ke arah depan dengan membawa mangkuk mie-nya.


"Kalau lo tanya Agustin, mungkin dia masih jemput Tama sama Andre. Hari ini kita bakal ada tugas kelompok juga, dari ekstrakurikuler mading," jelas Dika, sambil menyaksikan Yani duduk di atas karpet dan meletakkan mangkuk di atas meja.

__ADS_1


Yani mulai makan sambil mendengarkan penjelasan Dika dengan saksama.


"Hem? Tapi perasaan gue, ketua kelas kita bukannya ikut ekstrakurikuler PMR ya? Kok tiba-tiba jadi ke ekstrakurikuler mading? Anak-anak minta bantuan buat selesaikan tugas itu ke ketua kelas?" tanya Yani, sambil terus menyuapkan makanannya ke dalam mulut.


"Iya, si Tama sama Agustin kan ada di klub itu. Karena mereka enggak terlalu bisa nulis tulisan cantik, jadi mereka mau minta tolong sama ketua kelas. Lo juga tahu sendiri bagaimana bagusnya tulisan Ellen, kan?" ucap Dika, menjelaskan.


Yani mengangguk mengerti, seraya melihat seorang perempuan masuk ke dalam rumah tersebut dan bergabung bersama mereka.


"Ohhh ... iya gue tahu. Tulisan Ellen memang benar-benar bagus sih. Wajar aja kalau mereka minta tolong ya ke dia," sahut Yani.


Kedua mata Dika dan Yani sama-sama memandang Sia yang baru saja duduk dengan mood yang tidak karu-karuan.


Ekspresi wajahnya sudah jutek dan tatapan matanya terus mengarah ke ponsel. Bahkan saat datang, Sia sama sekali tidak menyapa mereka berdua.


Fix, pasti ada masalah yang terjadi pada Sia. Karena mood gadis itu benar-benar buruk.


"Nah? Kok baru kalian aja? Yang lain ke mana?" tanya Ellen, membuat tiga orang yang ada di ruang tamu langsung melihat ke arah jam tangan mereka dengan spontan.


Ini belum jam 09.00 malam. Tapi alam sudah pulang. Wajar saja, kalau respons mereka begitu.


"Gak tahu nih, biasanya 08.30 juga pada udah kumpul. Ini kenapa semua pada telat? Gue juga enggak tahu. Tapi kalau Tama sama Andre, katanya mereka masih di jalan sih. Sambil beli barang-barang yang mau dibuat mading."


Ellen mengangguk mengerti dan perhatiannya jatuh pada Sia. "Nah, kenapa mulut lo monyong terus? Lo ada masalah? Jangan di bawa kesini, nanti mood anak-anak juga jadi ikut jelek!" ketusnya, tapi sambil melemparkan sebuah roti yang menjadi kesukaan Sia.


"Makan aja itu. Terus jangan ganggu konsentrasi anak-anak hari ini. Minggu depan kita ulangan! Jadi, jangan cuma gara-gara tengkar sama pacar, ulangan lo jadi kacau semua!" tegur Ellen, tidak mendapatkan respons dari Sia.


Sia hanya diam dan memakan pemberian Ellen, tanpa melihat wajah Ellen yang terus mengawasinya dengan tatapan lelah.


Ellen menghela napas lelah. "Ya udah kalo gitu. Gue naik ke atas buat ganti baju dulu ya?!"


Dan ketiga orang itu hanya mengangguk dan membuka bingkisan yang di letakkan Ellen di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2