
Sesuai perkataan Ellen kemarin, dia akan menampung Yani selama kurang lebih 1 minggu. Dan sekarang mereka berdua sedang berada di rumah Yani.
Ellen duduk di salah satu sofa ruang tamu, kini dia sedang menunggu Yani yang tengah membereskan barang-barangnya di kamar.
Rumah itu benar-benar sangat sepi. Hanya ada dua satpam yang menjaga di depan rumah, tanpa ada pembantu atau tukang kebun yang menjaga area dalam rumah.
Menghela napas kasar, Ellen mulai tampak bosan menunggu Yani yang tidak kunjung selesai membereskan barangnya. Padahal waktunya untuk pergi bekerja kurang dari satu jam. Belum nanti perjalanan mereka dari rumah Yani ke rumah Ellen, sudah mau makan waktu hampir 30 menit.
"Maaf Mbak, kalau boleh tahu Anda mau membawa nona Yani ke mana ya?" tanya seorang satpam, yang menyajikan teh untuk Ellen.
"Mulai hari ini Yani mau menginap di rumah saya, Pak. Dia sudah izin kepada orang tuanya. Jadi saya rasa tidak ada masalah," jelas Ellen, mendapat anggukkan kecil dari satpam tersebut.
Tak lama setelah itu Yani turun dari lantai 2, dengan membawa sebuah tas besar sampai dia kesulitan untuk membawanya menuruni tangga.
Pak satpam yang melihat hal itu, langsung bergegas mendekati Yani. "Biar saya saja, Non."
Yani mengangguk sambil berterima kasih. "Oke, makasih, Pak. Tolong bawa ke mobil taksi yang ada di depan ya?!"
"Baik, Non."
Yani mendekati Ellen yang masih duduk di sofa ruang tamu dan berusaha menghabiskan teh yang di suguhkan pak satpam.
"Sudah selesai? Sekarang kita bisa berangkat, kan? Kayaknya 40 menit lagi lo harus berangkat kerja deh. Sorry kalau gue agak lama," cicit Yani, merasa sedikit bersalah.
Ellen hanya menggeleng, dan segera bangkit dari posisinya. "Gak papa. Gue paham kok, barang lo sudah masuk semua, kan?"
__ADS_1
"Udah kok. Gue enggak bawa banyak cuman buat beberapa buku pelajaran sama satu sepatu buat sekolah. Bajunya juga enggak banyak, jadi satu lemari udah cukup."
Mendengar penjelasan itu dari Yani, Ellen hanya mengangguk dan berjalan pergi bersama gadis itu keluar dari rumah tersebut.
Keduanya naik taksi menuju ke rumah Ellen terlebih dahulu. Lalu Ellen memberitahu kamar yang akan di gunakan Yani, barulah dia akan berangkat bekerja dengan motornya.
Ellen keluar dari rumah di ikuti Yani. Yani berdiri di depan garasi dan melihat Ellen yang mengeluarkan motor dari sana dengan sabar.
"Gue berangkat dulu ya. Nanti jam 09.00 gue pulang dan anak-anak pasti udah di sini sekitar setengah delapan. Mereka memang suka kerajinan, tapi karena ada lo. Mungkin jam 08.00 atau jam 07.00 mereka udah datang. Bukakan pagar aja nanti. Tadi gue udah beli beberapa bahan makanan di kulkas, kalau lo lapar, tinggal masak sendiri. Kalau sekedar masak mie instan lo bisa, kan?" ucap Ellen, sambil memasang helm di kepalanya dan mendekati gerbang yang masih terbuka.
"Iya. Gue bisa kok, btw makasih ya. Sorry kalau gue ngerepotin terus."
"It's oke, Yan. Gue ketua kelas lo. Udah tanggung jawab gue memastikan semua murid yang ada di kelas belajar dengan nyaman. Jadi masalah kayak gini 'mungkin' juga urusan gue. Selama lo mau dibantu dan gue bisa bantu aja sih," celetuk Ellen, sambil menekan kata 'mungkin' di tengah-tengah kalimatnya.
Baru saja ingin menjalankan motornya pergi dari pekarangan rumah. Tapi sebuah mobil hitam yang cukup meninggalkan kesan mendalam pada dua gadis itu, berhenti di depan rumah Ellen.
"Selamat sore, Nona. Maaf kalau kami sedikit terlambat. Saat di kantor, kami memiliki beberapa ke pekerjaan. Jadi sebelum di pindahkan ke sini, kami sedikit mengalami kendala karena ada perubahan jadwal. Mohon maafkan kami," ucap salah satu di antara kedua lelaki itu, menundukkan sedikit badannya sebagai bentuk rasa sopan kepada atasannya, saat mereka meminta maaf.
Ellen mengangguk singkat dan menoleh ke arah Yani yang sudah membeku di tempatnya. Seakan takut, karena masih trauma dengan kejadian kemarin.
"Ah, dua orang yang aku pekerjaan untuk menjaga rumah. Alih-alih satpam, mungkin bodyguard lebih aman," jelas Ellen, sambil menatap Yani. "Nanti sekalian berdua silakan perkenalkan diri ke Yani. Saya sekarang harus buru-buru berangkat ke tempat kerja sebelum dimarahi bos," celetuk Ellen, pada dua bodyguardnya itu.
"Baik Nona, hati-hati di jalan!" ucap keduanya serempak.
Setelah mendengar salam itu, Ellen bergegas berangkat bekerja dan meninggalkan rumahnya. Meninggalkan dua orang pengawal dan Yani di rumah miliknya itu.
__ADS_1
Dua orang bodyguard yang dikerjakan Ellen, kini sudah menatap Yani yang masih membeku di tempatnya.
"Maaf, Nona. Karena sepertinya Anda masih sedikit trauma tentang kejadian kemarin, kami tidak akan dekat-dekat dengan Anda. Perkenalkan, nama saya Zero dan ini Thomas." Lelaki bermata sipit itu memperkenalkan diri, dan sekaligus memperkenalkan teman yang berwajah bulenya kepada Yani.
Yani menelan ludahnya susah dan mengangguk singkat. "Baiklah, nama saya Yani. Salam kenal. Kalau begitu saya masuk ke rumah dulu untuk berberes.
"Baik, Nona. Selamat beristirahat," ucap lelaki bernama Thomas, mempersilahkan Yani pergi.
"Fuhhh ... Ellen sampai bisa memperkerjakan 2 orang bodyguard dari perusahaan elite. Apa dia benar-benar sekaya itu? Tapi kenapa dia malah memilih bekerja di toserba? Alih-alih menjadi direktur utama termudah di perusahaannya?" Yani mulai menimbang-nimbang tentang seberapa anehnya latar belakang ketua kelasnya. "Hem, ketua kelas memang tidak pernah membuat seseorang berhasil menebak pikirannya," batinnya, bergumam.
***
"Jadi di rumahmu sudah ada orang? Salah satu anak kelas lo?" tanya seorang lelaki, yang biasanya menemani Ellen saat shift malam.
Ellen mengangguk, menatap Steven yang sedang menyusun barang-barang di rak toko sama seperti dengannya.
"Pasti sangat merepotkan, iya kan? Dulu pas gue masih kuliah, banyak teman-teman gue yang sering menginap di kosan. Hah ... dan lo tahu rasanya?" Steven menatap Ellen yang menoleh ke arahnya dengan tatapan datar. "Sengsara! Gue yang bayar kosan tapi mereka yang tidur di kasur sementara gue tidur di lantai? Gak masuk akal banget keles!" pekiknya, dengan nada lebay melambai
Ellen yang mendengar itu langsung tertawa terbahak-bahak. Membuat seseorang yang baru saja masuk ke dalam toserba tempatnya bekerja, langsung berhenti di depan pintu dengan tatapan terkejut.
"Selamat datang," ucap Steven, menyambut kedatangan pelanggan yang baru saja datang.
Tapi saat Ellen menoleh dan melihat lelaki yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan terkejut itu, senyuman Ellen yang tadinya terlihat sangat cantik, kini tiba-tiba menghilang dan dia langsung menunjukkan ekspresi wajah datar, selayaknya dia berekspresi saat di sekolah.
Steven yang melihat perubahan itu langsung paham, jika orang yang ada di depan pintu toserba mereka adalah teman sekolah Ellen.
__ADS_1
Karena yang Steven tahu, Ellen benar-benar menjadi orang yang sangat dingin saat berhadapan dengan teman-teman sekolahnya.
Seakan sengaja menyembunyikan identitasnya dari orang lain, Ellen bak seekor landak yang bersembunyi di balik sikap dinginnya.