
"Hai, sorry kalau gue terlambat lagi hari ini. Tadi gue beres-beres dulu di toko. Ayo masuk, gue bawa ayam goreng buat kalian."
Ellen membuka pintu gerbangnya dan membiarkan keempat orang temannya masuk, sementara Yani masih diam di depan pintu gerbang sambil melihat rumah besar yang tidak dia sangka-sangka.
Rumah itu cukup besar, dan memiliki tiga tingkat. Halamannya juga cukup luas dan terawat. Karena itulah, Yani menahan langkah di depan pagar dan melihat rumah itu dengan tatapan tidak percaya.
"Haha, lo pasti kaget karena rumahnya besar, kan Yan?!" Sia berucap dan membuat Yani menoleh ke arahnya dan mengangguk singkat. "Dulu pas pertama kali gue datang ke sini, gue juga kaget. Tapi sekarang udah enggak kaget lagi, hehehe. Udah ayo masuk! Sekarang sudah malam, enggak enak juga kalau dilihat tetangga!" ajaknya, berjalan ke arah Yani dan menggandengnya masuk ke dalam rumah.
Setelah teman-temannya masuk, Ellen kembali menutup gerbang dan mengikuti langkah teman-temannya ke dalam rumah.
Seperti biasa, Ellen izin untuk pergi ke atas dan membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum mereka belajar bersama.
Yani duduk di atas karpet berbulu, bersanding dengan Agustin yang duduk dengan tenang di samping Dika, yang sudah memulai belajar lebih dulu.
"Rumahnya besar banget, ya?!" celetuk Yani, masih tidak henti-hentinya melihat sekitar.
"Iya. Rumah Ellen memang besar. Cuman rumah ini yang satu-satunya dia punya. Tapi sebenarnya, Ellen masih punya perusahaan yang berjalan sampai hari ini. Itu juga karena Ellen yang menjalankannya," jelas Sia.
Sia mengulas senyuman masam dan menatap Yani yang terkejut saat mendengar perkataannya.
"Yah, di saat kita masih belajar tentang ekonomi dan bisnis. Di usia yang sama, bahkan mungkin jauh lebih muda dari kita yang sekarang! Ellen sudah terjun ke dunia keras itu seorang diri. Hebat, kan? Mangkanya gue sedikit paham kenapa dia bisa relakan rangking di sekolah buat kita. Dan dapat kepercayaan yang luar biasa dari orang tua kita. Gue gak terlalu paham dengan pola pikirnya, tapi menurut gue, dia tetap keren walaupun agak sombong!" tungkas Sia, di sertai dengan senyuman miring yang terlihat sedikit naas.
"Wah ... gue enggak tahu kalau dia orang yang menakutkan. Gue cuman pikir kalau dia anak yatim piatu dan terjadi toserba dekat sekolah kita. Gue benar-benar gak menyangka, kalau Ellen punya latar belakang yang luar biasa!" celetuk Yani, seakan sulit menerima fakta itu.
"Kalian mau minum apa? Kayaknya tadi di lemari es cuman ada jus jambu dan stroberi. Gak ada cola. Gak papa, kan? Kalau mengantuk, nanti gue buatkan kopi deh," ucap Ellen, sambil menuruni anak tangga dan berusaha mengeringkan rambutnya masih setengah basah.
__ADS_1
Kelima orang yang ada di ruang tamu, spontan menoleh ke arah datangnya suara dan melihat Ellen yang sudah sampai di dapur.
"Air putih saja tidak apa, Len. Lo enggak usah repot-repot," celetuk Dika, hanya mendapat anggukkan kecil dari Ellen.
"Oke sekarang waktunya belajar. Jangan bahas hal-hal yang lain lagi. Tapi pertanyaan terakhir, kenapa lo ikut Ellen sampai ke rumah? Tumben banget?!" tanya Grisel, membuat tiga orang teman yang lainnya penasaran dengan alasan itu.
"Malam ini Yani bakal tidur di sini. Ada beberapa alasan yang gak bisa dia katakan dan gue bilang sama kalian. Jadi jangan coba keretanya tentang itu," sahut Ellen, dari dapur.
Sia, Grisel, Dika dan Agustin yang mendengar hal tersebut, langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi rumah masing-masing.
Benar apa kata Ellen. Pasti keempat orang ini akan ikut tidur di sini saat mendengar Yani di izinkan menginap.
Yani sedikit salut dengan kelebihannya yang mengerti baik buruknya anak-anak sekelas. Walaupun tidak dekat dengannya, tapi Yani sadar dengan benar kalau Ellen juga bisa mengerti dirinya dengan baik.
Bahkan sekarang ini, Ellen membantunya tanpa mengharapkan pamrih.
"Ya, boleh aja. Lagian kamar di rumah gue banyak. Makin rame makin bagus buat Yani," ucap Ellen, mendapat anggukkan singkat dari Yani.
Pukul 01.00 dini hari ....
Alarm di kamar Ellen berbunyi dan membuat penghuni kamar bangun dan mematikan alarm tersebut.
Tanpa memanjakan tubuhnya, Ellen bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati meja belajar.
Ellen duduk di sana, membuka diri jendela yang ada tempat di atas meja belajarnya dan melihat langit yang masih gelap di luar sana.
__ADS_1
Pemandangan malam selalu menjadi tempat ternyaman untuk Ellen. Dia suka malam, apa lagi kalau ada hujan. Karena dengan adanya suasana itu, belajarnya akan benar-benar terasa nyaman.
Tok ... tok ....
Seseorang mengetuk pintu dari luar, membuat kerutan di kening Ellen hadir dengan samar.
Sayup-sayup suara langkah kaki beberapa orang terdengar di luar kamar. Dan suara ketukan pintu tidak berasal dari pintu kamarnya saja. Melainkan semua pintu yang ada di dalam rumahnya, di ketuk dengan sengaja secara bergantian seakan memastikan apakah ada orang di kamar tersebut.
Ellen berjalan keluar kamar, memastikan apakah ada orang di dalam rumahnya atau tidak?
Mengingat teman-temannya tidur di rumahnya, Ellen tidak berpikiran negatif tentang penyusup yang masuk ke dalam rumahnya.
Di lantai satu, tiga orang lelaki tampak berkumpul. Tengah membahas sesuatu dan melepaskan topeng hitam yang menutupi seluruh wajah mereka.
Ellen menatap mereka secara terang-terangan dari balkon lantai 2. Tidak ada sedikit pun suara yang dia keluarkan. Dia hanya mendengarkan pembicaraan para lelaki itu dalam diam, sampai salah satu di antaranya menyadari keberadaan Ellen, tapi tidak memberi tahu kedua temannya yang lain.
"Bagaimana? Kalian mendengar suara Nona Yani? Aku yakin tadi malam dia masuk ke rumah ini dan tidak keluar. Harusnya kita mengecek semua ruangan yang ada di rumah ini dengan benar dan menemukan ya, kan? Kalau tidak, bos besar pasti akan marah. Bagaimanapun juga, kita di minta untuk mengawasi jalan istrinya."
"Calon istri?!" seru Ellen, berjalan turun ke lantai satu dengan ekspresi wajah tenang dan tampak tidak takut dengan tiga orang penyusup yang masuk ke dalam rumahnya.
Mungkin jika dia hanya gadis biasa yang lemah, dia kan bereaksi seperti Yani. Gemetar dan ketakutan.
Tapi lihatlah reaksinya yang begitu tenang seperti air itu. Biasanya orang seperti Ellen, bukan memusuhi yang patut lawannya sepelekan. Berapa pun umurnya! Perbedaan kekuatan fisik di antara mereka, biasanya benar-benar nyata.
Tiga orang lelaki itu menoleh ke arah Ellen dengan memasang tatapan waspada. Ya, mereka tahu kalau gadis yang berusaha menghampiri mereka bukankah siswi biasa.
__ADS_1
Langkahnya yang tampak tenang malah membuat tiga orang lelaki itu semakin waspada.
"Jika Anda sekalian mengatakan siapa yang meminta kalian datang kesini untuk mencari teman perempuan saya, mungkin saya akan membiarkan kalian bertiga keluar dari pintu itu tanpa luka. Tapi jika kalian tidak menjawab dan memilih perkelahian fisik, saya dapat pastikan ambulance yang menjemput kalian bertiga!"