Head Of The Class

Head Of The Class
17. Gue Mau Ngomong


__ADS_3

"Lah? Mading lu udah pada selesai? Punya kelas gue kok belum ya?' celetuk seorang siswa dari anak sebelah, menatap mading yang sudah di pajang di belakang kelas mereka dengan hiasan yang megah.


Walaupun itu buatan sendiri, tapi semua anak kelas XI-I mengakui kehebatan tangan Ellen yang sangat kreatif. Sampai-sampai bisa membuat mading sebagus itu, tanpa menggunakan pernak-pernik khusus.


"Hehe tangan si ketua kelas kan memang kayak gitu? Jos banget!" sambar Tama, dengan suara gembira sampai nyaris terdengar kedang bersorak.


Sontak anak-anak kelas sebelah yang mendengar hal itu, hanya mencibir kelakuan Tama.


"Dah lah, kalau gitu gue cabut dulu. Bye!" ucap mereka, dan segera pergi meninggalkan kelas tersebut.


Hanya diam sambil mengerjakan soal-soal, sudah menjadi kebiasaan Ellen setiap dia berada di kelas.


Andre yang duduk tepat di belakang bangku Ellen, sampai merasa jenuh melihat punggung Ellen yang terus membungkuk karena harus menatap meja.


"Hahh ... lo gak capek belajar terus?" celetuk Andre, sambil menendang kecil kursi Ellen dari belakang.


Ellen melepas headset yang menyumbat kedua lubang telinganya, dan menoleh ke arah Andre dengan kedua kening yang sudah berkerut.


"Apa sih lo?! Ganggu banget sumpah. Lo gak bisa biarin gue belajar? Pada gue enggak apa-apain lo, kenapa lo malah gangguin gue sih?!" julid Ellen, sambil membuang muka dari Andre.


"Padahal kemarin lo bisa senyum kayak gitu di depan Steven. Tapi kenapa setiap di sekolah lo malah pasang muka jutek? Lo ada masalah apa sama anak-anak di sekolah?!" tanya Andre, dengan suara yang sedikit lantang dan membuat Ellen menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.


"Bisa gak sih, lo gak usah bahas tentang kemarin?!" cetus Ellen, tampak tidak senang saat Andre menyinggung topik pembicaraan itu.


"Astaga, gue cuman tanya aja, Len. Kenapa lo ketus banget? Memang apa salah gue? Gue baru pindah satu bulan di sini, tapi lo udah perlakukan gue kayak musuh bebuyutan. Anjir, memang gue buat salah apa sama lo?!" celetuk Andre, membuat nada suaranya meninggi satu oktaf.


Ellen langsung menang para pipi Andre dan membuat teman-teman sekelasnya menoleh ke arah mereka dengan tatapan terkejut.


Sebab suara tamparan Ellen sanggatlah kuat, dan membuat kelas yang tadinya gaduh kini menjadi senyap.

__ADS_1


Andre memalingkan wajahnya, dia tidak terlihat kesakitan saat Ellen menampar pipinya sampai memerah.


Padahal kalau orang lain berada di posisinya, mungkin setidaknya air mata mereka akan menggenang di sudut mata. Tapi lihatlah ekspresi wajah Andre yang lebih terlihat kesal dari pada kesakitan.


"Len, lo gila? Kenapa lo tampar Andre?!" celetuk Sia, menegur kelakuan Ellen yang sudah kelewat kasar.


Tapi Ellen malah memandangnya dengan tatapan tajam nan menusuk, sebelum akhirnya berjualan pergi meninggalkan kelas dan membiarkan suasana kelas yang menjadi sangat canggung.


Ellen berjalan cepat ke arah taman belakang sekolah, yang tidak banyak di kunjungi para siswa.


Karena itu adalah taman lama dan beberapa bunganya sudah layu, jadi tidak banyak siswa yang bermain di sana. Mungkin hanya beberapa anak yang suka keheningan dan senang menyendiri seperti dirinya, saat sedang ingin menjernihkan pikiran, yang suka mampir ke tempat itu.


"Len? Kenapa lo di sini?!" tanya seorang lelaki dan perempuan, mendekat ke arahnya dengan tatapan bingung.


Awalnya kedua orang itu duduk di bangku taman yang ada, di sebelah bangku yang di duduki Ellen. Dan saat mereka berdua melihat Ellen muncul di sana, keduanya langsung berpindah tempat dan menghampirinya.


Ben dan Vina adalah anak kelasnya. Sama halnya seperti Ellen, kedua orang itu tidak suka keributan walaupun tampang mereka seperti orang yang sangat lugas.


"Lo ada masalah? Jarang banget gue lihat lo mampir ke sini," celetuk Ben, duduk di samping kanan Ellen.


"Kali ini siapa yang gangguin lo, Len?" tanya Vina, beranjak duduk di samping kiri Ellen.


Namun Ellen hanya menggelengkan kepalanya pelan, seakan tidak ingin menjawab pertanyaan itu.


Mungkin bagi Ellen, situasinya sudah sangat rumit. Dan dia tidak ingin mendapatkan pertanyaan yang lebih rumit dari dua pertanyaan itu, setelah Ellen menjawab yang pertama.


"Gak ada, gue enggak papa. Tapi bisa enggak kalian pergi aja? Gue benar-benar ingin sendiri," jelas Ellen, menatap kedua temannya dengan tatapan memohon secara bergantian.


Ben dan Vina saling bertukar pandang sebelum akhirnya menyetujui permintaan tersebut.

__ADS_1


Keduanya tidak banyak bicara lagi dan langsung pergi meninggalkan Ellen.


Ben menoleh ke arah belakang, menatap seorang lelaki yang berdiri di balik salah satu pilar dekat lorong, yang tengah memandang Ellen dari kejauhan.


"Kayaknya Ellen bertengkar sama si murid baru. Yah, wajar aja kalau si Andre enggak bisa memahami sikap Ellen yang kelewat jutek. Toh, karena dia enggak tahu masa lalu kelam Ellen!" celetuk Ben, di dengar dengan baik oleh Vina yang masih berdiri di sampingnya.


Vina menoleh ke arah yang tadinya di lihat oleh Ben. Dia memperhatikan Andre yang berdiri dari kejauhan dan terus memperhatikan Ellen.


"Hem, bagi orang baru kaya dia. Pasti kelakuan Ellen sangat menyebalkan!" sahut Vina, dan mengajak Ben segera pergi dari tempat itu sebelum mereka melihat keributan yang lain dan terseret ke dalamnya.


Andre menghela napas panjang, menata Ellen yang tampak berusaha mencerminkan pikirannya dan menenangkan diri.


"Gimana cara gue minta maaf sama dia, ya? Memang tadi di kelas salah gue sih. Tapi dia juga tampar gue. Perasaan kita impas." Andre menghela napas kasar beberapa kali dan kembali menatap Ellen. "Kalau aja Sia gak ikut campur sama kita tadi sih," sambungnya, tampak sedikit frustrasi.


Tanpa dia sadari, orang yang dari tadi dia intip tiba-tiba ada di depannya dan membuat Andre terkejut buka.


"Ngapain-"


"Waaa! Anjir gue kira setan. Kenapa sih lo tiba-tiba ada di depan gue?!" marah Andre, mundur beberapa langkah dan menjaga jarak di antara mereka dengan pasti.


Ellen memutar matanya malas, dan melewati Andre begitu saja.


Andre yang di tinggalkan, langsung menoleh dan mengikuti langkah wanita itu. "Heh ... heh ... gue ke sini buat samperi lo. Eh, lo nya malah pergi. Gimana sih lo, Len!" pekiknya, berusaha menyamakan langkah di antara mereka.


Ellen menoleh singkat ke arahnya sebelum menghentikan langkahnya secara mendadak.


Andre terlewatkan satu langkah, membuatnya harus mundur satu langkah agar posisi mereka menjadi setara.


Ellen menghela napas lelah, dan berkata. "Lo mau ngomong apa kau gue? Kalau lu enggak jelas, gue bakal pergi!" celetuknya, dan kembali berjalan dengan cepat, sampai membuat Andre harus menggenggam pergelangan tangannya, agar Ellen dapat berhenti.

__ADS_1


"Tunggu! Ya elah, lo yang minta gue ngomong tapi lo yang udah pergi duluan. Gue mau ngomong! Serius banget ini. Mangkanya dengarkan."


"Hem ... mau ngomong apa?!"


__ADS_2